BPS Sebut Harga Telur Ayam Nasional Menurun pada Juli 2026

Senin, 20 Juli 2026 | 01:22:32 WIB
Telur Ayam.

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan adanya kecenderungan penurunan harga telur ayam ras di sebagian besar daerah Indonesia pada minggu ketiga Juli 2026.

Meski demikian, disparitas harga masih terjadi lantaran beberapa daerah tercatat mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menerangkan bahwasanya 72,50 persen wilayah di tanah air mencatatkan penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) telur ayam ras.

Di samping itu, jumlah kabupaten atau kota yang membukukan kenaikan IPH terus berkurang dari 22 wilayah menjadi tersisa 20 daerah pada pekan ketiga Juli 2026.

"Telur ayam ras, sejak bulan Maret 2026 ini terus mengalami penurunan tiap minggunya. Kondisi sekarang harganya Rp29.158 (per kg) di bawah HAP (harga acuan penjualan). HAP-nya Rp30.000 (per kg), atau menurun 3,49 persen. Ada 72,50 persen Kabupaten/Kota yang mengalami penurunan, atau jumlahnya saat ini menjadi 20 Kabupaten/Kota," kata Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (20/7/2026).

Kendati mayoritas kawasan menunjukkan tren penurunan, Ateng menggarisbawahi bahwa beberapa daerah di wilayah timur masih mencatat lonjakan harga di atas rentang acuan.

"Ada beberapa Kabupaten/Kota yang cukup tinggi, yaitu di Kabupaten Mahakam Ulu, ini 93 persen di atas HAP. Kemudian Kabupaten Dogiyai 50 persen (di atas HAP), dan ini bahkan Kabupaten Mappi 110 persen (di atas HAP)," ujarnya.

Merujuk pada data paparan BPS, tingkat harga terendah terpantau di Kabupaten Bantaeng yakni Rp23.883 per kilogram atau berada 20,39 persen di bawah HAP.

Sebaliknya, lonjakan tertinggi dialami Kabupaten Mappi yang menembus Rp63.000 per kilogram atau mencapai 110 persen melebihi patokan HAP.

Selain telur, BPS mencatat bahwasanya rata-rata harga daging ayam ras secara nasional turut terdorong turun 1,49 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi Rp37.523 per kilogram.

"Untuk daging ayam ras, ini mengalami penurunan 1,49 persen atau berada di bawah HAP Rp40.000 per kg, sedangkan harga rata-rata daging ayam ras mencapai Rp37.500 per kg pada kondisi minggu ketiga Juli," jelasnya.

Ia menambahkan bahwasanya sebanyak 56,11 persen wilayah di Indonesia mencatatkan grafik penurunan IPH untuk komoditas daging ayam ras.

"Ada 56 persen Kabupaten/Kota yang mengalami penurunan. Walaupun demikian, jika dilihat dari kuantitasnya yaitu ada 55 Kabupaten/Kota yang mengalami peningkatan IPH-nya, atau naik dari minggu lalunya 46 Kabupaten/Kota," jelas dia.

Mengenai situasi di tingkat produsen, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi menyatakan harga ayam hidup (livebird) mulai berangsur naik walau masih di bawah biaya pokok produksi.

"Harga ayam sudah mulai bergerak naik, mulai hari Senin 13 Juli 2026 setidaknya kerugian para peternak berkurang. Saat ini harga ayam hidup (di peternak) di kisaran Rp20.000 per kg, dibandingkan dengan Juni yang Rp13.000 (per kg). Artinya ada kenaikan. Biaya pokok peternak saat ini Rp20.000-Rp22.000 per kg," kata Sugeng.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional (APLN) Musbar Mesdi mengungkapkan bahwa tekanan di tingkat peternak telur masih membayangi akibat pelemahan daya beli.

"Harga jual komoditas kami parah gara-gara biaya hidup harian masyarakat berat sekali. Harga telur di tingkat peternak Rp21.000-Rp22.000 per kg, sementara titik impas dengan kondisi saat ini, atau biaya pokok produksinya untuk ayam petelur Rp23.000-Rp24.000 per kg," kata Musbar.

Terkini