Harga Emas Dunia Menguat Tipis ke Level 4335 Dolar per Troy Ons

Rabu, 17 Juni 2026 | 21:29:31 WIB
Ilustrasi Emas Batangan.

JAKARTA - Grafik nilai dagang komoditas emas dan perak dilaporkan melonjak tajam setelah proyeksi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) untuk periode tahun ini mulai menyusut.

Kondisi tersebut dipicu oleh tercapainya kesepakatan damai sementara antara kubu Amerika Serikat (AS) dengan Iran, yang berdampak pada penurunan harga minyak bumi sekaligus menekan laju inflasi.

Berdasarkan data dari Refinitiv, nilai emas pada penutupan perdagangan Selasa (16/6/2026) bertengger di posisi 4330,13 dolar AS per troy ons, setelah mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,56 persen.

Laju penguatan ini memperpanjang tren positif komoditas logam mulia dengan akumulasi kenaikan mencapai 6,3 persen selama kurun waktu empat hari berturut-turut.

Sementara pada sesi perdagangan Rabu (17/6/2026) pukul 06.34 WIB, pergerakan harga emas terpantau masih menguat tipis sebesar 0,13 persen menuju level 4335,81 dolar AS per troy ons.

Langkah gencatan senjata yang dicanangkan Presiden AS Donald Trump ini turut memperpanjang stabilitas selama 60 hari mendatang sekaligus mengaktifkan kembali jalur Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menguraikan bahwa rencana penyelesaian konflik antara AS dan Iran menjadi stimulus utama yang menopang nilai emas dalam dua sesi terakhir.

Menurutnya, dampak nyata dari kesepakatan damai tersebut meliputi penurunan tingkat suku bunga jangka pendek, koreksi harga energi, serta berkurangnya potensi The Fed untuk mendongkrak suku bunga.

Di sisi lain, harga minyak jenis Brent ikut merosot ke bawah level 80 dolar AS per barel untuk kali pertama sejak Maret usai anjlok hampir 5 persen pada perdagangan hari Senin.

Data CME FedWatch menunjukkan spekulasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Desember kini melorot ke angka 60 persen, dari yang sebelumnya berada di level 70 persen pada pekan lalu.

Sewaktu konflik bersenjata berlangsung, pergerakan emas sempat tertahan akibat lonjakan harga minyak global yang memicu ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga tinggi akan bertahan lama.

Walau sering diandalkan sebagai instrumen lindung nilai inflasi, emas yang tidak memiliki imbal hasil periodik cenderung kehilangan daya tarik ketika tingkat suku bunga global bertengger di level tinggi.

"Yang menopang pasar dalam dua sesi terakhir adalah prospek tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang," kata David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, dikutip dari Refinitiv.

"Dampak yang kita lihat dari perkembangan tersebut adalah turunnya suku bunga jangka pendek, merosotnya harga energi, serta berkurangnya kemungkinan The Fed perlu menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini." imbuhnya.

Kini fokus pelaku pasar tertuju pada rangkaian agenda pertemuan bank sentral, termasuk rilis kebijakan suku bunga The Fed di bawah kepemimpinan pejabat barunya, Kevin Warsh.

Apabila keputusan yang diambil mengarah pada kebijakan pelonggaran atau dovish, emas berpeluang melesat naik, namun jika bersikap ketat atau hawkish maka nilai emas berisiko kembali tertekan akibat penguatan dolar.

Tren kenaikan ini juga diikuti oleh komoditas perak yang pada penutupan perdagangan Selasa (16/6/2026) menguat 0,22 persen ke level 70,17 dolar AS per troy ons, atau naik 10,2 persen dalam empat hari.

Namun pada sesi perdagangan Rabu (17/6/2026) pukul 06.34 WIB, nilai perak menunjukkan koreksi tipis sebesar 0,2 persen menjadi 70,02 dolar AS per troy ons.

Terkini