Rahasia di Balik Sosok yang Mampu Memberi Rasa Aman

Sabtu, 27 Juni 2026 | 01:01:43 WIB
Ilustrasi Pasangan .

JAKARTA - Pernah merasa lebih tenang hanya dengan berada di dekat seseorang tanpa harus banyak berbicara? Kehadiran orang tersebut seolah mampu mengurangi ketegangan dan membuat pikiran yang kacau menjadi lebih stabil.

Fenomena itu bukan hanya soal kecocokan karakter, tetapi memiliki penjelasan dalam psikologi yang disebut koregulasi. Proses ini berkaitan dengan cara sistem saraf manusia saling memengaruhi.

Sejak masa bayi hingga dewasa, manusia membutuhkan hubungan yang aman dan mendukung untuk membantu mengelola tekanan emosional.

"Koregulasi sebagai 'meminjam' sistem saraf yang teratur," kata terapis komunikasi dan pendiri Empower Family Therapy, Tina Shrader, LMFT, mengutip Real Simple, Kamis (25/6/2026).

Kehadiran yang menenangkan tidak hanya berasal dari rasa empati, tetapi juga dari proses tubuh dalam menyelaraskan kondisi emosional dengan orang lain.

Sistem saraf manusia secara alami dapat menyesuaikan diri ketika berada di sekitar seseorang yang memiliki ketenangan. Hal ini membuat seseorang ikut merasa lebih rileks.

Shrader menjelaskan hubungan orangtua dan bayi sebagai contoh paling sederhana dari proses tersebut. Ketika bayi merasa gelisah, orangtua akan menenangkan dengan pelukan, suara lembut, atau sentuhan.

Namun, hal utama dalam proses itu bukan hanya tindakan yang diberikan, melainkan kemampuan orangtua untuk tetap stabil secara emosional.

Bayi seolah mengambil ketenangan dari kondisi orangtua yang mampu mengendalikan dirinya.

Koregulasi berbeda dengan empati maupun dukungan emosional biasa. Empati berarti memahami perasaan orang lain, sementara dukungan emosional berupa pemberian rasa nyaman dan bantuan.

"Koregulasi terjadi pada tingkat sistem saraf. Ini bukan tentang apa yang kamu katakan, tetapi lebih kepada apakah kehadiranmu mengkomunikasikan keamanan," jelas Shrader.

Tubuh manusia terus mencari tanda-tanda aman atau ancaman melalui berbagai hal, seperti intonasi suara, ekspresi wajah, hingga gerakan tubuh.

Saat seseorang merasa aman, detak jantung dan pola pernapasan dapat melambat secara alami. Aktivitas otak yang berkaitan dengan respons ancaman juga dapat menurun.

Interaksi sosial yang positif turut memicu pelepasan hormon oksitosin yang membantu tubuh mengurangi respons stres.

Namun, koregulasi dapat berubah menjadi tidak sehat apabila seseorang terlalu menyerap emosi negatif orang lain dan kehilangan batas diri.

"Koregulasi yang sehat berarti kita terpengaruh satu sama lain, tetapi kita tidak kehilangan diri kita satu sama lain," terang Shrader.

"Koregulasi yang tidak sehat terjadi ketika suasana hati satu orang sepenuhnya menentukan suasana hati orang lain," lanjut dia.

Tujuan koregulasi bukan membuat seseorang menjadi tidak peduli terhadap orang lain, melainkan tetap memiliki hubungan emosional tanpa ikut terseret sepenuhnya dalam perasaan tersebut.

Untuk menjadi sosok yang memberikan ketenangan kepada pasangan atau sahabat, langkah utama bukan mencari kalimat yang sempurna.

Hal paling penting adalah mampu mengatur emosi diri sendiri terlebih dahulu agar dapat memberikan rasa aman kepada orang lain.

"Kebanyakan orang mencoba melakukan koregulasi dengan berfokus pada emosi orang lain. Kenyataannya, hal terbaik yang sering bisa kamu lakukan adalah tetap terhubung dengan keteraturanmu sendiri," tutur Shrader.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan menarik napas secara perlahan, fokus pada keadaan saat ini, dan lebih banyak mendengarkan daripada terburu-buru memberikan solusi.

"Banyak koregulasi terjadi melalui hal-hal sederhana. Nada suara yang tenang, duduk dekat dengan seseorang, melakukan kontak mata, menawarkan tangan untuk dipegang, atau sekadar hadir tanpa mencoba menghilangkan perasaan mereka," ungkap dia.

Terkini