Bumi Resources Raih Laba Bersih Rp1,05 Triliun Pada Semester I 2026

Selasa, 04 Agustus 2026 | 01:47:01 WIB
Emiten batu bara kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim PT Bumi Resources Tbk.

JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), emiten pertambangan batu bara milik Grup Bakrie dan Salim, mencatatkan lonjakan kinerja keuangan signifikan pada semester I 2026 dengan laba bersih melesat 188 persen secara tahunan.

Merujuk data laporan keuangan hingga akhir Juni 2026, BUMI meraup perolehan laba bersih entitas induk mencapai US$58,9 juta atau setara Rp1,05 triliun (berpatokan pada kurs JISDOR per 30 Juni 2026 sebesar Rp17.899 per dolar AS) pada semester I 2026.

Group Head of Corporate Communications & CSR Bumi Resources Renno Wicaksono mengungkapkan bahwa raihan gemilang tersebut disokong oleh tambahan kontribusi keuntungan dari aset perseroan yang beroperasi di Australia.

“Hal ini sebagian mencerminkan kontribusi laba tambahan dari aset perseroan di Australia, yang belum menjadi bagian dari bisnis pembanding pada periode yang sama tahun sebelumnya,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (4/8/2026).

Lompatan perolehan bottom line perseroan berbanding lurus dengan pertumbuhan pendapatan konsolidasi yang merangkak naik 27,9 persen year on year (YoY) menyentuh US$866,8 juta dibanding semester I 2025 yang tercatat US$677,9 juta.

Seiring penguatan top line, beban pokok pendapatan BUMI mengalami kenaikan 26,3 persen YoY menjadi US$720,8 juta.

Meski demikian, capaian laba bruto perseroan tetap sanggup menguat 36,3 persen YoY menjadi US$145,9 juta dibandingkan nilai sebelumnya di posisi US$107,0 juta.

Torehan laba sebelum pajak perseroan turut melipat ganda hingga 102,5 persen YoY menjadi US$104,3 juta sepanjang paruh pertama 2026.

Hasil positif tersebut ditopang oleh pelebaran marjin usaha menjadi 9,6 persen dari posisi 8,2 persen pada semester I 2025.

Pihak manajemen BUMI memaparkan bahwa performa yang kuat ini didorong oleh integrasi kenaikan volume produksi, efisiensi operasional penambangan, serta perbaikan average selling price (ASP) batu bara selama paruh pertama 2026.

Dari aspek operasional, BUMI mengamankan volume produksi batu bara mencapai 38,5 juta ton pada semester I 2026.

Angka produksi tersebut tumbuh 7,1 persen secara tahunan jika dibandingkan dengan perolehan 35,9 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Selaras dengan tren tersebut, volume penjualan batu bara ikut melesat 11,7 persen YoY menjadi 38,8 juta ton.

Dominasi tingkat penjualan yang melampaui angka produksi turut memangkas posisi stok persediaan batu bara menjadi 1,7 juta ton per akhir Juni 2026.

Di sisi lain, harga jual rata-rata (FOB) batu bara milik BUMI mengalami tren pemulihan sebesar 2,6 persen secara tahunan ke level US$62,9 per ton dari posisi US$61,3 per ton pada semester I 2025.

Perseroan juga berhasil menekan efisiensi rasio kupasan tanah (strip ratio) yang membaik ke posisi 7,5x dari angka sebelumnya 8,1x.

Realisasi total penjualan yang mencapai 38,8 juta ton pada semester I 2026 dinilai masih berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target tahunan perusahaan.

Memasuki sisa tahun 2026, BUMI konsisten mempertahankan panduan target volume penjualan di kisaran 82 juta hingga 84 juta ton, dengan estimasi harga rata-rata US$60—US$62 per ton serta beban biaya produksi US$42—US$44 per ton.

Selain itu, perseroan menegaskan bakal memacu eksekusi strategi diversifikasi ke sektor pertambangan non-batu bara, termasuk mengintegrasikan aset tembaga dan emas di Australia lewat Wolfram Limited dan Jubilee Metals Limited demi memperkokoh daya tahan bisnis jangka panjang.

Terkini