Strategi AirAsia Hadapi Low Season dan Target Pulih Akhir 2026

Senin, 06 Juli 2026 | 01:01:01 WIB
AirAsia Optimistis Penumpang Pesawat Pulih di Semester II/2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Indonesia AirAsia merasa yakin bahwa tingkat permintaan terhadap perjalanan udara bakal kembali meningkat pada paruh kedua tahun 2026, walaupun jumlah pengguna jasa transportasi udara saat ini tengah menyusut akibat memasuki musim sepi penerbangan (low season).

Eddy Krismeidi Soemawilaga selaku Head of Indonesia Affairs and Policy Indonesia AirAsia menyampaikan bahwa penurunan tren permintaan tiket pesawat merupakan hal yang lumrah dijumpai begitu masa libur panjang selesai.

“Meskipun terdapat perlambatan pada periode tertentu, kebutuhan masyarakat untuk bepergian melalui transportasi udara tetap memiliki fundamental yang positif, didukung oleh mobilitas untuk keperluan bisnis, pendidikan, mengunjungi keluarga, maupun pariwisata,” kata Eddy, Senin (6/7/2026).

Guna menyiasati keadaan tersebut, manajemen Indonesia AirAsia terus berupaya menyelaraskan volume kursi penerbangan, animo pasar, beserta efisiensi biaya operasional. Perusahaan juga menyediakan beragam penawaran promo, memperluas rute penerbangan via sistem Fly-Thru, dan konsisten menjaga ketepatan waktu serta mutu pelayanan agar para penumpang senantiasa memperoleh opsi perjalanan yang menguntungkan.

Berdasarkan penjelasan Eddy, fluktuasi pasar penerbangan dipengaruhi oleh bermacam aspek, mulai dari siklus tahunan pasca-liburan, situasi ekonomi makro, daya beli konsumen, hingga tujuan keberangkatan.

 Ia pun menjabarkan kendati nilai jual bahan bakar avtur mulai memperlihatkan tren penurunan belakangan ini, ongkos operasional maskapai masih dibebani variabel lainnya, contohnya seperti pergerakan kurs rupiah, biaya perawatan armada, harga sewa pesawat, hingga beban operasional toko di lapangan. 

Oleh karena itu, penurunan di satu pos biaya saja tidak bisa seketika memangkas harga jual tiket secara menyeluruh.

Eddy menegaskan fokus utama dari Indonesia AirAsia yakni menyajikan nilai lebih untuk para pelanggan lewat perpaduan harga yang ekonomis, jangkauan rute yang luas, ditambah pengalaman terbang yang nyaman serta minim keterlambatan. Manajemen juga giat mempererat konektivitas antardaerah, salah satunya memprioritaskan opsi Fly-Thru yang mempermudah pelancong mendatangi destinasi lanjutan secara lebih efisien.

“Kami juga terus menjalankan berbagai program promosi secara berkala, mengoptimalkan kapasitas sesuai kebutuhan pasar, serta bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor pariwisata untuk mendorong pertumbuhan perjalanan domestik maupun internasional,” katanya.

Keyakinan perusahaan ini mencuat di tengah lesunya data riil jumlah penumpang moda udara. Mengacu pada laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS), kuantitas penumpang pesawat terbang menyusut hingga 10% secara bulanan pada Mei 2026 jika disandingkan dengan April 2026, serta turun sekitar 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Kemerosotan ini terjadi akibat selesainya momentum libur besar, sementara proses pemulihan daya beli diperkirakan masih menemui kendala walaupun harga avtur terpantau melandai dalam dua bulan terakhir.

Kendati begitu, Eddy mengaku tetap memandang positif prospek bisnis penerbangan pada semester II/2026. Menurut pandangannya, geliat dunia usaha yang mulai beranjak naik, perjalanan pelajar, pelaksanaan berbagai perhelatan nasional dan internasional, hingga liburan natal dan tahun baru diproyeksikan akan mengerek volume penumpang. 

Indonesia AirAsia berjanji akan memantau fluktuasi pasar secara berkala sekaligus merombak taktik dagang serta kapasitas secara dinamis demi mengakomodasi keperluan konsumen.

Selanjutnya, ia menganggap tren yang terjadi sekarang ini lebih merepresentasikan siklus pasar yang berulang ketimbang pergeseran mendasar dari minat terbang publik. Sektor transportasi udara memang punya karakteristik tersendiri yang amat terikat pada musim, penanggalan hari libur, dan iklim ekonomi.

“Ke depan, kami memperkirakan permintaan akan kembali menguat seiring hadirnya berbagai momentum perjalanan pada semester kedua. Meski demikian, Indonesia AirAsia akan tetap mengelola operasional secara disiplin dan adaptif agar mampu merespons setiap perkembangan pasar,” katanya.

Bagi Eddy, daya tahan industri penerbangan amat memerlukan sinergi dari seluruh elemen terkait demi membangun ekosistem bisnis yang sehat serta berkelanjutan. Langkah itu melingkupi regulasi yang mendukung keterhubungan rute, menjaga ongkos operasi tetap kompetitif, dan mendongkrak efisiensi di segala lini usaha penerbangan. 

Di sudut lain, akselerasi industri pelesir, perluasan akses ke wilayah tujuan wisata, serta terwujudnya iklim bisnis yang bersahabat bakal memegang andil besar dalam memicu peningkatan pasar penerbangan.

“Indonesia AirAsia berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan yang aman, andal, dan terjangkau, sekaligus mendukung pertumbuhan pariwisata dan perekonomian Indonesia,” tandasnya.

Terkini