Harga Batu Bara Terkoreksi Tipis Namun Tren Awal Tahun Tetap Positif

Jumat, 06 Februari 2026 | 10:26:14 WIB
Harga Batu Bara Terkoreksi Tipis Namun Tren Awal Tahun Tetap Positif

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara global mulai menunjukkan fase penyesuaian setelah mencatat lonjakan signifikan sejak awal tahun 2026. 

Komoditas energi fosil ini sempat melesat cukup agresif dalam beberapa pekan pertama Januari, seiring meningkatnya permintaan serta sentimen positif dari sejumlah negara konsumen utama. Namun, pada perdagangan terakhir, harga batu bara mengalami koreksi terbatas yang mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar.

Pada Kamis, 5 Februari 2026, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di level US$ 116 per ton. 

Harga tersebut melemah tipis sebesar 0,09 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Koreksi ini terjadi setelah harga batu bara mencatat kenaikan 1,22 persen pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026.

Meski turun terbatas, posisi harga batu bara saat ini masih berada di zona relatif kuat jika dibandingkan dengan level awal tahun. 

Sejak awal 2026 hingga perdagangan terakhir, harga batu bara tercatat telah menguat 7,91 persen secara year-to-date. Capaian tersebut menegaskan bahwa batu bara masih memiliki daya tarik tersendiri di tengah transisi energi global.

Koreksi Wajar Setelah Reli Harga

Penurunan tipis harga batu bara dinilai sebagai koreksi teknikal yang wajar setelah reli harga yang cukup kencang. Lonjakan harga sebelumnya dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari peningkatan konsumsi energi, keterbatasan pasokan di beberapa wilayah produsen, hingga kondisi cuaca yang memengaruhi rantai distribusi.

Koreksi harga ini juga mencerminkan aksi ambil untung (profit taking) oleh sebagian pelaku pasar setelah harga mencapai level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Dengan pergerakan yang relatif terbatas, pasar belum menunjukkan tanda pembalikan tren secara signifikan.

Batu Bara Masih Sulit Ditinggalkan Dunia

Terlepas dari dorongan kuat menuju penggunaan energi baru dan terbarukan, batu bara masih memiliki peran penting dalam bauran energi global. Sejumlah negara besar masih mengandalkan batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik dan menjaga stabilitas pasokan energi.

China menjadi salah satu contoh utama. Pemerintahan Presiden Xi Jinping dilaporkan berencana mengoperasikan lebih dari 100 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru pada tahun ini. Selain itu, sekitar 400 PLTU lainnya masih berada dalam tahap konstruksi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan batu bara di Negeri Tirai Bambu masih akan tetap tinggi dalam jangka menengah.

Situasi serupa juga terjadi di beberapa negara berkembang lain yang membutuhkan sumber energi murah dan stabil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Faktor inilah yang membuat harga batu bara tetap memiliki penopang fundamental yang cukup kuat.

Analisis Teknikal Pergerakan Harga

Dari sisi teknikal, pergerakan harga batu bara masih berada di area yang cenderung positif meskipun menunjukkan potensi koreksi lanjutan. Berdasarkan perspektif harian (daily time frame), harga batu bara masih menghuni zona bullish.

Hal ini tercermin dari indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di level 53. RSI di atas angka 50 menandakan bahwa suatu aset masih berada dalam kondisi bullish. Namun, posisi RSI yang belum terlalu jauh dari angka 50 mengindikasikan bahwa momentum penguatan belum sepenuhnya solid dan cenderung mendekati area netral.

Sementara itu, indikator Stochastic RSI 14 hari tercatat berada di level 34. Angka tersebut menempatkan harga batu bara di area jual (short) yang cukup kuat, sehingga membuka peluang terjadinya tekanan harga dalam jangka pendek.

Level Support dan Resistance

Untuk perdagangan hari ini, Jumat, 6 Februari 2026, harga batu bara diperkirakan masih menghadapi risiko pelemahan lanjutan. Target support terdekat berada di level US$ 114 per ton, yang bertepatan dengan garis Moving Average (MA) 10.

Apabila level support tersebut berhasil ditembus, maka harga batu bara berpotensi melanjutkan penurunan ke kisaran US$ 112 hingga US$ 109 per ton. Area ini menjadi zona penting yang akan menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.

Sebaliknya, jika harga batu bara mampu kembali menguat, level US$ 118 per ton dipandang sebagai resistance terdekat. Penembusan di atas level tersebut berpeluang mendorong harga naik ke rentang US$ 120 hingga US$ 128 per ton.

Sentimen Pasar Masih Berimbang

Saat ini, sentimen pasar terhadap batu bara dapat dikatakan masih berimbang. Di satu sisi, tekanan dari transisi energi dan kebijakan lingkungan tetap membayangi prospek jangka panjang. 

Namun di sisi lain, kebutuhan energi global yang terus meningkat serta ketergantungan sejumlah negara terhadap batu bara memberikan dukungan kuat terhadap harga.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga batu bara dalam waktu dekat diperkirakan akan cenderung fluktuatif dengan rentang yang relatif terbatas. 

Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan permintaan global, kebijakan energi negara konsumen utama, serta indikator teknikal untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Terkini