Danantara Minta Waskita Karya Alihkan Fokus Bisnis ke Jalan Tol

Senin, 20 Juli 2026 | 02:51:01 WIB
Ilustrasi Gedung Danantara.

JAKARTA Danantara Indonesia dan Badan Pengaturan (BP) BUMN saat ini sedang mengintensifkan proses restrukturisasi serta perbaikan kesehatan finansial BUMN Karya menjelang pelaksanaan merger yang dijadwalkan pada kuartal IV/2026.

Penundaan jadwal penggabungan dari rencana awal pada Juni 2026 ini terjadi lantaran rumitnya proses penataan kembali kewajiban utang serta pembenahan internal di setiap perusahaan konstruksi milik negara.

Pemerintah menetapkan pemulihan struktur permodalan dan arus kas sebagai persyaratan utama sebelum mengonsolidasikan tujuh BUMN Karya menjadi tiga entitas besar.

Chief Operating Officer (COO) Danantara yang juga menjabat Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa fokus utama pembenahan meliputi penyelesaian restrukturisasi utang, penguatan arus kas, dan penekanan beban bunga operasional bagi emiten BUMN Karya seperti WIKA, WSKT, PTPP, dan ADHI.

“BUMN Karya awalnya kan Juni, yang kemungkinan nanti akan digeser menjadi kuartal keempat karena memang masih banyak restrukturisasi yang harus diselesaikannya,” ujar Dony saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sepanjang masa transisi ini, Danantara telah melakukan koordinasi intensif bersama jajaran Direksi Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan pihak manajemen BUMN Karya.

Pada awal Juli, Danantara bersama tiga bank BUMN, yaitu Bank Mandiri, BRI, dan BNI, telah menyusun skema bantuan pendanaan guna menyokong penyehatan PTPP serta ADHI, dengan prioritas pembiayaan pada proyek-proyek yang produktif.

Sementara itu, strategi transformasi khusus disiapkan bagi PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT). Lewat evaluasi bersama jajaran manajemen WSKT pekan lalu, Danantara meminta perusahaan tersebut mengalihkan fokus bisnisnya ke pengelolaan jalan tol demi memperkuat kondisi finansial.

Langkah pergeseran fokus bisnis WSKT ini didukung oleh kepemilikan portofolio infrastruktur lewat PT Waskita Toll Road (WTR), yang membawahi enam pengelola ruas jalan tol strategis di wilayah Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

“Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar,” ujar Dony dalam keterangan tertulisnya.

Upaya penyehatan tersebut beriringan dengan peningkatan kinerja operasional WSKT, yang sukses memangkas rugi bersih sebesar 16,96% secara tahunan menjadi Rp1,91 triliun pada semester I/2026.

Danantara pun optimistis bahwa pembenahan model bisnis, penguatan tata kelola, serta penyelesaian utang di tiap kontraktor pelat merah akan memperkuat fondasi BUMN Karya sebelum resmi dikonsolidasikan pada akhir tahun ini.

Terkini