Atlet

Tatok Hardiyanto, Atlet 61 Tahun, Masih Sumbang Medali Untuk Indonesia

Tatok Hardiyanto, Atlet 61 Tahun, Masih Sumbang Medali Untuk Indonesia
Tatok Hardiyanto, Atlet 61 Tahun, Masih Sumbang Medali Untuk Indonesia

JAKARTA - Usia hanyalah angka bagi Tatok Hardiyanto. Pada 61 tahun, atlet tenis meja Indonesia ini tetap konsisten menyumbang medali untuk Merah Putih di ASEAN Para Games (APG). 

Di Thailand, Tatok berhasil meraih medali perunggu dalam nomor TT5 yang diperuntukkan bagi atlet kursi roda. Pencapaian ini menunjukkan bahwa pengalaman dan dedikasi mampu menyaingi atlet muda sekalipun.

“Medali perunggunya ya harus saya syukuri walaupun biasanya saya dapat menyabet emas,” kata Tatok di Korat Hall, Central Korat, Nakhon Ratchasima. 

Kata-kata ini mencerminkan sikap rendah hati sekaligus tekadnya untuk terus berprestasi, meski tidak lagi menjuarai nomor tunggal seperti sebelumnya.

Di semifinal, Tatok harus mengakhiri langkahnya setelah kalah dari wakil tuan rumah Thailand, Norakan Chanphaka, dengan skor 0-3 (2-11, 7-11, 10-12). Hasil ini otomatis memberikannya medali perunggu. 

Meski gagal menembus final, Tatok tetap memandang pencapaian ini sebagai sesuatu yang berharga dan sebagai pengalaman yang patut disyukuri.

Motivasi yang Tak Pernah Padam

Semangat Tatok untuk berprestasi tidak pernah pudar. Bagi atlet senior ini, torehan medali bukan hanya tentang kemenangan pribadi, tetapi juga kontribusi nyata bagi Tanah Air tercinta. Usia 61 tahun bukan halangan untuk tetap berkontribusi bagi Indonesia di kancah olahraga internasional. Tatok menekankan bahwa dedikasi dan latihan keras adalah kunci agar tetap kompetitif, terutama menghadapi atlet muda yang semakin tangguh.

“Kegagalan melaju ke final menjadi pengalaman berharga bagi saya, mengingat ini merupakan kali pertama saya tidak berhasil menembus partai puncak di klasifikasi TT5,” ujar Tatok. Pengakuannya ini menegaskan sikap sportif dan kematangan mental seorang atlet senior yang memahami bahwa setiap kompetisi adalah pelajaran.

Tatok menilai lawan yang mengalahkannya tampil lebih unggul dan layak meraih kemenangan. Sikap menerima hasil dengan lapang dada menunjukkan kualitas profesionalnya, sekaligus memberi contoh bagi atlet muda tentang pentingnya sportivitas di arena internasional.

Persiapan untuk Nomor Ganda Putra

Meski gagal di nomor tunggal, Tatok tetap optimistis menghadapi nomor ganda putra. Ia akan turun berpasangan dengan Sefrianto untuk menghadapi wakil tuan rumah Thailand, Wanchai Chaiwut/Yuttajak Gunbancheun, pada pukul 15.30 WIB. Tatok yakin pengalaman dan strategi bisa menjadi modal untuk meraih kemenangan, meski lawan menguasai arena dengan agresif.

“Dalam nomor ganda putra, kami berupaya bermain maksimal dan memanfaatkan pengalaman bertanding di level tinggi,” katanya. Optimisme ini menegaskan bahwa meski usia terus bertambah, mental juara dan fokus pada latihan tetap menjadi modal utama bagi atlet veteran seperti Tatok.

Jejak Prestasi di ASEAN Para Games Sebelumnya

Tatok Hardiyanto bukanlah pendatang baru di kancah ASEAN Para Games. Di edisi Solo 2022 dan Kamboja 2023, ia sukses menyumbangkan tiga medali emas dan satu perak.

 Torehan tersebut meliputi nomor tunggal, beregu, dan ganda campuran di kelas TT5. Rekam jejak ini menjadi bukti konsistensi dan dedikasinya yang tinggi dalam membela nama Indonesia di ajang olahraga para internasional.

Pada ASEAN Para Games Thailand 2025, Tatok hanya mengikuti dua nomor, yakni tunggal TT5 dan ganda putra MD8. Pembatasan jumlah nomor ini bukan berarti menurunkan performanya. 

Justru, hal ini menunjukkan fokusnya untuk memberikan yang terbaik di nomor yang ia ikuti, serta menjaga kondisi fisik di usia yang sudah tidak muda lagi.

Tekad Melawan Batasan Usia

Usia yang semakin bertambah biasanya menjadi tantangan bagi atlet manapun. Namun, Tatok menjadikan pengalaman panjang sebagai modal untuk membaca permainan lawan, mengatur strategi, dan tetap kompetitif. Ia menekankan bahwa latihan konsisten, disiplin, dan pemeliharaan kondisi fisik adalah faktor kunci agar tetap berada di puncak performa, meskipun menghadapi generasi atlet muda yang penuh energi.

“Kemampuan membaca pola permainan lawan menjadi salah satu keuntungan saya. Pengalaman membuat saya bisa menyesuaikan strategi dan mengatur ritme permainan,” ujarnya. 

Kalimat ini menekankan bahwa ketajaman mental dan pengalaman lapangan bisa menjadi senjata utama bagi atlet veteran untuk bersaing di level tertinggi.

Inspirasi bagi Atlet Muda

Tatok Hardiyanto menjadi contoh nyata bahwa usia bukan penghalang untuk meraih prestasi. Semangat dan dedikasi yang ditunjukkan olehnya menginspirasi atlet muda untuk terus berlatih keras, mengasah kemampuan, dan tetap rendah hati dalam menghadapi kemenangan maupun kekalahan.

Atlet senior ini juga menunjukkan pentingnya keseimbangan antara pengalaman dan adaptasi terhadap perubahan kompetisi. Dengan munculnya atlet-atlet muda berbakat dari negara lain, Tatok menegaskan bahwa persaingan akan semakin ketat, namun hal ini justru memacu motivasi untuk terus memperbaiki teknik dan strategi.

Kontribusi bagi Indonesia

Setiap medali yang diperoleh Tatok adalah simbol kontribusi nyata bagi Indonesia. Tidak hanya untuk menambah perolehan medali negara, tetapi juga sebagai bukti bahwa atlet veteran masih bisa memberikan hasil yang signifikan. Keberadaannya menegaskan bahwa pengalaman dan dedikasi adalah aset penting dalam olahraga, yang mampu melengkapi energi dan kemampuan atlet muda.

Bagi ayah tiga anak ini, keberhasilan menjuarai berbagai nomor di ASEAN Para Games bukan sekadar soal prestasi individu, tetapi juga tanggung jawab untuk mengharumkan nama bangsa. Hal ini menjadikan Tatok bukan hanya atlet, tetapi juga mentor sekaligus panutan bagi generasi berikutnya.

Tatok Hardiyanto membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk terus berkarya dan menyumbang prestasi bagi Indonesia. Dengan medali perunggu TT5 di ASEAN Para Games Thailand 2025, ia tetap menjadi simbol ketekunan, dedikasi, dan sportivitas. Komitmen untuk berlatih lebih keras, menghadapi atlet muda, serta turun di nomor ganda putra menunjukkan bahwa semangat juang dan cinta pada olahraga tetap membara di dirinya.

Dedikasi Tatok tidak hanya memberi inspirasi bagi atlet muda, tetapi juga bagi seluruh masyarakat tentang pentingnya semangat tanpa batas, rasa syukur, dan kerja keras dalam meraih tujuan. Meski perjalanan ke final tidak tercapai di nomor tunggal, pengalaman dan tekadnya menunjukkan bahwa setiap langkah dalam olahraga adalah pelajaran berharga yang layak diapresiasi.

Dengan konsistensi, pengalaman, dan optimisme yang tinggi, Tatok Hardiyanto tetap menjadi salah satu ikon olahraga para Indonesia yang patut diacungi jempol, bahkan di usia lebih dari enam dekade.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index