Proyek Jalan Tol Trans Jawa Kediri hingga Tulungagung: Dampak pada 3 Kecamatan di Kabupaten Kediri

Jumat, 14 Februari 2025 | 08:51:00 WIB
Proyek Jalan Tol Trans Jawa Kediri hingga Tulungagung: Dampak pada 3 Kecamatan di Kabupaten Kediri

JAKARTA - Proyek strategis nasional berupa pembangunan jalan tol Kediri-Tulungagung kini sedang direncanakan oleh pemerintah pusat. Jalan tol ini diharapkan akan turut menunjang aktivitas operasional Bandara Dhoho Kediri yang baru saja dibangun. Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan jalur Tol Trans Jawa yang bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas antar kota serta mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Proyek ini akan melalui sejumlah daerah yang terbentang dari Kabupaten Kediri hingga berakhir di Tulungagung. Menurut data yang diterima, sedikitnya ada 23 desa di Kabupaten Kediri yang akan terkena dampak pembangunan jalan tol ini. Ke-23 desa tersebut tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Mojo, Semen, dan Banyakan.

Rincian dari desa-desa yang terdampak dalam proyek ini sudah dipublikasikan. Di Kecamatan Mojo saja, misalnya, ada 15 desa yang akan dilalui oleh jalur tol. Sementara itu, lima desa di Kecamatan Semen dan tiga desa di Kecamatan Banyakan juga tidak luput dari proyek besar ini. Berikut adalah daftar desa-desa yang terdampak berdasarkan kecamatannya:

Kecamatan Mojo:
1. Desa Kraton
2. Desa Ploso
3. Desa Kedawung
4. Desa Maesan
5. Desa Kranding
6. Desa Ngadi
7. Desa Ngetrep
8. Desa Mondo
9. Desa Keniten
10. Desa Petok
11. Desa Sukoanyar
12. Desa Surat
13. Desa Mojo
14. Desa Tambibendo
15. Desa Mlati

Kecamatan Semen:
1. Desa Semen
2. Desa Titik
3. Desa Puhrubuh
4. Desa Sidomulyo
5. Desa Bobang

Kecamatan Banyakan:
1. Desa Maron
2. Desa Manyaran
3. Desa Tiron

Pembangunan jalan tol ini memang tidak bisa dipungkiri akan memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat setempat, terutama bagi mereka yang tinggal di desa-desa yang akan dilalui proyek. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kediri mengungkapkan bahwa pemerintah daerah sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan bahwa dampak negatif dari proses pembangunan ini dapat diminimalisir. "Pemerintah akan memastikan bahwa semua warga yang terdampak akan mendapatkan kompensasi yang layak terkait tanah dan properti mereka," ujarnya.

Tidak hanya itu, proyek ini diharapkan dapat membuka akses ekonomi baru bagi wilayah-wilayah yang selama ini belum terjamah. Kepala Desa Kraton, salah satu desa di Kecamatan Mojo yang terimbas proyek ini mengatakan, "Kami berharap proyek ini bisa membawa banyak manfaat bagi masyarakat Kraton dan sekitarnya, terutama dari segi peningkatan infrastruktur dan aksesibilitas."

Sementara itu, beberapa warga menyuarakan kekhawatiran terkait penggusuran dan penggantian lahan yang belum pasti. Tanah warga yang terkena proyek ini masih dalam tahap penilaian untuk menentukan besaran kompensasi yang akan diberikan. "Kami butuh kepastian, jangan sampai kami kehilangan tanah tanpa kompensasi yang adil," keluh salah seorang warga Kedawung.

Adapun tujuan utama dari proyek ini, sebagaimana dikemukakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), adalah untuk memperlancar arus lalu lintas dan menurunkan biaya logistik antar wilayah melalui Jalur Trans Jawa. "Tol ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi transportasi dan membuka peluang ekonomi baru," kata salah seorang pejabat Kementerian PUPR.

Seiring dengan berlanjutnya proyek ini, diharapkan semua pihak yang terlibat dapat bekerja sama untuk memastikan bahwa pembangunan ini membawa kebaikan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat luas. Sementara itu, masyarakat di desa-desa terdampak terus menunggu perkembangan terbaru mengenai penggantian lahan dan bagaimana proyek ini nantinya akan mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari. Perhatian besar tentu tertuju pada bagaimana proyek ini dikelola agar seiring dengan upaya pemajuan ekonomi, kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.

Terkini