Shell Luncurkan Kendaraan Listrik dengan Sistem Pendingin Canggih

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:50:31 WIB
Mobil konsep Triple 10 Challenge.

JAKARTA - Perusahaan energi skala global Shell resmi memperlihatkan sebuah prototipe mobil bertenaga listrik termutakhir yang diberi label Triple 10 Challenge.

Kendaraan ini diklaim mengusung tingkat efisiensi pemanfaatan daya yang jauh lebih tinggi jika dikomparasikan dengan mobil listrik massal di pasar saat ini.

Mobil konsep tersebut sengaja diciptakan demi mendemonstrasikan kapabilitas dari sistem pendinginan mutakhir yang tersemat di dalam komponen mesinnya.

Inovasi tersebut diproyeksikan mampu membuat durasi pengisian daya baterai berjalan ekstra cepat menyerupai proses pengisian bahan bakar minyak pada umumnya.

Hebatnya, lompatan performa ini dapat diraih tanpa harus bergantung pada pengaplikasian perangkat mahal yang lumrahnya cuma disematkan pada varian premium.

Identitas nama Triple 10 Challenge sendiri terinspirasi dari 3 sasaran mutakhir yang diklaim sukses ditembus oleh sistem mekanis kendaraan purwarupa tersebut.

Sasaran itu meliputi pengisian daya dari 10 persen ke 80 persen di bawah 10 menit, serta efisiensi daya 10 kWh untuk jarak 100 kilometer.

Target terakhir yakni sanggup menekan angka produksi jejak emisi karbon sepanjang siklus pemakaian kendaraan di kisaran 10 ton CO2 ekuivalen saja.

Menurut rilis Drive, rahasia utama di balik tingginya nilai efisiensi ini bersumber pada sistem manajemen suhu baru yang membenamkan sel baterai langsung.

Komponen baterai beserta motor penggerak listrik direndam secara menyeluruh di dalam cairan fluida khusus untuk mengoptimalkan pembuangan panas berlebih.

Metode inovatif ini berlainan dengan sistem konvensional yang biasanya menyalurkan zat cair pendingin sebatas melalui pipa-pipa di sekeliling komponen luar.

Lewat mekanisme anyar ini, perangkat baterai dan motor penggerak diklaim sanggup bekerja konstan pada temperatur paling ideal guna meminimalkan kebocoran energi.

Shell menegaskan bahwa implementasi arsitektur mekanis teranyar ini turut andil besar dalam memacu performa total dari keseluruhan sistem penggerak listrik.

Walau tidak dipersiapkan untuk masuk jalur lini manufaktur massal, produk ini digadang-gadang menjadi pemantik inspirasi bagi pengembangan mobil listrik masa depan.

Bila seandainya dipasarkan dalam bentuk reguler saat ini, kendaraan tersebut berpotensi mengukuhkan diri sebagai mobil listrik paling hemat di Eropa.

Sebab konsumsi energinya yang berada di angka 10 kWh per 100 kilometer terbukti lebih superior dibanding Tesla Model 3 yang menyerap 12,5 kWh.

Mobil purwarupa ini sejatinya disokong oleh kapasitas penyimpanan daya baterai yang relatif kompak, yakni hanya sebesar 32 kWh saja.

Ukuran tersebut setara setengah dari volume baterai kepunyaan Tesla Model 3, namun unit ini diklaim sanggup melaju hingga sejauh 320 kilometer.

Sebagai pembanding, unit BYD Dolphin Essential memerlukan pasokan daya mendekati 40 kWh untuk bisa menempuh jarak jangkauan yang sama persis.

Keunggulan mencolok lainnya juga ditunjukkan lewat kapabilitas pengisian ulang daya listrik baterai kendaraan yang berjalan dalam tempo sangat singkat.

Pihak Shell mengklaim bahwa sel baterai mobil ini dapat terisi dari level 10 persen menuju 80 persen dalam waktu 9 menit 54 detik.

Meskipun sejumlah lini produk otomotif BYD di China mencatatkan durasi serupa, capaian itu harus ditopang pasokan sirkuit daya masukan ekstrim 1.500 kW.

Sebaliknya, unit Triple 10 Challenge sanggup menorehkan rekor durasi tersebut hanya dengan mengandalkan perangkat pengisi daya standar berdaya 175 kW.

Berdasarkan kalkulasi internal Shell, sistem pengisian ini mampu menyuplai jarak tempuh tambahan setara 24 kilometer untuk setiap satu menit pengisian.

Efisiensi waktu tersebut hampir menyentuh dua kali lipat dari rata-rata performa mobil listrik standar yang umumnya cuma mendulang 13 kilometer per menit.

Di samping memprioritaskan efisiensi penggunaan daya, korporasi Shell juga menaruh perhatian besar pada misi reduksi pembuangan gas emisi karbon global.

Aspek kelestarian ini dicapai berkat pemanfaatan bahan daur ulang minim karbon serta kalkulasi pengisian ulang yang bersumber dari energi hijau terbarukan.

Manajemen memprediksi kalkulasi angka emisi tersebut berada di level 50 persen lebih rendah dari rata-rata mobil listrik yang dipasarkan di Eropa.

Shell turut mengklaim bahwa unit ini menjadi mobil legal jalan raya perdana yang sukses mengadopsi struktur pendinginan skema satu sirkuit.

Lewat instalasi terpadu ini, bagian baterai yang beroperasi di suhu rendah dapat berbagi radiator bersama komponen motor penggerak serta modul elektronik.

Gabungan komparasi arsitektur pendingin baru dan pemangkasan dimensi baterai ini diklaim mampu mereduksi biaya produksi sel baterai hingga 25 persen.

Sebelum proyek ini lahir, Shell juga sempat meluncurkan mobil ultra efisien bernama Project M yang berkolaborasi dengan perancang mesin McLaren F1.

Terkini