JAKARTA - Perbankan diproyeksi tetap stabil pada awal tahun 2026 dengan tren positif.
Pertumbuhan kredit masih berlanjut, didukung likuiditas terjaga dan potensi penurunan suku bunga. Kebijakan makroekonomi menjadi faktor utama yang menentukan arah kinerja sektor perbankan nasional.
David Kurniawan, analis PT Indo Premier Sekuritas, menyebutkan arah suku bunga BI, nilai tukar rupiah, dan loan growth menjadi perhatian utama.
Investor asing juga memengaruhi pergerakan saham bank besar sepanjang awal tahun ini. Proyeksi kinerja perbankan akan menyesuaikan dengan dinamika makro dan kondisi pasar global.
James Stanley Widjadja dari Henan Putihrai Sekuritas memprediksi EPS perbankan akan pulih terbatas. Dorongan datang dari pengeluaran pemerintah yang dipercepat dan stimulus fiskal pro-pertumbuhan. Pertumbuhan pinjaman diperkirakan meningkat menjadi 8,9% pada 2026, naik dari 7,5% tahun sebelumnya.
Biaya Dana, NIM, dan Tantangan Kualitas Aset
Penurunan biaya pendanaan diperkirakan mencapai 10 bps seiring suku bunga acuan yang lebih rendah. Namun, bank menghadapi tantangan imbal hasil aset dan kualitas pinjaman. James memperkirakan NIM hanya meningkat terbatas sebesar 5 bps meski CoF cenderung naik.
Tekanan kualitas aset menjadi perhatian karena perlunya membangun kembali cadangan provisi. Cost of credit diperkirakan meningkat menjadi 1,5% di empat bank besar. Prediksi EPS 2026 untuk BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI bervariasi, dari -1,6% hingga 9,4% per tahun.
Budi Rustanto dari OCBC Sekuritas menekankan persaingan ketat memengaruhi imbal hasil pinjaman. Penurunan CoF diimbangi oleh likuiditas meningkat dari deposito pemerintah dan pelonggaran moneter. Kualitas aset tetap solid, dengan rasio Loan-at-Risk (LAR) lebih rendah, menandakan posisi modal kuat.
Segmen Pinjaman dan Strategi Bank 2026
Pertumbuhan kredit terutama didorong segmen grosir dan UKM, dengan penekanan pada pinjaman jangka panjang. Strategi ini memperkuat portofolio dan meminimalkan risiko default. Victor Stefano memperkirakan tekanan imbal hasil aset akan mengimbangi kenaikan biaya dana.
K-Shape recovery menunjukkan likuiditas dan daya beli terkonsentrasi pada segmen korporasi dan berpendapatan tinggi. Hal ini meningkatkan stabilitas pinjaman tetapi menekan margin bunga bersih. Bank perlu menyeimbangkan pertumbuhan kredit dengan risiko NPL dan persaingan ketat.
Meskipun demikian, sektor konsumer tetap menjadi pendorong tambahan pertumbuhan pinjaman. Dukungan fiskal dan stimulus moneter mendorong permintaan kredit usaha dan konsumsi. Perbankan mampu memanfaatkan tren ini untuk meningkatkan EPS secara moderat.
Proyeksi Saham dan Rekomendasi Investor
Berikut tabel rekomendasi saham dan target harga perbankan untuk 2026:
| Analis | Bank | Rekomendasi | Target Harga | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| James | BBCA | Buy | Rp10.000 | Kinerja stabil dan likuiditas tinggi |
| James | BBNI | Buy | Rp5.000 | Pertumbuhan kredit UKM positif |
| James | ARTO | Buy | Rp2.500 | Fokus pada segmen digital dan ritel |
| Budi | BBCA | Buy | Rp11.000 | NIM solid, modal kuat |
| Budi | BBRI | Buy | Rp5.000 | Dukungan fiskal dan ekspansi pinjaman |
| Budi | BMRI | Buy | Rp5.500 | Pertumbuhan kredit konsumer terjaga |
| David | BBCA | Buy | Rp10.000 | Prospek stabil, EPS meningkat |
| David | BMRI | Buy | Rp5.600 | Likuiditas terjaga, kualitas aset baik |
| Victor | BBCA | Buy | Rp10.800 | Fokus segmen korporasi dan grosir |
| Victor | BTPS | Buy | Rp1.600 | Strategi syariah dengan risiko rendah |
Rekomendasi ini mencerminkan ekspektasi pertumbuhan kredit dan stabilitas bank besar. Investor disarankan menyesuaikan portofolio dengan profil risiko masing-masing. Target harga menunjukkan potensi return moderat hingga tinggi.
Strategi Perbankan dan Panduan Investor
Bank besar menyesuaikan strategi untuk menghadapi tekanan suku bunga rendah. Peningkatan biaya kredit tetap dalam pedoman manajemen. Proyeksi EPS terbatas menandai peluang selektif bagi investor.
Likuiditas bank tetap tinggi dengan cadangan modal jauh di atas minimum regulasi. Segmen grosir dan konsumer menjadi fokus utama pertumbuhan kredit. Strategi ini mendukung stabilitas dan meminimalkan risiko default di tengah persaingan ketat.
Investor dianjurkan memantau perkembangan suku bunga, NPL, dan tren cost of credit. Penyesuaian portofolio secara selektif dapat memaksimalkan potensi keuntungan. Memahami dinamika sektor perbankan akan membantu pengambilan keputusan lebih tepat sepanjang 2026.