Pindah Markas Malut United Picu Bahaya Pasar Gelap

Minggu, 21 Juni 2026 | 18:26:31 WIB
Markas Malut United.

JAKARTA - Wacana pergantian nama dan perpindahan markas klub kembali menjadi perbincangan menjelang musim baru kompetisi sepak bola Indonesia. Terdapat ikatan emosional kuat antara klub dan suporter di balik setiap keputusan bisnis maupun perubahan kepemilikan.

Oleh karena itu, perubahan identitas tim dinilai tidak boleh dilakukan secara sepihak tanpa memikirkan sejarah dan kesetiaan pendukungnya. Isu ini makin menguat seiring persiapan klub menuju kompetisi Super League 2026-2027.

Malut United dan Adhyaksa FC menjadi sorotan utama lantaran diisukan bakal mengubah nama dan lokasi markas mereka. Malut United kabarnya akan bertransformasi menjadi Jateng United FC dengan kandang di Stadion Jatidiri, Semarang.

Sementara itu, Adhyaksa FC diisukan memindahkan markas ke Palangkaraya di Stadion Tuah Pahoe. Muncul pula rumor bahwa mereka bisa berganti nama menjadi Persiter Ternate dan bermarkas di Stadion Gelora Kie Raha.

Pengamat sepak bola Akmal Marhali menilai pergeseran identitas ini bukan sekadar urusan administrasi belaka. Hal ini sangat berkaitan erat dengan perasaan suporter setia yang terus mendukung klub kesayangan mereka sejak awal.

"Padahal sebelumnya Malut United digadang-gadang sebagai klub satu-satunya di Ternate, bahkan masyarakat disana sudah menyerukan kalimat Toma Malut United," kata Akmal. "Tapi kemudian dengan mudahnya berpindah ini kan menghianati perasaan suporter di Ternate khususnya."

"Ada kabar juga tim Liga 2 promosi ke Liga 1 seperti Adhiyaksa FC yang pindah ke Kalimantan. Ini juga regulasinya jangan sampai setiap musim berganti setiap saat itu pula klub-klub berganti nama dan berpindah lokasi. Harus dibuatkan regulasi yang tegas," imbuhnya.

Ia merasa sepak bola Indonesia sudah saatnya mempunyai lembaga khusus untuk mengatur transisi kepemilikan tim secara profesional. Saham perusahaanlah yang seharusnya diperdagangkan, bukan lisensi klub yang kemudian memicu pergantian identitas dan lokasi.

"Komite khusus untuk melakukan konsorsium atau badan khusus yang bisa membuat aturan-aturan klub itu bisa diperjual belikan sahamnya, bukan kemudian lisensinya lalu berganti tempat dan berganti nama," tegas Koordinator Save Our Soccer tersebut.

Akmal juga mengingatkan bahwa perpindahan markas klub yang terjadi terus-menerus bisa meruntuhkan fondasi dasar kompetisi domestik. Ia cemas akan ada kelompok yang sekadar membeli klub untuk promosi lalu menjualnya kembali.

"Akhirnya kompetisi sepak bola indonesia yang diharapkan menjadi candradimuka sepak bola indonesia pada ujung-ujungnya adalah pasar gelap kelompok-kelompok tertentu yang bisa menguasai hakikat dan ekosistem sepak bola indonesia untuk jual beli lisensi," ujar Akmal Marhali.

Dirinya mendesak PSSI untuk segera memperketat aturan kepemilikan tim secara tegas. Hal itu mencakup larangan bagi satu perusahaan atau individu untuk menguasai lebih dari satu klub di kompetisi yang sama.

"Karena ini membuka celah terjadinya pengaturan skor. Ketegasan pssi sangat diperlukan dalam menata kelola kompetisi sepak bola nasional agar kompetisi sehat, bersih, kompetitif, profesional dan martabat," pungkasnya.

Terkini