JAKARTA - Upaya memperkuat pemahaman kebijakan pendidikan tidak hanya dilakukan melalui diskusi dan paparan konsep.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memilih pendekatan berbeda dalam Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026 dengan menghadirkan simulasi kebijakan yang bisa dilihat dan dicoba langsung oleh para pemangku kepentingan.
Dua simulasi utama yang ditampilkan adalah tes kemampuan akademik (TKA) serta digitalisasi pembelajaran di kelas.
Melalui pendekatan ini, Kemendikdasmen ingin memastikan kebijakan pendidikan tidak berhenti sebagai gagasan di atas kertas, tetapi dapat dipahami secara konkret oleh daerah, pendidik, dan mitra pendidikan.
Konsolidasi nasional ini menjadi ruang temu berbagai pihak untuk menyamakan persepsi sekaligus menyiapkan langkah implementasi kebijakan ke depan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa simulasi kebijakan tersebut bukan sekadar ajang pamer capaian pemerintah. Menurutnya, pengalaman langsung jauh lebih efektif dalam membangun pemahaman bersama.
“Sudah banyak hal yang dicapai pemerintah dalam satu tahun terakhir. Yang baik perlu ditunjukkan, tetapi yang lebih penting adalah dapat dicoba langsung oleh para pemangku kepentingan pendidikan,” ujarnya.
Simulasi TKA Bangun Pemahaman Menyeluruh Asesmen Akademik
Salah satu simulasi yang menarik perhatian peserta Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 adalah simulasi kebijakan tes kemampuan akademik (TKA).
Simulasi ini dihadirkan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai konsep, tujuan, serta teknis pelaksanaan TKA sebagai bagian dari kebijakan evaluasi pendidikan.
Perwakilan Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Fajri Ansari Kistiawan, menjelaskan bahwa simulasi TKA dirancang agar pemangku kepentingan memperoleh pemahaman yang utuh dan tidak parsial. Dalam simulasi tersebut, pengunjung diperlihatkan berbagai tipe soal yang digunakan dalam TKA.
Simulasi menampilkan contoh soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, hingga penjelasan teknis pelaksanaan asesmen. Dengan demikian, peserta dapat memahami bagaimana TKA dirancang untuk mengukur kemampuan akademik peserta didik secara lebih komprehensif.
Melalui simulasi ini, Kemendikdasmen juga membuka ruang dialog mengenai pelaksanaan TKA di lapangan, termasuk kesiapan satuan pendidikan dan daerah. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman sekaligus meningkatkan kesiapan pemangku kepentingan sebelum kebijakan diterapkan secara luas.
Digitalisasi Pembelajaran Ditampilkan Lewat Kelas Interaktif
Selain TKA, Kemendikdasmen juga menghadirkan simulasi digitalisasi pembelajaran di kelas. Direktorat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kemendikdasmen merekonstruksi ruang kelas lengkap dengan papan interaktif digital (PID) atau interactive flat panel (IFP) sebagai bagian dari pameran kebijakan.
Simulasi ini dirancang menyerupai suasana pembelajaran nyata di kelas. Dalam durasi sekitar 45 menit, pengunjung dapat menyaksikan langsung praktik pembelajaran yang memanfaatkan berbagai platform digital.
Di antaranya adalah penggunaan platform Rumah Belajar, laboratorium maya, serta evaluasi pembelajaran berbasis gim interaktif.
Melalui simulasi tersebut, peserta dapat melihat bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar mengajar yang lebih menarik dan interaktif.
Digitalisasi pembelajaran tidak hanya ditampilkan sebagai penggunaan perangkat teknologi, tetapi juga sebagai pendekatan pedagogi yang mendorong partisipasi aktif peserta didik.
Kemendikdasmen ingin menunjukkan bahwa digitalisasi pembelajaran bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk menjawab tantangan pendidikan di era teknologi yang terus berkembang.
Pengenalan Koding dan Kecerdasan Artifisial di Kelas
Dalam simulasi digitalisasi pembelajaran, Kemendikdasmen juga memperkenalkan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI). Salah satu media yang digunakan adalah Blockly Games, platform pembelajaran berbasis gim yang dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah peserta didik.
Melalui pendekatan ini, peserta didik diajak memahami konsep dasar koding secara menyenangkan dan aplikatif. Simulasi ini menunjukkan bagaimana pembelajaran koding dan AI dapat diintegrasikan ke dalam proses belajar tanpa membebani siswa.
Kemendikdasmen menilai pengenalan koding dan kecerdasan artifisial sejak dini penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi di masa depan. Dengan simulasi langsung, para pemangku kepentingan pendidikan dapat melihat potensi penerapan pembelajaran tersebut di satuan pendidikan masing-masing.
Konsolidasi Nasional Perkuat Kolaborasi Pendidikan
Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026 diikuti oleh berbagai unsur strategis. Peserta kegiatan ini mencakup pimpinan Komisi X DPR RI dan Komite III DPD RI, enam menteri dan kepala lembaga, hingga 76 kepala dinas pendidikan provinsi serta 514 kepala Dinas Pendidikan kabupaten dan kota.
Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan organisasi profesi, mitra pembangunan, atase pendidikan, serta pusat-pusat The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO).
Keterlibatan berbagai pihak ini mencerminkan upaya Kemendikdasmen untuk membangun kolaborasi lintas sektor dalam penguatan pendidikan nasional.
Selama konsolidasi berlangsung, para peserta mengikuti sidang sembilan komisi yang membahas isu-isu strategis pendidikan.
Topik yang dibahas antara lain wajib belajar 13 tahun, digitalisasi pembelajaran, evaluasi TKA, hingga pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial.
Melalui konsolidasi nasional tahun ini, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk menyelaraskan arah kebijakan pendidikan nasional dengan kebutuhan nyata di daerah.
Pendekatan partisipatif dan berbasis pengalaman langsung diharapkan mampu memperkuat implementasi kebijakan serta mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.