Kemenko Pangan Sebut Kenaikan Harga Telur Dipicu Masuk Sekolah

Senin, 20 Juli 2026 | 01:13:01 WIB
Ilustrasi Penjual Telur.

JAKARTA - Pemerintah mengungkapkan pergerakan harga telur ayam ras mulai berangsur naik di pasaran setelah sempat mengalami penurunan drastis selama kurang lebih satu bulan.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa lonjakan harga telur saat ini masih berada dalam batas yang wajar setelah sebelumnya turun di bawah Rp19.000 per kilogram.

"Dengan naiknya ini sebenarnya kami juga Alhamdulillah karena masih dalam harga yang memang imbang antara biaya produksi dan konsumsi masyarakat," ujar Hanif di Pasar Tebet Timur, Jakarta, Senin (20/7/2026).

Menurut penjelasannya, peningkatan volume permintaan sangat dipengaruhi oleh mulainya kembali tahun ajaran baru sekolah yang mendorong tingkat kebutuhan telur dari SPPG untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Masuknya anak-anak sekolah, mau tidak mau, suka tidak suka, pengaruh dampak MBG ini demikian terasa, bahkan dari telur saja," kata Hanif.

Sejalan dengan hal itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menyebut harga telur sempat tertekan akibat melemahnya serapan permintaan selama libur sekolah, penghentian operasional SPPG, serta tradisi Bulan Suro.

"Kebetulan pada saat kemarin ada dua masalahnya. Satu, bulan Suro, kedua, libur SPPG-nya, tentu demand-nya turun, harganya memang sangat turun," ucapnya.

Ketut menjelaskan, angka jual telur di tingkat produsen peternak mulai berangsur merangkak dari kisaran Rp15.000 hingga Rp16.000 per kilogram menjadi sekitar Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram.

Kendati demikian, ia menuturkan bahwa harga telur ayam ras saat ini masih berada di bawah patokan kisaran harga normal, yakni Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram.

"Ya pokoknya dua minggu yang lalu sudah mulai bergerak, dari Rp 15.000, Rp 16.000, Rp 19.000, Rp 21.000, terakhir sekarang Rp 22.000-Rp 23.000. Tapi ini sudah sangat bagus. Untuk telur relatif sudah hanya sebulan, sebulan lah mengalami jatuh," ungkapnya.

Ia menegaskan, pihak pemerintah memang terus berupaya memulihkan tingkat harga telur agar para peternak lokal tetap memperoleh marjin keuntungan dan menjaga kestabilan angka produksi.

"Jangan sampai peternak kami harganya terlalu jatuh sekali. Nanti mereka tidak mau berproduksi, masa kami impor lagi?" katanya.

Mengenai dampaknya terhadap tingkat inflasi, Ketut tidak menampik bahwasanya kenaikan harga telur akan memberi dorongan pada komponen inflasi pangan bergejolak (volatile food).

Meskipun begitu, dinamika tersebut dinilai tetap berada dalam taraf wajar sepanjang pergerakannya tidak melampaui batas atas harga acuan yang ditetapkan pemerintah.

"Pemerintah menjaga ritmenya jangan terlalu tinggi, jangan terlalu rendah. Pada saat rendah diintervensi, pada saat tinggi juga diintervensi. Selama masih di harga acuan, itu yang dicari," tuturnya.

Terkini