IJBNet Fokus Wujudkan Kerja Sama Konkret Indonesia dan Jepang

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:11:02 WIB
Bongkar muat barang di terminal peti kemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan [FOTO: NET].

JAKARTA - Indonesia-Japan Business Network (IJBNet) menginjak usia kedelapan dengan mengukuhkan fungsi sebagai jembatan sinergi bisnis di antara Indonesia dan Jepang. Menapaki tahun kesembilan, IJBNet mematok sasaran agar konektivitas yang terbentuk tidak berhenti pada tataran relasi semata, melainkan membuahkan kerja sama nyata serta berdampak bagi kedua negara.

Ketua Umum IJBNet Suyoto Rais mengemukakan bahwa delapan tahun perjalanan organisasi tidak hanya diukur dari usia, tetapi dari kemampuan jejaring tersebut mempertemukan potensi kedua negara menjadi kolaborasi yang memberikan manfaat nyata.

“Karena itu, setelah delapan tahun, kami ingin IJBNet tidak berhenti pada networking, tetapi bergerak lebih jauh menuju kolaborasi yang konkret dan memberikan dampak,” kata Suyoto dalam acara peringatan 8 tahun IJBNet di Gedung PIDI 4.0 Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut pandangannya, Indonesia dan Jepang mempunyai keunggulan yang saling mengisi. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya, pasar yang luas, serta talenta berlimpah, sementara Jepang menguasai teknologi, pengalaman industrial, dan jaringan bisnis yang tangguh.

Maka dari itu, tantangan ke depan adalah mempertemukan kekuatan tersebut dalam bentuk kerja sama yang berkelanjutan, terutama ketika lanskap industri global terus mengalami perubahan.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian Tri Supondy menyampaikan, kemitraan Indonesia-Jepang perlu diarahkan pada peningkatan investasi, penguatan teknologi, peningkatan daya saing industri, serta pengembangan sumber daya manusia.

Berdasarkan penilaiannya, transformasi digital, dekarbonisasi, energi baru dan terbarukan, pergeseran rantai pasok global, serta kebutuhan tenaga kerja terampil menjadi tantangan yang perlu dihadapi melalui kolaborasi lintas negara.

“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian dan mitra internasional menjadi semakin penting. Indonesia membutuhkan mitra strategis yang dapat bersama-sama membangun industri yang kuat, inovatif dan berkelanjutan,” sebutnya.

Dalam perayaan sewindu tersebut, IJBNet mempertemukan sejumlah mitra Jepang untuk membahas peluang kerja sama di sektor green power, energi terbarukan, teknologi lingkungan, teknologi satelit, pengembangan bisnis, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Kuasa Usaha ad interim Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Mr. Myochin Mitsuru menuturkan, hubungan kedua negara telah berkembang melampaui kerja sama perdagangan konvensional. Menurutnya, hubungan ekonomi, industri, teknologi, investasi, dan sumber daya manusia membuka peluang baru bagi kedua negara.

Jejaring bisnis dinilai memiliki peran penting dalam menerjemahkan hubungan antarpemerintah menjadi kerja sama konkret di tingkat pelaku usaha dan masyarakat.

“Kami menyambut baik berbagai upaya yang mempertemukan dunia usaha dan pemangku kepentingan Indonesia dan Jepang. Kami berharap hubungan persahabatan dan kemitraan kedua negara dapat terus berkembang melalui kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara,” katanya.

Sejumlah isu strategis menjadi perhatian dalam rangkaian business matching dan panel discussion IJBNet, antara lain pengembangan sustainable aviation fuel (SAF), dekarbonisasi dan pemanfaatan teknologi satelit, serta penempatan tenaga kerja Indonesia ke Jepang.

Pengembangan bahan baku SAF menjadi salah satu peluang yang dibahas seiring meningkatnya kebutuhan industri penerbangan terhadap sumber energi yang lebih berkelanjutan. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, lembaga penelitian, pelaku usaha, dan mitra Jepang untuk membahas potensi bahan baku dan pengembangan rantai pasok SAF.

Sementara itu, pemanfaatan teknologi satelit dan data geospasial diarahkan untuk mendukung transformasi menuju ekonomi rendah karbon. Teknologi tersebut dinilai dapat memberikan dukungan terhadap kebutuhan data yang lebih akurat dalam pengelolaan lahan dan berbagai kegiatan industri.

Adapun sektor sumber daya manusia menjadi peluang lain yang ingin dikembangkan IJBNet. Kebutuhan Jepang terhadap tenaga kerja terampil dinilai dapat menjadi ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan penempatan pekerja sekaligus memperkuat kualitas SDM.

Pengembangan tenaga kerja Indonesia ke Jepang dinilai tidak dapat hanya berorientasi pada keberangkatan pekerja. Aspek kompetensi, bahasa, budaya kerja, perlindungan, produktivitas, dan keberlanjutan karier juga perlu diperhatikan.

Dalam momentum sewindu, IJBNet juga memperkenalkan JOBAGUS, sebuah sistem dan platform yang dikembangkan untuk mendukung ekosistem pekerja Indonesia menuju Jepang. Platform tersebut diarahkan untuk membangun sistem monitoring dan dukungan yang lebih terintegrasi dengan menghubungkan pendidikan, pelatihan, dunia usaha, pemerintah, pekerja, dan kebutuhan industri Jepang.

IJBNet menilai pendekatan tersebut diperlukan agar tenaga kerja Indonesia tidak sekadar menjadi pengisi kebutuhan tenaga kerja di Jepang, tetapi juga menjadi bagian dari hubungan ekonomi dan sosial kedua negara.

Sekretaris Jenderal IJBNet Dr. Salim Mustofa menerangkan, memasuki tahun kesembilan, organisasi akan mengarahkan fokus pada implementasi berbagai jejaring yang telah dibangun selama delapan tahun terakhir.

“Kami ingin tahun-tahun berikutnya menjadi fase implementasi. Kalau selama ini kami membangun network, maka sekarang network tersebut harus menghasilkan kolaborasi. Dan kolaborasi harus menghasilkan impact,” kata Salim.

Ia menambahkan, IJBNet akan terus membuka ruang kolaborasi bagi dunia usaha, pemerintah, akademisi, asosiasi, dan mitra Jepang untuk mengembangkan berbagai program bersama.

“Indonesia dan Jepang memiliki hubungan yang sangat panjang. Tugas kami adalah memastikan hubungan tersebut terus relevan dengan kebutuhan zaman dan menghasilkan manfaat bagi generasi berikutnya,” pungkas Salim.

Terkini