Menjelajahi 10 Kuliner Legendaris di Malang Dengan Rasa Otentik Terbaik

Kamis, 26 Maret 2026 | 15:36:26 WIB
Menjelajahi 10 Kuliner Legendaris di Malang Dengan Rasa Otentik Terbaik

JAKARTA - Malang bukan sekadar kota dengan udara sejuk dan pemandangan yang indah, tetapi juga surga kuliner yang kaya rasa. 

Setiap sudut kota ini menyimpan warung dan restoran legendaris yang telah bertahan puluhan tahun, menawarkan cita rasa khas yang konsisten dan tetap dicintai oleh generasi sekarang. Dari soto yang gurih, sate yang empuk, hingga jajanan tradisional yang manis, semua bisa ditemukan di Malang.

Mengunjungi kuliner Malang bukan hanya soal makan, tetapi juga pengalaman menyelami sejarah dan tradisi lewat rasa. Banyak tempat makan legendaris yang tetap mempertahankan resep turun-temurun, menghadirkan keaslian rasa yang sulit ditemukan di kota lain.

Berikut adalah sepuluh destinasi kuliner yang wajib dicoba ketika berada di Malang, lengkap dengan keunikan, menu andalan, dan cerita di baliknya.

Soto dan Sate: Hidangan Legendaris yang Bertahan Lama

Salah satu hidangan yang wajib dicoba adalah Warung Soto Ayam Lombok, berdiri sejak 1955 di Jalan Lombok No. 1, Kecamatan Klojen. 

Soto ayam ini terkenal menggunakan ayam kampung yang empuk, telur, kentang, dan koya, memberikan rasa gurih yang khas. Kini, warung ini memiliki sepuluh cabang, bahkan hingga Surabaya, menandakan popularitasnya yang tak lekang oleh waktu.

Bagi pecinta sate, Warung Sate Gebug di Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 113A menjadi destinasi wajib. Nama “Gebug” berasal dari proses pemukulan daging sapi hingga lunak sebelum dibumbui dan dipanggang. Sate ini kaya rempah, berpadu dengan bumbu hitam khas yang meresap hingga ke dalam daging, menghadirkan sensasi makan yang tak terlupakan.

Kedua tempat ini menunjukkan bahwa cita rasa kuliner Malang tetap konsisten, meski waktu berjalan puluhan tahun. Soto dan sate bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari budaya kuliner yang diwariskan generasi ke generasi.

Restoran Kolonial dan Depot Unik: Rasa dan Sejarah Bersatu

Malang juga memiliki restoran bergaya kolonial seperti Toko Oen, berdiri sejak 1936 di Jalan Basuki Rahmat No. 5. Restoran ini menyajikan berbagai menu klasik, mulai dari es krim, gado-gado, sate ayam, hingga steak, dengan cita rasa khas zaman dulu. 

Suasana kolonial memberikan pengalaman makan yang unik, seolah kembali ke era masa lampau sambil menikmati hidangan legendaris.

Depot unik lain yang patut dicoba adalah Depot Hok Lay, berdiri sejak 1946 di Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan No. 10. 

Depot ini terkenal dengan minuman Vosco susu murni dengan cokelat dalam botol kaca Coca-Cola serta lumpia Semarang dan pangsit kuah. Hidangan ini menjadi favorit karena menggabungkan rasa autentik dengan konsep unik, membedakannya dari warung lain di Malang.

Kunjungan ke restoran kolonial dan depot seperti ini tidak hanya memberi pengalaman makan, tetapi juga kesempatan untuk memahami sejarah dan evolusi kuliner di Malang.

Soto, Rawon, dan Nasi Goreng: Pilihan Untuk Semua Selera

Bagi penggemar hidangan berkuah, Warung Soto dan Rawon Kairo di Jalan Yulius Usman No. 52 adalah destinasi tepat. Warung ini telah ada sejak 1950-an dan menawarkan menu soto, rawon, nasi sop, nasi campur, nasi gule, dan nasi ayam kare. 

Variasi menu yang beragam membuat tempat ini cocok untuk keluarga maupun wisatawan yang ingin mencoba banyak hidangan sekaligus.

Kuliner malam yang wajib dicoba adalah Sego Goreng Resek di Jalan Brigjen Katamso. Sejak 1959, warung ini terkenal dengan nasi goreng khas berisi toge, kubis, suwiran ayam, dan bumbu rempah yang meresap sempurna.

Nama “Resek” awalnya berasal dari lokasinya yang dekat tempat pembuangan sampah, namun kini menjadi ikon kuliner malam Malang yang selalu ramai diburu pelanggan.

Soto, rawon, dan nasi goreng menunjukkan bagaimana kuliner Malang dapat memadukan cita rasa tradisional dengan kreativitas masa kini, menghadirkan sensasi rasa yang beragam untuk semua kalangan.

Bakso dan Jajanan Tradisional: Keaslian yang Tetap Dijaga

Malang terkenal dengan baksonya, dan Bakso President di Jalan Batanghari No. 5, berdiri sejak 1977, menjadi salah satu bakso paling legendaris. 

Terletak di samping rel kereta api, tempat ini menawarkan berbagai jenis bakso mulai dari pentol halus, pentol urat, pentol telur, pangsit basah, pangsit kering, siomay, hingga jeroan seperti hati dan ampela. Setiap suapan menghadirkan rasa gurih dan tekstur yang pas, membuat pengunjung ketagihan.

Untuk jajanan manis tradisional, Putu Lanang di Jalan Jaksa Agung Suprapto, sejak 1935, menawarkan kue putu khas Malang. Tepung beras diisi gula merah, dikukus dalam bambu, menghasilkan aroma manis yang khas. Kelezatan kue ini menjadikannya tetap eksis selama puluhan tahun, menjadi favorit wisatawan maupun warga lokal.

Bakso dan jajanan tradisional menunjukkan bahwa kuliner Malang bukan hanya soal rasa, tetapi juga warisan budaya yang perlu dijaga.

Es Legendaris dan Minuman Khas: Penutup Manis Perjalanan Kuliner

Untuk pencuci mulut, Depot Es Talun, berdiri sejak 1950 di Jalan Arif Rahman Hakim No. 2, terkenal dengan es campur khas yang menggunakan sirup buatan sendiri dan tambahan tape ketan hitam. Selain itu, tersedia rujak cingur, gado-gado, dan mie pangsit yang melengkapi pengalaman kuliner legendaris.

Minuman khas lain adalah Es Tawon Kidul Dalem, sejak 1955 di Jalan Zainul Arifin. Menyajikan es kacang hijau, es dawet, es alpukat, dan es campur, minuman ini diberi nama karena pernah ada sarang tawon di dekat warung. Es Tawon menghadirkan pengalaman minum manis yang menyegarkan, menutup perjalanan kuliner di Malang dengan sempurna.

Malang membuktikan bahwa kota ini lebih dari sekadar tujuan wisata alam. Setiap hidangan, mulai dari soto, sate, hingga es legendaris, membawa cerita, sejarah, dan rasa autentik yang menjadikan perjalanan kuliner semakin berkesan. 

Mengunjungi sepuluh destinasi kuliner legendaris ini adalah cara terbaik untuk merasakan Malang melalui lidah, sekaligus menghargai tradisi kuliner yang telah bertahan puluhan tahun.

Terkini