BRIN

BRIN Teliti Senyawa Kulit Manggis untuk Deteksi dan Terapi Kanker Payudara

BRIN Teliti Senyawa Kulit Manggis untuk Deteksi dan Terapi Kanker Payudara
BRIN Teliti Senyawa Kulit Manggis untuk Deteksi dan Terapi Kanker Payudara

JAKARTA - Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker dengan angka kejadian tertinggi di Indonesia. 

Menurut data The Global Cancer Observatory (GCO) pada 2022, kanker payudara menyumbang 66.271 kasus, menjadikannya sebagai kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia. 

Dalam upaya untuk mencari terapi yang lebih efektif, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan senyawa baru yang berasal dari kulit manggis, yang disebut AMB10, untuk terapi kanker payudara. 

Senyawa ini, yang merupakan turunan dari alfa mangostin, diyakini memiliki potensi besar untuk mendeteksi sekaligus mengobati kanker payudara jenis estrogen receptor positive (ER+), yang merupakan tipe kanker payudara yang paling umum ditemukan.

Potensi Senyawa AMB10 dalam Pengobatan Kanker Payudara

Menurut Isti Daruwati, Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB) BRIN, AMB10 berpotensi besar sebagai senyawa untuk terapi kanker payudara. 

Isti menjelaskan bahwa sekitar 75 persen penderita kanker payudara memiliki jenis kanker yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon estrogen. 

Pada jenis kanker ini, sel kanker memiliki reseptor estrogen (ER+) yang berfungsi sebagai tempat bagi hormon estrogen untuk menempel dan merangsang pertumbuhan sel kanker.

Untuk mengatasi hal tersebut, terapi seperti tamoksifen yang merupakan golongan selective estrogen receptor modulators (SERMs) digunakan untuk menghalangi estrogen agar tidak menempel pada reseptor di jaringan payudara, sehingga pertumbuhan sel kanker bisa ditekan dan diperlambat. 

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, Isti melihat adanya kemiripan antara struktur kimia AMB10 dan tamoksifen, yang membuka peluang bagi AMB10 untuk dikembangkan lebih lanjut.

Proses Sintesis dan Uji Coba Senyawa AMB10

Proses pengembangan senyawa AMB10 dimulai dengan sintesis yang dilakukan di Universitas Perjuangan Tasikmalaya, yang bekerja sama dengan Departemen Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. 

Setelah melalui berbagai tahap pengujian, AMB10 akhirnya diberi label radioaktif menggunakan iodin-131 (I-131) yang diperoleh dari Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy. Iodin-131 diiodinasi melalui oksidasi kloramin-T, menghasilkan kemurnian radiokimia yang tinggi.

Selanjutnya, AMB10 diuji di laboratorium dengan mengaplikasikannya pada sel kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen positif. 

Hasilnya menunjukkan bahwa senyawa ini banyak terakumulasi di sel kanker tersebut, yang menunjukkan adanya kemampuan AMB10 untuk mengenali dan berikatan secara khusus dengan sel kanker yang memiliki reseptor estrogen. 

Isti juga menjelaskan bahwa senyawa ini memiliki potensi untuk menjadi radiofarmaka teranostik, yang berarti senyawa ini bisa digunakan untuk mendeteksi dan mengobati kanker payudara secara bersamaan.

Pentingnya Teranostik dalam Pengobatan Kanker Payudara

Pengembangan AMB10 sebagai radiofarmaka teranostik bisa menjadi terobosan besar dalam dunia medis. Teranostik adalah pendekatan yang menggabungkan terapi dan diagnosis dalam satu proses. 

Dalam hal ini, AMB10 yang diberi label radioaktif tidak hanya digunakan untuk mendeteksi kanker payudara dengan mamografi atau PET scan, tetapi juga untuk mengobati kanker itu sendiri. 

Hal ini membuka peluang bagi pengobatan yang lebih tepat sasaran dan minim efek samping, karena AMB10 akan langsung menargetkan sel-sel kanker yang memiliki reseptor estrogen.

Isti berharap bahwa riset ini yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia ini, dapat berkontribusi pada pengembangan terapi kanker payudara di Indonesia. 

Ia berharap agar AMB10 dapat dikembangkan menjadi obat radioaktif yang efektif untuk terapi kanker payudara, yang menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di negara ini.

Data Kanker Payudara di Indonesia: Kasus dan Faktor Risiko

Kanker payudara merupakan salah satu kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kanker payudara berkembang ketika sel-sel kanker terbentuk di jaringan payudara, baik pada saluran susu maupun lobulus (kelenjar penghasil air susu). 

Kanker payudara lebih umum ditemukan pada wanita, meskipun pria juga bisa mengidapnya meskipun dengan prevalensi yang sangat rendah.

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena kanker payudara antara lain usia, riwayat keluarga, mutasi genetik, riwayat pribadi, dan faktor hormonal. 

Misalnya, wanita yang mengalami menstruasi lebih awal, menopause terlambat, atau menggunakan terapi hormon pengganti setelah menopause memiliki risiko yang lebih tinggi. 

Selain itu, memiliki anggota keluarga dekat yang menderita kanker payudara atau pernah mengalami kanker payudara sebelumnya juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ini.

Gejala dan Pengobatan Kanker Payudara

Beberapa gejala kanker payudara yang perlu diwaspadai adalah munculnya benjolan atau perubahan bentuk pada payudara, pembengkakan pada ketiak, perubahan pada kulit payudara seperti kemerahan atau pengerutan, serta perubahan pada puting susu seperti retraksi atau keluarnya cairan. 

Jika menemukan gejala-gejala ini, penting untuk segera melakukan pemeriksaan medis.

Kanker payudara dapat ditangani dengan beberapa cara, antara lain bedah, radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormon. Bedah biasanya dilakukan untuk mengangkat tumor atau payudara yang terinfeksi, sementara radioterapi menggunakan sinar radiasi untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa. 

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan sel-sel kanker, dan terapi hormon diberikan untuk menghambat pengaruh hormon yang memicu pertumbuhan sel kanker.

Mencegah Kanker Payudara: Deteksi Dini dan Gaya Hidup Sehat

Pencegahan kanker payudara bisa dilakukan dengan melakukan pemeriksaan rutin dan deteksi dini, seperti pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan mamografi secara berkala. 

Selain itu, menerapkan gaya hidup sehat dengan pola makan yang seimbang, olahraga teratur, dan menghindari kebiasaan merokok serta konsumsi alkohol dapat membantu mengurangi risiko terkena kanker payudara.

Penelitian yang dilakukan oleh BRIN bersama Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan Universitas Padjadjaran membuka harapan baru dalam pengobatan kanker payudara. 

AMB10, senyawa turunan alfa mangostin, memiliki potensi untuk menjadi radiofarmaka teranostik yang tidak hanya mendeteksi, tetapi juga mengobati kanker payudara.

Diharapkan, riset ini dapat berkontribusi pada penurunan angka kejadian dan kematian akibat kanker payudara di Indonesia, serta menjadi solusi efektif dalam pengobatan kanker yang semakin berkembang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index