Protes Harga Anjlok Peternak Soloraya Mandi Telur dan Bagi Ayam Gratis

Selasa, 07 Juli 2026 | 01:34:56 WIB
Aksi mandi telur sebagai bentuk protes peternak Soloraya terhadap anjloknya harga telur dan ayam di Bundaran Gladag, Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026).\

JAKARTA – Gelombang aksi protes mendatangi Bundaran Gladag di Kota Solo pada Selasa (7/7/2026) pagi. Massa yang berkumpul merupakan seratusan peternak ayam broiler dan petelur yang berasal dari wilayah Solo Raya, mulai dari Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, hingga Boyolali.

Demonstrasi ini dipicu oleh merosotnya harga jual telur ayam di pasaran yang kini menyentuh Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per kilogram. Kondisi serupa juga menimpa harga ayam potong hidup yang anjlok drastis ke angka Rp 13.000 per kilogram.

Ada pemandangan unik sekaligus memprihatinkan dalam aksi ini, di mana seorang peternak asal Karanganyar melakukan aksi mandi 5 kilogram telur. Selain itu, mereka juga membagikan 3 peti telur seberat 50 kilogram, 30 ekor ayam petelur, serta 50 ekor ayam broiler hidup secara cuma-cuma kepada warga setempat.

Guna menarik perhatian masyarakat luas dan pengguna jalan yang melintas, sejumlah peternak juga tampak mengenakan kostum pahlawan super seperti Spider-Man dan Ultra-Men selama aksi berlangsung.

Menurut Prajuni selaku koordinator lapangan, anjloknya nilai jual komoditas ini sudah berlangsung selama dua bulan terakhir. Akibat dari situasi buruk tersebut, akumulasi kerugian para peternak lokal ditaksir telah mencapai angka ratusan juta hingga miliaran rupiah.

"Harapan saya suara ini sampai ke pemerintah, karena ya memang ini kebijakan pemerintah yang belum tegas diterapkan," ujar Prajuni di sela-sela aksi, Selasa (7/7/2026).

Pihak massa menuntut agar ke depannya segala regulasi yang bersumber dari Peraturan Menteri Pertanian dapat diimplementasikan secara tegas agar peristiwa serupa tidak terus berulang.

Pemerintah juga didesak untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan pasar secara jeli, dengan mengacu pada basis data resmi yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik.

"Such as misalnya ya, impor GPS (Grand Parent Stock). Impor GPS itu kan mempengaruhi supply dua tahun berikutnya. Jadi prediksinya sudah tahu, mau berapa kebutuhannya sudah diketahui. Otomatis disesuaikan dengan itu," jelasnya.

Prajuni dan rekan-rekan peternak lainnya meminta pemerintah untuk bertindak selektif serta mengevaluasi para investor besar yang tidak memiliki rekam jejak di sektor perunggasan.

"Karena kalau semua boleh pelihara, ini juga risikonya tinggi. Ya, karena apa? Pasti akan oversupply kembali, dan ini harus diantisipasi pemerintah," jelasnya.

Harapan besar para peternak saat ini adalah adanya intervensi pemerintah untuk mendongkrak harga jual di atas Harga Pokok Penjualan, yakni menjadi Rp 23.000 per kilogram untuk telur dan Rp 19.500 sampai Rp 20.000 per kilogram untuk ayam broiler.

"Harganya (telur) harus di atas Rp 23.000, atau sesuai HAP Rp 26.500. Sedangkan untuk ayam potong atau broiler, minimal ya di angka Rp 20.000. Setidak-tidaknya Rp 19.500 itu pun sudah bisa masuk."

"Cuma ini harus diingat bahwa pakan ini juga naik, bahan baku naik, sehingga harus disesuaikan dalam periodik yang ke depannya," terangnya.

Ia menambahkan bahwa biaya operasional peternak semakin membengkak lantaran harga pakan konsentrat maupun pakan jadi melonjak naik sekitar 5 hingga 7 persen, yang otomatis memengaruhi nilai rasio konversi pakan.

"Misalnya kami naik Rp 600 per kilo ya, itu kalau kami kalikan 1,5 saja sudah Rp 900 sampai Rp 1.000. Artinya apa? HPP kami ini sudah naik kurang lebih Rp 1.000."

"Petelur juga sama, kami tinggal mengalikan harga pakan misalnya naik Rp 500, kami kalikan 3 berarti harus HPP-nya naik Rp 1.500," urainya.

Faktor utama yang menyebabkan kejatuhan harga ini dinilai bersumber dari kelebihan pasokan di pasar, ditambah dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan situasi ekonomi global.

"Prinsip saya begini, selama masyarakat itu ada uang, berapa pun harga itu enggak masalah. Cuma kalau ini sudah murah enggak terbeli, artinya kan masyarakat juga ekonominya kurang," kata dia.

Fenomena merosotnya harga kali ini dirasakan jauh lebih parah dan ekstrem dibanding tahun lalu yang kala itu hanya dipicu oleh mahalnya harga pakan jagung. Saat ini situasi kian berat karena naiknya nilai tukar dollar Amerika Serikat.

"Ini harganya jatuh dari yang tahun lalu. Ini sudah di angka Rp 18.000, Rp 17.000 waktu itu ya. Sedangkan yang waktu kami tahun lalu itu minimal itu di angka Rp 20.000, Rp 21.000."

"Begitu juga dengan ayam potongnya, waktu itu masih di harga Rp 17.000, Rp 18.000, sekarang ekstrem ke Rp 13.000, Rp 14.000," terangnya.

Aksi mengguyur badan dengan telur sengaja dipilih sebagai simbol kekecewaan mendalam atas menumpuknya pasokan telur di gudang-gudang peternak akibat tidak terserap oleh pasar.

"Ya ini gini, ini kebetulan telur ini kan enggak laku ya, mungkin yang kami pakai nanti telur yang sudah lama. Ya daripada dibuang sama saja, terus kami pakai mandi saja."

"Karena memang kami juga agak kesal ya, karena sudah numpuk di tempat, teman-teman ini juga ada, kami pakai untuk, sama-sama dibuang, ya dipakai mandi aja," tuturnya.

Ardi, peternak asal Karanganyar yang melakukan aksi mandi telur tersebut menegaskan bahwa protes terbuka ini sengaja ditujukan langsung kepada Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, dengan harapan harga pasar bisa segera distabilkan kembali.

"Harga telurnya jatuh murah, ini protes karena terlalu murah, peternak rugi, harganya di bawah HPP harganya terlalu murah. Harapannya supaya harga telur naik, stabil sesuai HPP," ujar Ardi.

Terkini