Update Harga Pangan 25 Januari 2026: Telur Naik, Cabai Turun

Minggu, 25 Januari 2026 | 10:53:32 WIB
Update Harga Pangan 25 Januari 2026: Telur Naik, Cabai Turun

JAKARTA - Minggu terakhir Januari 2026 menunjukkan pergerakan harga pangan yang beragam di tingkat nasional. 

Data Panel Harga Bapanas mencatat sejumlah komoditas utama, seperti beras dan cabai, mengalami penurunan, sementara harga telur ayam ras dan minyak goreng masih naik. Kondisi ini menjadi perhatian konsumen dan pelaku usaha karena memengaruhi daya beli serta biaya produksi.

Harga Beras Stabil Meski Ada Penurunan Minor

Beras tetap menjadi kebutuhan pokok yang menjadi sorotan utama. Beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) Bulog di tingkat konsumen berada di Rp12.338 per kilogram, masih dalam batas Harga Eceran Tertinggi (HET) nasional Rp12.500–Rp13.500 per kilogram. 

Beras medium non-SPHP dijual rata-rata Rp13.681 per kilogram, sedangkan beras medium berada di Rp13.097 per kilogram. Untuk beras khusus lokal, harga rata-rata nasional mencapai Rp14.814 per kilogram, sementara beras premium berada di Rp15.450 per kilogram.

Penurunan harga ini menunjukkan pasokan beras relatif stabil, yang menjadi kabar baik bagi konsumen menjelang beberapa pekan awal tahun. Namun, variasi harga antar jenis beras tetap terlihat signifikan, terutama antara beras medium dan beras premium.

Cabai Turun, Telur dan Minyak Goreng Naik

Harga cabai menunjukkan tren penurunan di tingkat nasional. Cabai rawit merah dijual Rp46.729 per kilogram, masih dalam rentang Harga Acuan Penjualan (HAP) Rp40.000–Rp57.000 per kilogram. Cabai merah keriting tercatat Rp30.119 per kilogram, lebih rendah dari HAP Rp37.000–Rp55.000 per kilogram, sedangkan cabai merah besar berada di Rp30.254 per kilogram.

Sebaliknya, harga telur ayam ras masih menunjukkan kenaikan. Dari HAP nasional Rp30.000 per kilogram, harga naik 1,86% menjadi Rp30.559 per kilogram. Harga daging ayam ras turun 7,26% dari HAP Rp40.000 per kilogram menjadi Rp37.096 per kilogram.

Harga minyak goreng, khususnya minyak rakyat Minyakita, masih diperdagangkan di atas HET Rp15.700 per liter, dengan rata-rata nasional Rp17.189 per liter. 

Minyak goreng kemasan berada di Rp20.243 per liter, sedangkan minyak goreng curah Rp17.117 per liter. Kenaikan harga minyak goreng tetap menjadi perhatian publik karena termasuk kebutuhan pokok rumah tangga.

Daging Sapi dan Kerbau: Penurunan yang Signifikan

Komoditas daging sapi murni juga mengalami penurunan harga secara nasional, berada di level Rp132.925 per kilogram atau turun 5,05% dari HAP Rp140.000 per kilogram. 

Harga daging kerbau segar lokal tercatat Rp120.000 per kilogram, sedangkan daging kerbau beku impor berada di Rp102.635 per kilogram. Penurunan harga daging sapi dan kerbau ini diharapkan dapat meringankan beban belanja rumah tangga, khususnya menjelang momen konsumsi protein tinggi.

Harga Ikan Stabil, Mendukung Konsumsi Protein Hewani

Harga produk perikanan menunjukkan stabilitas di pasar konsumen. Ikan kembung rata-rata dijual Rp41.278 per kilogram, ikan tongkol Rp34.156 per kilogram, dan ikan bandeng Rp32.515 per kilogram. 

Stabilitas harga ikan menjadi penting karena menyediakan sumber protein hewani yang cukup untuk masyarakat, sekaligus mencerminkan pasokan yang memadai di pasar lokal.

Bawang, Gula, dan Garam: Harga Masih Terkendali

Harga bawang merah di tingkat konsumen tercatat Rp38.541 per kilogram, berada dalam kisaran HAP nasional Rp36.500–Rp41.500 per kilogram. Bawang putih bonggol tercatat Rp37.647 per kilogram, sedikit turun dari HAP Rp38.000–Rp40.000 per kilogram. 

Gula konsumsi rata-rata nasional mencapai Rp18.062 per kilogram, sementara garam konsumsi berada di Rp10.989 per kilogram. Stabilitas harga komoditas ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama bagi keluarga yang mengandalkan bahan pangan pokok ini setiap hari.

Tepung Terigu, Jagung, dan Kedelai: Dinamika Harga Pangan

Tepung terigu kemasan dijual Rp12.404 per kilogram, sementara tepung terigu curah Rp9.411 per kilogram. Jagung pakan ternak mengalami lonjakan signifikan, naik 15,55% dari HAP Rp5.800 per kilogram menjadi Rp6.702 per kilogram. Di sisi lain, harga kedelai biji kering impor turun dari HAP Rp12.000 per kilogram menjadi Rp10.621 per kilogram.

Lonjakan harga jagung berpotensi memengaruhi biaya produksi peternakan dan industri pakan ternak. Sedangkan penurunan harga kedelai bisa menjadi peluang bagi industri pengolahan kedelai dan produk turunannya.

Tren dan Implikasi Harga Pangan

Pergerakan harga pangan nasional menunjukkan kombinasi tren penurunan dan kenaikan yang berbeda-beda untuk tiap komoditas. 

Penurunan harga beras, cabai, daging sapi, dan kerbau menunjukkan pasokan yang lebih stabil, sementara kenaikan harga telur dan minyak goreng menjadi tantangan bagi konsumen. Lonjakan harga jagung juga memberi tekanan terhadap biaya produksi ternak.

Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional terus memantau fluktuasi harga dan memastikan harga pangan tetap dalam batas HET dan HAP. Stabilitas harga pangan menjadi prioritas utama agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar tanpa terganggu oleh lonjakan harga mendadak.

Keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan menentukan pergerakan harga pangan ke depan. Konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah perlu bersinergi dalam menjaga kestabilan pasokan, sekaligus menyiapkan strategi menghadapi perubahan pasar dan potensi inflasi.

Terkini