Mayapada Hospital Sediakan Layanan Pemulihan Pasca Mastektomi

Jumat, 19 Juni 2026 | 03:08:01 WIB
Ilustrasi Proses pemulihan usai operasi pengangkatan payudara atau mastektomi.

JAKARTA - Proses pemulihan usai operasi pengangkatan payudara atau mastektomi bukan sekadar perihal penyembuhan fisik, melainkan juga bagian dari perjalanan emosional pasien demi memulihkan rasa kenyamanan serta kepercayaan diri.

Bagi para penyintas kanker payudara atau pink warriors, tahapan pasca-operasi ini kerap mendatangkan tantangan tersendiri yang cukup kompleks.

Para pasien diwajibkan menyesuaikan diri dengan adanya perubahan bentuk tubuh, menempuh rangkaian pengobatan lanjutan, sekaligus memendam aneka kecemasan di sepanjang fase pemulihan.

Dalam situasi krusial seperti ini, keberadaan peran Patient Navigator menjadi sangat penting untuk membantu mendampingi pasien.

Fasilitator pendamping tersebut bertugas memandu pihak keluarga serta pasien dalam memahami tahapan pengobatan, mengatur manajemen kebutuhan medis, hingga menemani selama proses penyembuhan berjalan.

Dokter spesialis bedah onkologi Mayapada Hospital Bandung dr Dharmayanti Francisca Badudu, SpB(K)Onk memaparkan, tindakan operasi mastektomi sama sekali bukan garis akhir dari riwayat perjalanan hidup penderita kanker payudara.

Menurut argumennya, prosedur bedah tersebut justru memicu babak awal bagi fase adaptasi atas perubahan anatomi tubuh serta emosional, sekaligus momentum perbaikan kualitas hidup demi mengembalikan kepercayaan diri pasien saat beraktivitas.

Di sepanjang fase ini, pendamping Patient Navigator hadir sebagai pilar penguat psikologis pasien lewat implementasi metode pendekatan humanis atau human-centered care.

Melalui skema pendampingan intensif tersebut, pihak pasien diharapkan bisa merasa jauh lebih tenang serta tidak merasa berjuang sendirian dalam menuntaskan program pengobatan medis.

Manajemen perawatan pasca-mastektomi memegang andil vital dalam kesuksesan pemulihan karena ada bermacam-macam tingkatan medis yang wajib diselesaikan pasca-operasi.

Pada kurun waktu beberapa pekan awal pasca-bedah, prioritas utama tim medis tertuju pada pemulihan fisik mendasar yang mencakup penyembuhan luka sayatan, manajemen nyeri, serta pemulihan fleksibilitas bahu dan lengan.

Di samping pemberian obat-obatan terstruktur, pemantauan klinis secara periodik pada periode ini sangat esensial demi menjamin proses pemulihan bergulir optimal tanpa kendala.

Kontrol rutin secara berkala juga berdaya guna dalam mendeteksi munculnya indikasi komplikasi medis sedini mungkin.

Usai melewati fase tersebut, pasien bakal dituntun masuk ke tahapan evaluasi klinis guna memastikan urgen atau tidaknya pemberian tindakan terapi lanjutan.

Rangkaian terapi lanjutan tersebut dapat berwujud prosedur kemoterapi, radioterapi, pengobatan hormon, hingga pemberian terapi target.

“Setiap keputusan medis ini dirancang secara personal, menyesuaikan dengan jenis kanker, stadium, hasil pemeriksaan jaringan, hingga menata kondisi unik dari masing-masing pasien,” ujar dr Francisca, Jumat (19/6/2026).

Skema evaluasi komprehensif semacam itu menuntut tingkat ketepatan akurasi yang tinggi agar bisa memantau efektivitas kinerja terapi di dalam metabolisme pasien.

Oleh sebab itu, implementasi uji penunjang memegang peran krusial dalam menuntun tim dokter merumuskan langkah penanganan berikutnya.

Dokter spesialis kedokteran nuklir Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Lim Andreas, SpKN memaparkan, pada situasi spesifik, pasien berpotensi memerlukan uji pencitraan berbasis teknologi kedokteran nuklir.

“Pada beberapa kondisi, pemeriksaan penunjang dengan teknologi pencitraan kedokteran nuklir seperti positron emission tomography-computed tomography (PET-CT) scan atau single-photon emission computed tomography-computed tomography (SPECT-CT) scan, baik untuk menilai respons terapi, maupun untuk mendeteksi penyebaran baru atau kekambuhan penyakit,” jelas dr Lim.

Fasilitas uji PET-CT scan beserta SPECT-CT scan mengantongi andil besar dalam mematangkan evaluasi efisiensi terapi kanker.

Ketepatan hasil dari sistem ini jamak memicu sebagian warga Indonesia menjatuhkan pilihan untuk menempuh pengobatan ke luar negeri.

Kendati demikian, urgensi atas fasilitas diagnosis mutakhir kini sudah sanggup diakomodasi di dalam negeri lewat kehadiran Oncology Center Mayapada Hospital.

Program akomodasi medis tersebut menyediakan akses pemindaian PET-CT scan serta SPECT-CT scan yang ditempatkan pada Poli Kedokteran Nuklir Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS).

Sistem modern ini mengantongi kapabilitas whole-body imaging dengan output visual pencitraan yang jauh lebih detail, durasi pengerjaan kilat, serta tingkat paparan radiasi yang lebih minim.

Sarana medis mutakhir ini masih tergolong langka di tanah air, lantaran baru dioperasikan oleh kurang dari 10 jaringan rumah sakit saja.

Oleh karena itu, tersedianya klaster layanan ini dapat menjadi solusi alternatif strategis bagi pasien yang semula terpaksa memburu akses diagnosis serupa ke fasilitas kesehatan luar negeri.

Di luar ranah medis murni, fase pemulihan pasca-mastektomi juga mencakup aspek rekonstruksi psikologis serta fisik pasien.

Dalam perjalanannya, sejumlah pasien mulai mempertimbangkan opsi pembedahan rekonstruksi payudara demi merekonstruksi kembali kontur payudara.

Operasi pemulihan kontur ini dapat dieksekusi pada lini waktu yang variatif, menyesuaikan kesiapan serta kebutuhan internal dari tiap-tiap pasien.

Sebab itu, agenda diskusi dengan tim dokter sangat direkomendasikan agar pasien memperoleh saran terbaik yang selaras dengan kondisi fisik serta kebutuhan personal.

Seiring kompleksnya tata laksana kanker yang menyentuh lintas sektoral, akses layanan yang terintegrasi menjadi pilar penopang utama demi mendampingi pasien menjalani pengobatan komprehensif.

Mayapada Hospital menghadirkan Oncology Center sebagai jawaban atas penanganan kanker terpadu via implementasi asas patient-centered care.

Fasilitas ini mengolaborasikan tim dokter multidisiplin di dalam wadah Tumor Board guna menggaransi penanganan yang akurat serta personal.

Di samping itu, lini operasionalnya didukung perangkat teknologi advanced beserta komitmen pelayanan We Walk Every Journey with C.A.R.E (compassion, advanced, responsive, dan experts).

Manifestasi komitmen tersebut salah satunya dihadirkan lewat keikutsertaan Patient Navigator yang siap memandu pasien beserta keluarga di sepanjang masa pengobatan.

Masyarakat dapat mengakses penanganan kanker komprehensif ini di Oncology Center Mayapada Hospital, termasuk berdiskusi dengan dokter spesialis onkologi serta kedokteran nuklir terkait kebutuhan pemindaian.

Sistem pendaftaran serta akses info umum bisa dijangkau lewat saluran call center 150770 atau via aplikasi digital MyCare.

Jika dijumpai situasi darurat yang menuntut tindakan medis kilat, pasien dapat segera menghubungi divisi emergency Mayapada Hospital via nomor 150990 atau menekan tombol darurat di MyCare.

Beraneka ulasan kesehatan dari tim dokter Mayapada Hospital juga bebas diakses publik lewat fitur Health Articles & Tips di MyCare.

Platform digital tersebut turut memfasilitasi pengguna untuk memantau indikator kebugaran fisik lewat menu Personal Health guna mengukur ritme denyut jantung, kalkulasi langkah, energi kalori, hingga BMI.

Terkini