JAKARTA - Banyak orang langsung mendaftarkan diri ke pusat kebugaran atau mengikuti kelas olahraga berintensitas tinggi dengan harapan dapat segera memangkas bobot tubuh.
Sayangnya, tanpa pemetaan data biologis yang akurat, langkah terburu-buru tersebut sering kali tidak membuahkan hasil memuaskan dan justru meningkatkan risiko cedera.
Mengetahui angka berat badan di timbangan konvensional rupanya tidak cukup dijadikan tolok ukur kebugaran tubuh secara menyeluruh bagi seseorang.
Proses penilaian kondisi internal ini wajib dilakukan agar program olahraga dan diet yang disusun oleh dokter tidak salah sasaran bagi pasien.
"You can fix what you can measure. Jadi basically, kami memang harus cek apa yang terjadi di badan kami, baru kami bisa tahu kami harus ngapain sih," jelas dr. Febby Astari, IFMCP.
Langkah asesmen klinis yang paling direkomendasikan adalah melakukan analisis menggunakan mesin body composition analysis seperti InBody untuk melihat elemen tubuh secara rinci.
Dokter Dwi Kristanto Wongso, M.Biomed (AAM), yang akrab disapa dr. Kris, menuturkan bahwa alat tersebut mampu membedah elemen penyusun tubuh hingga ke level persentase.
"Kami harus tahu badan kami. Misalnya berat badan kami 70 kilogram. Itu harus tahu ototnya berapa kilogram, lemaknya berapa kilogram, airnya berapa kilogram," tutur dr. Kris.
Angka berat badan ideal tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan jika penumpukan lemak visceral di dalam tubuh masih mendominasi ruang gerak otot rangka.
"Jadi, pentingnya adalah kami supaya bisa tahu komposisinya seperti apa, dan kalau udah tahu komposisinya kayak gimana, kurangnya di mana, itu bisa kami perbaiki," lanjut dr. Kris.
Setelah memegang hasil analisis, seseorang baru bisa menyusun rencana latihan fisik spesifik, seperti strength training untuk meningkatkan massa otot yang kurang.
Sebaliknya, bagi orang dengan lapisan lemak tinggi, disarankan fokus pada olahraga kardio seperti berenang, jalan cepat, atau bersepeda guna mengurangi massa lemak.
Hasil analisis juga menjadi acuan utama merancang diet harian agar tidak terjadi kesalahan pembatasan asupan makanan yang berisiko merusak metabolisme tubuh.
"Jadi, jangan sampai kami, 'Oh berat badannya ideal kok', sebenarnya padahal ototnya kurang, lemaknya yang banyak," ungkap dr. Kris.
"Karena itu kan berarti kami kebanyakan lemak. Jadi semuanya itu harus seimbang. Berat badannya ideal, ototnya cukup, lemaknya tidak terlalu banyak," tambah dr. Kris.