Tren Baru Gen Z yang Kini Cari Kebahagiaan Lewat Lintasan Jogging

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:09:02 WIB
Ilustrasi Jogging.

JAKARTA - Pernah ada suatu masa di mana aktivitas melepas penat dari kesibukan sering kali diidentikkan dengan dentuman musik keras, kerlip lampu, minuman beralkohol, hingga pulang saat fajar tiba.

Menghabiskan waktu di dalam kelab malam, berpesta, ataupun mengasingkan diri sejenak dari rutinitas harian kerap dianggap sebagai salah satu jalan keluar paling ampuh untuk bisa merasa lebih hidup.

Kendati demikian, dalam beberapa kurun waktu belakangan ini, bayangan mengenai aktivitas pelepasan stres tersebut perlahan-lahan mulai tampak bergeser ke arah yang berbeda.

Kemeriahan pesta semalam suntuk yang dahulunya selalu dipadati anak muda kini mulai sepi dan berganti menjadi agenda lari santai, olahraga pilates, hingga bermain tenis padel.

Bagi sebagian kelompok generasi Z, esensi dari bersenang-senang saat ini tidak lagi harus selalu dikaitkan dengan suasana ingar bingar dunia malam yang melelahkan.

Perasaan lega dan puas justru kini lebih banyak dicari lewat kucuran keringat, hitungan langkah kaki, serta kondisi tubuh yang dirasa menjadi jauh lebih enteng sehabis bergerak aktif.

Seorang pemuda bernama Anton (25) merupakan salah satu contoh anak muda urban yang secara sadar menjatuhkan pilihan pada gaya hidup sehat tersebut.

Di saat beban pekerjaan dirasa kian menumpuk atau kondisi pikiran sedang penuh, ia lebih memprioritaskan untuk berlari, berenang, ataupun pergi mengunjungi pusat kebugaran.

Langkah tersebut sengaja dipilihnya sebagai opsi pelarian positif ketimbang harus menghabiskan waktu luang dengan berpesta atau mendatangi kelab malam urban.

"Aku prefer olahraga daripada party, ke club, dan sejenisnya. Karena untukku pribadi, kegiatan olahraga lebih banyak positifnya," ujar Anton pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Bagi pandangan pribadi Anton, aktivitas berolahraga bukan sekadar bentuk kepatuhan untuk mengekor tren gaya hidup sehat yang sedang viral di media sosial belakangan ini.

Kegiatan olah fisik dinilainya sanggup menyuguhkan impak positif yang jauh lebih nyata serta berdaya tahan lama jika dibandingkan dengan kesenangan malam yang semu.

Meski demikian, hal tersebut bukan berarti Anton lantas memandang miring kelompok anak muda lain yang masih gemar menghabiskan waktu dengan berpesta.

Bagi dirinya, aktivitas itu sah-sah saja dilakukan oleh siapa pun, namun untuk prinsip hidupnya sendiri, berolahraga dinilai jauh lebih masuk akal sehat.

Aktivitas fisik dipandang oleh Anton sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi kesehatan aset tubuhnya di saat nanti mulai memasuki usia senja.

Selain terbukti mampu membuat kondisi fisik menjadi jauh lebih bugar dan sehat, kegiatan berolahraga juga dinilai tidak selalu harus mengeluarkan biaya mahal.

Kisah yang senada juga diutarakan oleh Kharina (24) mengenai caranya dalam menghabiskan waktu senggang atau saat dirinya sedang ingin melepas kepenatan.

Ia mengaku kini jauh lebih sering meluangkan waktu untuk melakukan jogging, jalan kaki jarak jauh, hingga melakukan gerakan senam aerobik dan mat pilates di rumah.

Bagi Kharina, momen berolahraga secara tidak langsung dapat menyajikan sebuah ruang personal yang tenang guna mendengarkan kebutuhan dari dalam dirinya sendiri.

Lewat cara ini, ia tidak perlu lagi pusing memikirkan situasi keramaian yang bising, tekanan sosial lingkungan, hingga pengeluaran dana yang membengkak akibat pesta.

"Party tuh rasanya lebih nguras energi. Kalau olahraga kan ya sudah, mikirin diri kita sendiri aja, dengar apa yang badan kita butuhin. Jadi enggak overwhelmed sama keramaian," ujarnya.

Faktor kalkulasi pengeluaran biaya harian diakui turut andil dalam memengaruhi keputusannya untuk mulai menjauhi aktivitas dunia malam belakangan ini.

Di tengah situasi kondisi ekonomi yang menuntut pengelolaan secara cermat, Kharina merasa pergi berpesta tidak hanya menguras sisa tenaga tetapi juga isi dompet.

Di lingkungan pergaulan sekitarnya, Kharina juga mengamati adanya sinyal pergeseran tren anak muda dalam menghabiskan waktu luang mereka.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya unggahan media sosial mengenai aktivitas kelab malam sangat mendominasi, kini linimasa temannya justru dipenuhi konten olahraga.

"Udah jarang banget lihat story orang party di club klab," ujar Kharina.

Fenomena pergeseran minat sebagian anak muda urban untuk menjauhi pesta, alkohol, hingga zat adiktif ternyata tidak hanya tecermin dari kisah Anton dan Kharina.

Berdasarkan laporan riset dari European School Survey Project on Alcohol and Other Drugs (ESPAD), tingkat konsumsi alkohol dan rokok pada remaja Eropa terus menurun.

Akses terhadap minuman beralkohol di sana memang diakui masih tergolong mudah, namun secara umum tingkat kebiasaan mabuk-mabukan dilaporkan menyusut dari waktu ke waktu.

Sementara itu, studi sosiologi dari The British Journal of Sociology menelurkan istilah generation sensible untuk menggambarkan kelompok muda yang selektif pada alkohol.

Untuk konstalasi di Indonesia, data dari BNN, BRIN, dan BPS sempat mencatat angka prevalensi penyalahgunaan narkotika turun dari 1,95 persen di 2021 menjadi 1,73 persen pada 2023.

Kendati demikian, data pada 2025 menunjukkan angka itu kembali terkoreksi naik ke level 2,11 persen, sehingga dinamika ini masih perlu dicermati secara hati-hati.

Tentu tidak bijak untuk langsung menyimpulkan bahwa seluruh populasi generasi Z kini telah bersih dan meninggalkan dunia malam ataupun narkoba.

Akan tetapi, fenomena ini menjadi indikasi kuat bahwa sebagian anak muda kini mulai bersikap lebih selektif dalam mengusir stres dan mengisi waktu luang.

Faktor algoritma media sosial disinyalir menjadi satu di antara pemicu utama yang ikut menggeser standarisasi mengenai apa yang dianggap keren oleh anak muda.

Meskipun demikian, pengamatan terhadap maraknya tren hidup sehat di jagat maya tetap harus dilakukan secara jeli dan tidak boleh ditelan mentah-mentah.

Sebab, visualisasi yang muncul pada beranda seseorang kerap kali dibentuk oleh lingkungan sosial serta strata tingkat ekonomi dari si pengguna itu sendiri.

"Algoritmanya kan biasanya sesuai dengan latar sosial dan ekonomi penggunanya. Jadi orang-orang tertentu akan lebih banyak mendapatkan informasi kesehatan," kata pengamat budaya populer Hikmat Darmawan kepada CNNIndonesia.com.

Paparan konten digital mengenai pola makan sehat, pencegahan diabetes, kesehatan reproduksi, hingga kebugaran terus menggelinding membentuk sudut pandang baru.

Secara perlahan namun pasti, perbincangan tersebut ikut memengaruhi preferensi visual mengenai gaya hidup ideal di mata sebagian besar anak muda masa kini.

Bagi analisis Hikmat, pergeseran yang terjadi saat ini tidak hanya menyentuh pada jenis aktivitas fisiknya saja, melainkan juga pada figur rujukan idealnya.

"Kalau soal adiksi, itu, kan, konsumsi yang berlebihan. Menurut saya yang berubah sekarang itu model-model idealnya juga mulai berbeda. Yang dulu mungkin dianggap keren itu urakan, senangnya Rolling Stone. Nah, itu semuanya juga adiksi," katanya.

Tiap generasi dipastikan mengantongi simbol otentik tersendiri mengenai definisi serta tolak ukur dari apa yang layak dikategorikan sebagai hal keren.

Jika pada era terdahulu perilaku rebel yang dekat dengan rokok dan alkohol dianggap menarik, kini anak muda urban justru menemukan identitas lewat kebugaran.

Mereka merasa lebih percaya diri dan mendapatkan pengakuan sosial saat tergabung dalam komunitas olahraga serta aktif menggerakkan fisik tubuh.

"Yang berubah adalah apa yang dianggap keren, apa yang dikonsumsi, dan ruang sosial tempat anak muda mencari kesenangan itu," tuturnya.

Transformasi preferensi tersebut juga nampak jelas dari jenis ruang publik yang kini ramai diakrabinya oleh kelompok generasi muda urban di kota-kota besar.

Pusat kebugaran, studio senam, komunitas lari, kelas yoga, hingga penyewaan lapangan padel kini menjelma sebagai episentrum baru untuk berinteraksi sosial.

"Dulu ada pola-pola penggunaan ruang. Ada ruang-ruang kosong yang dekat-dekat dan terfasilitasi untuk adiksi terhadap narkotika dan macam-macam," kata Hikmat.

Untuk era modern saat ini, pemanfaatan ruang publik untuk berkumpul tersebut telah bermutasi ke dalam bentuk arsitektur sosial yang jauh lebih positif.

"Sekarang ada ruang-ruang artifisial, seperti gym. Paling tidak ada ruang untuk aktivitas fisik," tambahnya.

Aktivitas pesta memang menjanjikan sensasi kesenangan dalam waktu singkat, namun di sisi lain juga menguras biaya, energi, dan memicu rasa hampa setelahnya.

Sebaliknya, olahraga menawarkan sensasi kebahagiaan yang hadir secara bertahap, namun efek relaksasinya bisa bertahan lama pasca-aktivitas selesai dilakukan.

"Sensasi lainnya, pikiran menjadi lebih tenang dan rasanya ringan," kata Anton.

Kharina pun mengamini adanya dampak serupa, di mana setelah dirinya rutin berolahraga, stabilitas suasana hati atau mood menjadi jauh lebih terjaga dengan baik.

"Yang gue rasain setelah rutin olahraga tuh mood jadi lebih stabil. Udah gitu, badan jadi lebih enteng buat dipakai beraktivitas," katanya.

Sajian manfaat nyata pada psikologis itulah yang pada akhirnya memicu motivasi kuat di dalam diri mereka untuk terus mengulang rutinitas sehat tersebut.

Bagi kelompok yang sudah rutin bergerak, target utama yang dikejar sejatinya bukan lagi sekadar untuk mendapatkan bentuk postur tubuh yang ideal semata.

Lebih dari itu, terdapat kepuasan emosional berupa rasa lega serta ketenangan batin yang membuat mereka selalu rindu untuk kembali berolahraga.

Bagi Anton, sensasi segar sehabis berolahraga bukanlah bentuk euforia sesaat seperti efek yang ditimbulkan oleh minuman keras ataupun zat narkotika.

Ia mengartikan sensasi tersebut sebagai sebuah momentum berharga di mana kondisi jiwa dan raganya dapat terasa jauh lebih hidup dari dalam diri.

"High menurutku bukan tentang euforia sesaat, tetapi kondisi saat seseorang termotivasi dan full energic dari dalam diri sendiri," kata Anton.

Kharina mengistilahkan kondisi tersebut dengan sudut pandang berbeda, di mana olahraga membuatnya bisa lebih fokus menikmati hari yang sedang berjalan.

Aktivitas olah fisik diakui bisa menjadi media pelarian dari penatnya realitas hidup, namun bukan jenis pelarian negatif yang merusak kesehatan mentalnya.

"Bisa jadi salah satu alternatif pelarian dari realita. Tapi kalau yang ini [olahraga] bisa bikin pikiran kita lebih tenang juga karena kita bisa dengar apa yang badan kita butuhin," katanya.

Di tengah impitan tekanan target kerja, tingginya biaya hidup, dan ritme sosial yang serba cepat, pilihan berolahraga ini bukan sekadar gaya-gayaan.

Bagi sebagian Gen Z, ini merupakan strategi bertahan hidup untuk mencari kesenangan tanpa harus mengorbankan kondisi fisik, dompet, maupun kesehatan mental.

Dunia malam beserta dinamika di dalamnya tentu tidak akan hilang begitu saja, namun metode penolakan dari sebagian generasi muda kini jelas sudah berubah

Terkini