JAKARTA - Kian banyak korporasi yang menginsafi bahwa faktor stabilitas jiwa dan kesehatan mental para pekerja mempunyai korelasi langsung terhadap tingkat produktivitas, daya kreativitas, hingga loyalitas kepada institusi.
Pemahaman baru tersebut memicu beragam instansi kerja mulai mengonstruksi iklim lingkungan yang lebih suportif melalui penyediaan fasilitas konseling, edukasi psikologis, hingga regulasi jam kerja yang dinamis.
Berdasarkan akumulasi data Kemenkes, WHO, serta riset dunia kerja, jenis problem kesehatan mental yang paling mendominasi kalangan pekerja di antaranya ialah sindrom kecemasan, depresi, burnout, stres akut, dan tekanan psikologis imbas relasi kerja toksik.
Hasil penyaringan Cek Kesehatan Gratis (CKG) merekam tingginya indikasi gejala kecemasan sekaligus depresi di lapisan masyarakat, di mana problem depresi ini terbukti memicu para pegawai tidak sanggup beroperasi secara prima saat bekerja.
Guna merespons tingginya beban gangguan psikologis di area industri tanah air, Otsuka Group Indonesia menggandeng Kementerian Kesehatan guna merilis sebuah program bertajuk Mental Ease at Workplace.
HCD & Corporate Communication Director Otsuka Group, Sudarmadi Widodo mengatakan, kepedulian terhadap kesehatan mental di tempat kerja adalah bagian dari komitmen keberlanjutan Otsuka secara global.
"Namun, implementasi teknisnya dirancang khusus untuk konteks Indonesia, melalui kolaborasi resmi dengan Kementerian Kesehatan RI sejak Juni 2025, memastikan program ini sesuai dengan regulasi, budaya kerja, dan kebutuhan pekerja Indonesia," katanya kepada Kompas.com.
Widodo memaparkan bahwa agenda Mental Ease at Workplaces mengaplikasikan skema komprehensif yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni promotif, preventif, kuratif, serta rehabilitatif.
"Bukan intervensi satu kali, melainkan ekosistem berkelanjutan yang mencakup edukasi, self-assessment, konseling profesional, hingga dukungan reintegrasi kerja," paparnya.
Bagi Widodo, program proteksi dini di lingkungan industri bernilai sangat krusial demi membentengi karyawan agar tidak terperosok ke dalam fase gangguan jiwa yang parah, sekaligus mengikis stigma miring seputar isu kesehatan mental.
Demi menyukseskan program kesehatan tersebut, pihak Otsuka Group Indonesia berkolaborasi dengan jajaran Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM) Bogor selaku mitra kerja serta tim kolaborator operasional.
Menurut penjelasan Sudarmadi, sinergi dengan RSMM mengemban dua fungsi strategis sekaligus, yakni bertindak selaku sentra rujukan medis bagi para pekerja, serta menjadi penerima manfaat langsung bagi para staf internal RSMM.
"Melalui kerja sama ini, karyawan RSMM akan difasilitasi untuk mendapatkan dukungan pelayanan kesehatan mental. Ini menjadi pilot project dan mudahmudahan bisa menjadi best practice di rumah sakit lainnya," jelas Dr. Nova Riyanti Yusuf Sp.KJ, mewakili RSMM.
Lewat peluncuran program Mental Ease at Workplaces, Otsuka Group Indonesia bersama RSMM menargetkan dapat melahirkan kiblat standarisasi baru bagi pengelolaan SDM di Indonesia, di mana hasil kerja selaras dengan ketenteraman jiwa pekerja.