Merger Operator Seluler Buat Permintaan Sewa Menara TBIG Melambat

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:31:01 WIB
Ilustrasi Salah satu tower milik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk

JAKARTA — Prospek bisnis jangka pendek dari PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) saat ini masih terhalang oleh efek penyatuan industri telekomunikasi pascamerger antara PT XL Axiata Tbk dan PT Smartfren Telecom Tbk pada tahun 2025. Menyusutnya total penyedia layanan seluler memicu perlambatan permintaan sewa menara baru, walau proyeksi jangka panjang diprediksi tetap cerah seiring penguatan infrastruktur digital di tanah air.

Melalui laporan kajian teranyar, SimInvest Research memaparkan bahwa penggabungan operator seluler berimbas pada melandainya pertumbuhan penyewa (tenant) menara. Kondisi ini menyebabkan performa operasional perseroan masih harus melewati tantangan berat dalam kurun waktu terdekat.

Sepanjang kuartal I/2026, akumulasi tenant milik TBIG turun sebesar 0,3 persen sejak awal tahun (YTD) dan terkoreksi 2 persen jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year/YoY). Meskipun ada penurunan, rasio tenancy perusahaan masih sanggup bertahan pada kisaran 1,7 kali, yang memperlihatkan tingkat pemanfaatan aset yang cukup berimbang.

Dampak tekanan pasar tersebut ikut berimbas pada pos laporan keuangan korporasi. Angka pendapatan perusahaan tercatat turun sebesar 1,7 persen secara kuartalan (QoQ) atau menyusut 0,8 persen YoY, dibarengi dengan nilai perolehan per menara yang tergerus 4,1 persen.

Nilai EBITDA juga ikut merosot 1,2 persen QoQ atau melemah 1,3 persen YoY, dengan catatan margin EBITDA yang sedikit melorot ke level 85,1 persen dari posisi periode serupa di tahun sebelumnya sebesar 85,6 persen.

Di kala operasional menara konvensional sedang melambat, SimInvest memproksikan sektor layanan Fixed Wireless Access (FWA) dapat menjadi tumpuan pertumbuhan anyar bagi TBIG. Langkah perluasan jaringan FWA di skala nasional dinilai mampu menutupi sebagian konsekuensi negatif akibat merger operator telekomunikasi.

Walaupun penetrasi jaringan 5G bakal memicu lonjakan belanja modal dari para operator seluler, situasi ini diperkirakan tetap membuat harga sewa menara berada di bawah tekanan untuk jangka pendek. Kendati demikian, aktivitas pemesanan ruang menara diproyeksikan mulai membaik secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang.

Pihak SimInvest mengestimasikan pertumbuhan jumlah tenant mampu menyentuh angka 1,2 persen pada tahun 2027 dan merangkak ke level 2,3 persen pada 2028, dengan posisi rasio tenancy kokoh di angka 1,7 kali.

Selaras dengan hal itu, pendapatan perusahaan diproyeksikan ikut terdongkrak sebesar 3,2 persen pada 2027 dan tumbuh 4,5 persen pada 2028. Sementara untuk perolehan EBITDA diperkirakan naik masing-masing sebesar 4,4 persen dan 5,6 persen, dengan besaran margin bertahan di kisaran 86 persen.

Di samping mengandalkan pertumbuhan internal, SimInvest turut mengamati potensi skema aksi korporasi yang berpeluang mengubah peta persaingan bisnis menara telekomunikasi. Menurut kabar yang beredar di pasar, ada perusahaan infrastruktur telekomunikasi raksasa yang tengah menjajaki rencana akuisisi beberapa operator menara di dalam negeri, termasuk menyasar TBIG.

Menurut pandangan analis, apabila transaksi besar ini sukses dieksekusi, konsolidasi tersebut berpeluang memangkas persaingan harga sewa menara sekaligus membentuk ekosistem industri yang jauh lebih sehat.

Di sudut lain, posisi TBIG selaku operator menara independen terbesar ketiga di tanah air berpotensi memberikan keuntungan berupa premi akuisisi yang bernilai tinggi. Walau begitu, adanya selisih perhitungan valuasi antara pihak calon pembeli dan pihak penjual berisiko membuat proses negosiasi berjalan lama atau justru mengalihkan fokus investor ke perusahaan target lainnya.

Menilai dari sisi valuasi, instrumen saham TBIG saat ini diperdagangkan pada posisi EV/EBITDA FY2026 berkisar 10,3 kali, yang dianggap lebih menjanjikan dibandingkan rata-rata historis dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Namun, minimnya pendorong sentimen positif dalam jangka pendek membuat SimInvest memutuskan untuk tetap menyematkan rekomendasi Neutral. Sepanjang tahun 2026, TBIG diproyeksikan mengantongi pendapatan di kisaran Rp7,10 triliun, perolehan EBITDA senilai Rp6,03 triliun, serta raihan laba bersih sebesar Rp1,61 triliun. Menuju tahun 2027, total pendapatan diperkirakan naik ke angka Rp7,33 triliun dengan perolehan laba bersih di level Rp1,68 triliun.

Terkini