JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengondisikan susutnya rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sepanjang paruh pertama 2026, menyelaraskan tren ketertekanan margin di industri perbankan nasional.
Kendati mengalami tekanan, perseroan sanggup mengawal performanya lewat sokongan ekspansi pembiayaan, porsi dana murah yang solid, hingga kualitas aset yang terjaga.
Direktur dan Chief Financial Officer BCA Vera Eve Lim menerangkan angka NIM perseroan per pertengahan 2026 berada di level 5,3 persen, alias menyusut 50 basis poin dibandingkan capaian 5,8 persen pada kurun waktu setahun silam.
"Untuk NIM, pada semester pertama 2026 ditutup dengan 5,3% dibandingkan dengan tahun lalu 5,8%. Jadi turun 50 basis poin. Ini seiring dengan yang kami lihat juga di industri perbankan," ujar Vera saat pemaparan kinerja.
Menurut penjelasannya, margin tergerus lantaran pelemahan suku bunga pinjaman sepanjang tahun 2025 yang dampaknya membentang hingga triwulan pertama 2026.
Istimewanya, gesekan persaingan antarpelaku pasar serta upaya memacu laju pembiayaan turut memperberat tekanan margin.
Kendati margin menyusut, langkah ekspansi bisnis BCA di paruh awal tahun ini tetap terakselerasi.
Kucuran pembiayaan dari BCA beserta entitas anak melompat 8 persen secara tahunan hingga menembus Rp1.036 triliun, menorehkan rekor baru di mana kredit perseroan melampaui angka Rp1.000 triliun untuk kali pertama.
Laju pembiayaan ini utamanya digerakkan oleh kredit produktif yang menyerap Rp802 triliun atau naik 11 persen secara tahunan.
Secara rincian, segmen korporasi melesat 13,6 persen secara tahunan ke angka Rp513,4 triliun, sedangkan porsi komersial dan UKM naik 6,6 persen menjadi Rp288,5 triliun.
Pada ranah penghimpunan dana, perseroan tetap digdaya berkat porsi dana murah.
Pundi-pundi giro dan tabungan (CASA) melonjak 10,2 persen secara tahunan menyentuh Rp1.082 triliun, yang mendorong total dana pihak ketiga (DPK) merangkak 7,9 persen menjadi Rp1.284 triliun.
Komposisi CASA yang memegang porsi 84,3 persen dari keseluruhan DPK amat ampuh menekan beban biaya dana (cost of fund) perseroan.
Dari sisi profitabilitas, BCA bersama entitas anak sukses mendulang laba sebesar Rp29,5 triliun pada semester I 2026, ditopang perolehan pendapatan non-bunga yang menyentuh Rp13,2 triliun atau naik 11 persen secara tahunan.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menegaskan perseroan senantiasa berhati-hati meracik kebijakan suku bunga kredit, menyikapi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia setinggi 100 basis poin.
Penyesuaian tarif pinjaman tak serta-merta dibebankan ke seluruh debitur, melainkan menimbang masa berlaku fasilitas dan dinamika usaha masing-masing pihak.
"Kami tidak menaikkan di semua nasabah. Kami hanya menaikkan nasabah yang selektif yang kami lihat dari sisi bisnis masih bisa untuk kami naikkan. Untuk nasabah yang ratenya sudah tinggi, kami tidak naikkan," tegas Hendra.
Proses penyesuaian bunga pinjaman perseroan hingga pertengahan 2026 tergolong amat terukur, di mana peningkatan bunga kredit secara kuartalan sekadar naik 4 basis poin, jauh di bawah penyesuaian BI Rate sebesar 100 basis poin.
Di tengah imbas margin, BCA memilih bertahan tanpa mengubah Rencana Bisnis Bank (RBB) dan optimis mematok target laju kredit pada kisaran 8 persen hingga 10 persen sampai penghujung tahun 2026.
Hendra optimistis variasi model bisnis BCA mampu membentengi perusahaan saat menghadapi gejolak ekonomi.
"Apapun situasinya, kami melihat selalu ada kesempatan untuk terus memberikan solusi kepada nasabah. Selama pertumbuhan jumlah nasabah tetap baik, bisnis kami juga akan terus tumbuh," tutupnya.