Kebiasaan Saat Mengobrol yang Tanpa Disadari Membuat Orang Menjauh

Jumat, 10 Juli 2026 | 23:12:31 WIB
Ilustrasi Mengobrol Dengan Teman.

JAKARTA - Kualitas dalam berkomunikasi tidak sekadar dinilai dari seberapa cakap seseorang dalam berucap, melainkan juga dari caranya memosisikan lawan bicara agar merasa disimak serta dihormati.

Tanpa diinsafi, terdapat beragam pola interaksi saat bercakap-cakap yang memicu rasa tidak nyaman bagi orang lain hingga membuat mereka berangsur-angsur menjauh.

Tindakan seperti terlalu kerap memotong ucapan hingga kebiasaan membelokkan topik obrolan ke ranah pribadi ditengarai menjadi penghambat utama dalam merajut relasi yang harmonis.

Disadur dari Verywell Mind, peneliti studi percakapan di Harvard Business School, Alison Wood Brooks, memaparkan bahwa komunikasi yang sehat tercipta dari kepedulian yang tulus, kemampuan menyimak, serta umpan balik yang penuh atensi kepada lawan bicara.

Oleh sebab itu, mendeteksi perilaku keliru yang berpotensi merusak kehangatan interaksi sosial menjadi hal yang sangat krusial.

Berikut merupakan tujuh pola berkomunikasi yang patut dieliminasi demi menjaga kenyamanan bersama:

Bertanya hanya demi membelokkan topik ke diri sendiri Sikap ini populer dengan istilah boomerasking, yaitu melempar pertanyaan sekadar sebagai jembatan untuk kembali menceritakan urusan pribadi Anda.

Sebagai ilustrasi, Anda menanyakan agenda liburan seorang kawan, tetapi sebelum dia rampung berkisah, Anda langsung memotongnya dengan membandingkan hal itu dengan pengalaman sendiri.

"'Boomerasking' dapat membuat orang lain merasa bahwa mereka tidak dianggap serius," kata psikiater Dr. Meghan Marcum , PsyD.

Berbagi memori personal memang sesekali diperlukan guna mempererat kedekatan, namun pastikan Anda benar-benar mengosongkan waktu agar lawan bicara dapat menuntaskan kisahnya terlebih dahulu.

Terlalu sering memotong pembicaraan Menyela obrolan barangkali dipicu oleh rasa antusias yang tinggi atau keinginan memperlihatkan kepedulian, namun bila terus diulang, lawan bicara akan merasa opininya tidak dihargai.

Ahli komunikasi Jefferson Fisher menyampaikan bahwa salah satu wujud penghormatan paling mendasar dalam berdialog adalah membiarkan orang lain merampungkan kalimatnya sebelum kita merespons.

Maka dari itu, posisikan diri untuk senantiasa menyimak hingga tuntas dan singkirkan ketergesaan dalam membalas pernyataan orang lain.

Terlalu mendominasi obrolan dengan kisah pribadi Mengungkapkan latar belakang personal memang bisa merekatkan hubungan, namun andai seluruh topik dialog hanya berputar pada kehidupan Anda, lawan bicara akan merasa dikesampingkan.

Komunikasi yang ideal sejatinya bergulir secara timbal balik. Selesai membagikan cerita Anda, berikan giliran bagi orang lain guna mengutarakan kisah maupun sudut pandang mereka.

Spontan menyodorkan solusi tanpa diminta Saat seseorang sedang menumpahkan keluh kesahnya, tanggapan spontan yang kerap terlontar biasanya berupa wejangan atau pemecahan masalah, padahal belum tentu mereka membutuhkannya.

Pada banyak momentum, mereka sesungguhnya hanya memerlukan kehadiran seseorang yang bersedia menampung keluh kesah mereka tanpa dihakimi.

Sebelum melangkah lebih jauh memberikan masukan, ada baiknya Anda mencari tahu apakah mereka sekadar ingin didengar atau memang memerlukan jalan keluar.

Terlalu dominan melontarkan pertanyaan tertutup Model interaksi yang cuma memerlukan respons kata "ya" atau "tidak" berpotensi besar membuat atmosfer obrolan menjadi kaku dan cepat berakhir.

Guna mengantisipasinya, gunakan tipe pertanyaan terbuka seperti "Bagaimana pengalamanmu?" guna merangsang lawan bicara agar lebih ekspresif dalam bercerita.

Minim memberikan pertanyaan lanjutan Menjadi pendengar yang baik ternyata belum sepenuhnya cukup untuk membangun keintiman dalam sebuah obrolan yang hangat.

Memperlihatkan ketertarikan lewat pertanyaan mendalam membuat pihak lawan bicara merasa bahwa poin pembicaraannya benar-benar diapresiasi.

Bagi Alison Wood Brooks, rasa penasaran yang positif menjadi fondasi krusial dalam merancang jalinan komunikasi yang bermutu tinggi.

Mengajukan pertanyaan pendalaman sangat membantu dalam menghidupkan suasana obrolan menjadi lebih akrab serta berbobot.

Mengeluarkan respons yang bernada menghakimi Ungkapan bermakna menyudutkan seperti "Seharusnya kamu..." dinilai kurang bijak meskipun awalnya diniatkan sebagai masukan yang membangun bagi teman.

Pernyataan semacam itu justru rentan memicu lawan bicara merasa dipojokkan atas pilihan hidup yang telah mereka ambil.

Langkah bijak penggantinya adalah dengan memvalidasi perasaan mereka, lalu tanyakan bantuan apa yang sekiranya bisa Anda berikan untuk meringankan beban tersebut.

Terkini