Aset Hotel Sultan Dioptimalkan untuk Tambah Pemasukan Negara

Rabu, 15 Juli 2026 | 21:08:32 WIB
Ilustrasi Hotel Sultan.

JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pengelolaan kawasan Hotel Sultan akan dimaksimalkan untuk meningkatkan pendapatan negara. Langkah ini dilakukan setelah adanya proses pengosongan aset yang merujuk pada putusan pengadilan sejak Juni lalu.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XIII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, pada Rabu, Prasetyo menjelaskan bahwa pihaknya kini tengah menjalin koordinasi erat dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) terkait urusan pengelolaan tersebut.

"Kami telah dan sedang berkoordinasi dengan Danantara untuk merancang ulang pengelolaan kompleks area Hotel Sultan dan sekitarnya untuk bisa kami optimalkan peruntukannya sehingga kami berharap juga akan dapat menambah pemasukan kepada negara," kata Mensesneg.

Pada forum tersebut, Prasetyo memberikan laporan kepada para anggota dewan bahwa Kementerian Sekretariat Negara telah sukses mengambil alih kembali aset Hotel Sultan pada 18 Juni 2026. Momentum ini mengakhiri polemik panjang yang sempat bergulir selama kurang lebih delapan tahun.

"Dari seluruh proses hukum dinyatakan bahwa Hotel Sultan itu adalah milik negara yang pengelolaannya kepada pihak ketiga telah selesai sehingga kami hanya menjalankan proses hukum berdasarkan hasil ketetapan dari pengadilan," jelasnya.

Saat ditemui seusai agenda rapat, Prasetyo menambahkan bahwa aktivitas pengosongan aset di Hotel Sultan sampai saat ini masih berjalan. Proses pembersihan ini diperkirakan memakan waktu satu bulan sebelum akhirnya diserahkan secara penuh kepada Danantara.

Sebelumnya, Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani sempat menargetkan bahwa program revitalisasi menyeluruh di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, diharapkan bisa mendongkrak angka rata-rata pengeluaran para wisatawan asing selama berada di Indonesia.

"Average spending (pengeluaran rata-rata) kami itu baru 1.100-an dolar AS lebih. Nah, bagaimana untuk meningkatkan average spending-nya juga," kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/6).

Berdasarkan penilaian Rosan, tingkat daya saing pada sektor pariwisata Indonesia dinilai masih tertinggal jika dikomparasikan dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara. Oleh karena itu, diperlukan sebuah terobosan pengembangan destinasi serta ekosistem wisata yang jauh lebih kompetitif.

"Kalau kami lihat sektor pariwisata Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN, kami memang masih cukup jauh dibandingkan Thailand, Singapura, dan negara lainnya," ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Danantara bakal mengimplementasikan strategi khusus dalam pengembangan sektor pariwisata. Skema ini nantinya akan menyasar beragam segmen pasar, mulai dari kategori wisata massal hingga wisata minat khusus yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Terkini