Cara Membedakan Jerawat Hormonal dengan Bakterial pada Wajah

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:47:01 WIB
Ketahui Perbedaan Jerawat Hormonal dan Bakterial Serta Solusinya [FOTO: NET].

JAKARTA - Kemunculan jerawat dipicu oleh kombinasi rupa-rupa elemen, mulai dari sekresi minyak yang berlebihan, pengaruh hormon, penyumbatan folikel pori-pori akibat penumpukan sel kulit mati, hingga kontaminasi mikroba penyebab jerawat. 

Dari sekian banyak jenis, jerawat hormonal dan jerawat bakterial menjadi dua ragam yang paling jamak dijumpai. Lantas, bagaimana langkah mendeteksi perbedaan karakteristik serta metode penanganannya?

Memahami jerawat hormonal

Jerawat hormonal distimulasi oleh pergeseran atau naik-turunnya kadar hormon di dalam tubuh, seperti pada periode ovulasi, masa datang bulan, fase kehamilan, maupun gangguan klinis layaknya sindrom ovarium metabolik poliendokrin (PMOS). 

Ragam ini umumnya bersemi pada area wajah bagian bawah seperti sepanjang garis rahang, dagu, serta leher, dengan wujud berupa kista kemerahan yang terasa nyeri berdenyut.

"Jerawat hormonal disebabkan oleh sensitivitas kulit terhadap hormon dominan pria yang disebut androgen, dengan testosteron sebagai pemicu utamanya," kata dermatologis Azadeh Shirazi, MD, Rabu (8/7/2026).

"Androgen merangsang kelenjar minyak untuk memproduksi minyak berlebih, yang memberi makan bakteri penyebab jerawat, sehingga jumlahnya membeludak dan menyumbat pori-pori," imbuh dia.

Karakteristik jerawat bakterial

Di sisi lain, jerawat bakterial sejatinya bukan merupakan keluhan kulit yang berdiri sendiri, melainkan hasil akumulasi dari lonjakan pertumbuhan kuman, proses inflamasi, serta tingginya sekresi sebum.

 Bertolak belakang dari tipe hormonal, jenis ini justru kerap menginvasi wilayah wajah yang memproduksi minyak paling tinggi, yakni area T-zone, pipi, serta hidung. Bentuk fisiknya cenderung lebih dangkal di permukaan, berwarna kemerahan, dan mengalami peradangan.

"Organisme jamur dan bakteri adalah penghuni normal kulit yang membentuk mikrobioma kulit alami kami, mirip dengan mikroflora pada usus," jelas dermatologis Diane Madfes, MD.

"Ketika terjadi ketidakseimbangan atau gangguan pada iklim mikrobioma tersebut, hal itulah yang memicu jerawat," imbuh dia.

Mengetahui jenis jerawat

Pakar dermatologi Anna Chacon, MD, menjelaskan bahwa bilamana jerawat konsisten meradang pada kurun waktu berkala mengikuti siklus datang bulan, maka besar kemungkinan Anda tengah mengalami jerawat hormonal.

"Banyak masalah jerawat bermula dari ketidakseimbangan hormon, tetapi terkadang kondisinya semakin parah akibat bakteri, yang bisa muncul sebagai komedo hitam, benjolan mirip kista, atau sumbatan di folikel rambut kamu," ujar dr. Chacon.

Melakukan sesi konsultasi secara langsung dengan dokter spesialis kulit merupakan opsi paling bijak guna mengidentifikasi tipe jerawat melalui pengecekan fisik maupun tes laboratorium darah.

Pentingnya memelihara stabilitas kuman baik pada lapisan kulit turut disoroti oleh banyak riset kesehatan.

"Jika kamu punya bakteri jahat yang diimbangi oleh bakteri baik, kondisi ini akan mengendalikan si bakteri jahat dan mencegah jerawat bakterial. Hormon turut ambil peran di sini, karena hormon juga memengaruhi iklim mikro kulit," ucap dia.

Pilihan perawatan jerawat hormonal

Guna menstabilkan kondisi hormon sekaligus menekan laju produksi minyak, dokter umumnya akan meresepkan pil kontrasepsi (pil KB). Opsi penanganan medis utama lainnya yakni lewat pemberian obat spironolactone.

"Spironolactone sebenarnya adalah pil air, tetapi bekerja sangat baik untuk jerawat hormonal dengan mencegah androgen seperti testosteron merangsang produksi minyak, yang berarti lebih sedikit pori-pori tersumbat dan bakteri penyebab jerawat," jelas dr. Shirazi.

Selain mengonsumsi obat-obatan, pastikan untuk selalu memilih produk kosmetik berlabel non-komedogenik agar pori-pori wajah tidak kian tersumbat. Pengaplikasian setiap produk obat jerawat idealnya diaplikasikan tipis-tipis seukuran biji kacang polong saja. Menyapukannya dalam dosis berlebih justru berisiko memicu iritasi dan membuat kulit dehidrasi.

"Jangan berlebihan menggunakan terlalu banyak produk, dan pakailah pelembap secara teratur demi menjaga fungsi pelindung kulit tetap sehat," imbau dr. Shirazi.

Regulasi pola hidup harian juga memegang peranan yang tidak kalah krusial, seperti mengusahakan jam tidur yang ideal serta membatasi konsumsi makanan atau minuman produk olahan susu (dairy products). 

Dokter Shirazi mengemukakan bahwa riset terkini membuktikan bahwa konsumsi olahan susu berpotensi memicu tingkat keparahan jerawat karena merangsang aktivitas hormon testosteron pada tubuh sejumlah individu.

"Penyebab terburuknya adalah produk susu bebas lemak dan susu skim. Menghilangkan lemak dari konsentrat susu membuatnya terserap lebih cepat, sehingga memicu lonjakan hormon penyebab jerawat," ujar dia.

Penanganan jerawat bakterial dan jamur

Penggunaan zat aktif layaknya benzoil peroksida ataupun senyawa retinoid dinilai sangat andal dalam membasmi kuman sekaligus mengangkat sumbatan kotoran di pori-pori. Bahkan, pada tingkat tertentu, intervensi obat antibiotik juga kerap diperlukan.

"Ada kalanya peradangan terjadi lebih dalam dan lebih parah. Oleh karena itu, antibiotik khusus jerawat diperlukan tidak hanya untuk membasmi bakteri, tetapi juga meredakan peradangannya," ucap dr. Shirazi.

Terakhir, Anda juga perlu mewaspadai kemunculan jerawat jamur (fungal acne) yang dipicu oleh infeksi jamur jenis malassezia atau keluhan folikulitis pityrosporum. Gejala khasnya ditandai dengan bintik-bintik kecil kemerahan yang disertai rasa gatal di seputaran dahi atau pelipis, yang mana wajib ditanggulangi secara khusus menggunakan obat antijamur.

Terkini