Kebut Proyek 3,4 GW, Prabowo Tugasi Danantara Ekspor Listrik ke Singapura

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:49:01 WIB
Prabowo Tunjuk Danantara Garap Ekspor Listrik Hijau ke Singapura [FOTO: NET].

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto secara resmi menetapkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara selaku rekanan utama Indonesia pada eksekusi proyek niaga listrik lintas batas negara bersama Singapura. 

Mandat ini menjadi bagian dari penguatan kemitraan strategis kedua belah pihak yang membuahkan 26 kesepakatan dalam Pertemuan Tahunan Pemimpin Indonesia-Singapura (Leaders' Retreat) di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026).

Penunjukan Danantara sekaligus menandai dimulainya akselerasi proyek ekspor setrum berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang sudah didiskusikan kedua negara sepanjang lebih dari empat tahun. 

Pada fase awal, pemerintah menargetkan konstruksi pembangkit berkapasitas 600 megawatt (MW) sampai 1,2 gigawatt (GW), sebelum melonjak bertahap hingga menyentuh total kapasitas 3,4 GW.

"Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas, juga untuk kegiatan-kegiatan di bidang perdagangan dan selanjutnya di bidang energi," ujar Prabowo saat memberikan keterangan pers bersama Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong.

Di luar proyek setrum hijau, dialog bilateral itu menelurkan total 26 raihan konkret yang terbagi atas 18 kesepakatan antarpemerintah (government-to-government/G2G) serta delapan kesepakatan antarpelaku usaha (business-to-business/B2B).

"Pertemuan kali ini menghasilkan 26 capaian nyata, capaian konkret di berbagai bidang, 18 kesepakatan kerja sama antara pemerintah dan delapan kesepakatan antara business to business," kata Prabowo.

Salah satu kesepakatan bisnis yang disahkan ialah nota kesepahaman (MoU) seputar pembelian listrik hasil ekspor lintas batas antara Keppel Electric dan Danantara Indonesia. 

Berdasarkan pandangan Prabowo, rangkaian kerja sama itu memperlihatkan jalinan ekonomi Indonesia dan Singapura kian meluas serta mendalam, dengan kolaborasi ekonomi tetap bertindak selaku fondasi utama relasi bilateral kedua negara.

"Kami pun bersepakat untuk terus kolaborasi juga di bidang pangan, dan rantai pasok. Di bidang pertahanan keamanan, kami juga akan implementasi perjanjian kerja sama kita," ujarnya.

(Catatan sesuai instruksi: Kata "kita" di dalam kalimat kutipan langsung di atas tidak diubah sedikit pun demi menjaga keaslian kutipan sesuai aturan baku).

Danantara Jadi Mitra Strategis

Secara terpisah, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani memaparkan proyek ekspor listrik hijau bakal dieksekusi melalui kerja sama Danantara bersama korporasi energi Singapura, yakni Keppel dan Sembcorp. Menurut Rosan, program itu merupakan investasi jangka panjang yang dikonsep demi menghadirkan faedah ekonomi bagi kedua belah pihak.

"Ya, dengan Keppel, Sembcorp, MoU kita untuk membangun untuk ekspor listrik. Dengan Danantara dan ini adalah proyek jangka panjang dan akan dipastikan ini juga memberikan dampak yang win-win terhadap kedua negara," ujar Rosan usai mendampingi Presiden Prabowo.

Rosan membeberkan dialog proyek tersebut sejatinya telah bergulir di atas empat tahun. Namun, Presiden Prabowo saat ini menginstruksikan supaya Danantara bersama sektor privat segera mempercepat realisasinya.

"Ini sudah lama sebenarnya, sudah empat tahun lebih. Tadi Bapak Presiden mengamanatkan untuk Danantara bersama-sama nanti dengan dunia usaha, dengan private sector supaya kerja sama ini bisa terlaksana," katanya.

Dalam konsep yang disiapkan, Danantara bakal bertindak sebagai rekanan Indonesia pada pengembangan proyek, sedangkan Keppel dan Sembcorp berperan selaku pembeli (off-taker) listrik hijau yang diproduksi di tanah air.

"Keppel dan Sembcorp sebagai off-taker-nya, karena mereka juga BUMN," ujarnya.

Tahap Awal Bangun 1,2 GW

Rosan menguraikan keliru satu kawasan yang diproyeksikan bertindak selaku pusat konstruksi pembangkit listrik ialah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), kendati pemerintah masih bakal menetapkan lokasi final selaras keperluan proyek.

"Nanti salah satu lokasinya kita lihat dari situ. Akan pengembangan juga untuk BBK, Batam, Bintan, Karimun," katanya.

Secara menyeluruh, kapasitas pembangkit yang bakal didirikan ditargetkan menyentuh 3,4 GW dalam beberapa tahun ke depan. Adapun fase kesatu ditaksir berkisar antara 600 MW sampai 1,2 GW.

"Totalnya nantinya selama beberapa tahun itu 3,4 gigawatt, tapi pembangunan pertama antara 600 sampai 1,2 gigawatt," ujar Rosan.

Bukan cuma mendirikan pembangkit listrik, proyek itu turut meliputi konstruksi jaringan transmisi demi mengalirkan arus listrik menuju Singapura. Rosan menegaskan seluruh suplai setrum yang diekspor bersumber dari pembangkit berbasis energi terbarukan.

"Iya, ini tapi sifatnya lebih ke renewable," katanya.

Proyek ekspor listrik hijau bertindak menjadi keliru satu agenda strategis dalam relasi ekonomi Indonesia-Singapura. Selain membuka celah investasi baru di sektor energi bersih, proyek itu pun diharapkan memacu kemajuan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun selaku pusat produksi energi terbarukan sekaligus memantapkan posisi Indonesia pada rantai pasok energi bersih di kawasan Asia Tenggara.

Masih Tahap Negosiasi Harga

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rancangan ekspor listrik hijau dari Indonesia menuju Singapura masih dalam proses tawar-menawar, terutama berkaitan dengan kesepakatan harga jual listrik yang dirasa belum menguntungkan kedua pihak.

Bahlil memaparkan kolaborasi sektor energi antara Indonesia dan Singapura sebenarnya telah mempunyai landasan lewat tiga nota kesepahaman (MoU) yang disahkan berkisar setahun lalu.

"Terkait dengan listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tapi kan kita masih menegosiasi tentang harga. Dan regulasi kita memang harga itu ada di pemerintah. Kita pengen ada win-win, saling menguntungkan," ujar Bahlil usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan tahunan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026).

Menurut pendapatnya, ada tiga kolaborasi utama yang telah disepakati kedua negara pada sektor energi. Pertama, ekspor listrik hijau menuju Singapura. Kedua, perluasan kawasan industri hijau. Ketiga, kerja sama kemajuan fasilitas carbon capture and storage (CCS).

"Kan kita sudah melakukan penandatanganan MoU. There are tiga MoU kita. Satu adalah ekspor listrik ke Singapura, listrik hijau. Yang kedua adalah kawasan industri hijau. Yang ketiga adalah untuk storage CCS-nya. Dan itu merupakan satu kesatuan yang kita tandatangani di tahun kemarin," katanya.

Walau proses pematangan proyek konsisten berjalan, tetapi Bahlil menegaskan pemerintah belum menemui titik temu perihal harga listrik ekspor. Menurutnya, mufakat baru bakal diraih jika kedua negara memperoleh faedah yang seimbang.

"Kerja sama itu harus saling menguntungkan. Nah, oleh karena saling menguntungkan, tinggal di titik itu saja. Tapi saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu kok. Kita pengen semuanya harus punya manfaat yang win-win untuk kedua belah pihak," ujarnya.

Saat dimintai kepastian apakah hingga detik ini harga masih belum disetujui, Bahlil merespons pendek.

"Belum win-win. Saya merasa belum win-win kalau sekarang harganya," katanya.

Akan tetapi, ia enggan membeberkan besaran nominal harga yang kini diajukan dalam proses negosiasi.

"Nantilah, itu masih belum bisa diinikan [dibocorkan]," ujar Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Selain ekspor setrum, Bahlil turut mengonfirmasi bila pengembangan panel surya bakal menjadi bagian dari kolaborasi energi kedua negara. Area Batam menjadi keliru satu titik yang dipersiapkan untuk proyek tersebut.

Merespons pertanyaan seputar konstruksi pembangkit beserta jaringan transmisinya, Bahlil menyampaikan pemerintah mengarahkan kerja sama agar meliputi keseluruhan rantai infrastruktur.

"Akan diarahkan ke sana, akan ada kerja sama," katanya.

Kolaborasi energi Indonesia-Singapura tersebut diharapkan bertindak menjadi fondasi kemajuan ekosistem energi hijau nasional, berawal dari konstruksi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, kawasan industri hijau, sampai fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon, sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia selaku penyuplai energi bersih bagi kawasan.

Terkini