IHSG Anjlok 1,18% di Sesi I, Sentimen MSCI Tekan Pasar Modal

Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:31:01 WIB
Investor mengamati layar pergerakan harga saham [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) terpaksa ditutup di zona merah pada jeda perdagangan siang hari ini, Kamis (13/8/2026). Mengacu pada data RTI Infokom, IHSG mengalami pelemahan sebesar 1,18% hingga bertengger di level 6.298,34 pada akhir sesi pertama perdagangan. Tercatat sebanyak 175 saham berhasil menguat, 429 saham mengalami pelemahan, dan sebanyak 183 saham berada dalam posisi stagnan.

Berdasarkan pengumuman MSCI Equity Indexes August 2026 Index Review, diputuskan bahwa dua saham konstituen asal Indonesia, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), resmi didepak dari daftar MSCI Global Standard Indexes.

 Khusus untuk saham CPIN, emiten dari sektor unggas tersebut mengalami penurunan kelas ke dalam indeks MSCI Global Small Cap Indexes. Di samping itu, terdapat pula sembilan saham asal Indonesia lainnya yang turut tercatat keluar dari jajaran MSCI Global Small Cap Indexes.

Akibat sentimen tersebut, saham CPIN ditutup terkoreksi turun 1,59% menjadi Rp3.100 pada siang hari ini, sementara pergerakan saham GOTO harus tertahan di level gocap.

Menanggapi dinamika tersebut, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa keluarnya sejumlah saham unggulan Indonesia dari indeks global ini merupakan sebuah alarm peringatan keras. 

Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan yang dihadapi oleh pasar modal Indonesia saat ini bukan lagi sekadar permasalahan kuantitas jumlah emiten atau besaran kapitalisasi pasar, melainkan sudah menyentuh aspek fundamental terkait kualitas likuiditas serta tingkat kelayakan investasi (investability).

"Yang lebih mengkhawatirkan, kasus ini terjadi ketika pasar modal Indonesia sedang berupaya meyakinkan investor global bahwa reformasi pasar sudah berjalan," kata Hendra, Kamis (13/8/2026).

Di satu sisi, pasar modal domestik saat ini terus menggenjot berbagai langkah perbaikan, seperti peningkatan porsi kepemilikan saham publik (free float), transparansi data pemegang saham, penguatan standar tata kelola perusahaan, serta serangkaian agenda reformasi lainnya. 

Namun, pada saat yang sama, sejumlah saham andalan Indonesia justru kehilangan posisinya di dalam indeks global yang selama ini menjadi salah satu rujukan utama bagi para investor institusi dunia.

Menurut pandangannya, keluarnya saham GOTO dari indeks global harus disikapi secara jauh lebih kritis, mengingat emiten tersebut merupakan salah satu perusahaan berkapitalisasi pasar besar yang selama ini memegang peranan penting di dalam ekosistem pasar modal Indonesia.

 Akan tetapi, fakta di lapangan membuktikan bahwa ukuran kapitalisasi pasar yang besar tidak serta-merta merepresentasikan tingkat investability yang kuat.

Bagi kalangan investor global, kata Hendra, besaran porsi saham yang benar-benar tersedia bebas di pasar untuk publik serta tingkat kemudahan saham tersebut untuk diperjualbelikan dalam volume besar tanpa mengganggu stabilitas harga jauh lebih diapresiasi ketimbang sekadar ukuran nilai perusahaan secara nominal.

Sepanjang tahun berjalan hingga tanggal 12 Agustus 2026, akumulasi aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di pasar saham domestik telah tercatat mencapai angka Rp70,42 triliun. Menghadapi situasi yang kurang kondusif ini, Hendra berpandangan bahwa keluarnya saham-saham asal Indonesia dari indeks acuan global berpotensi memperburuk persepsi para investor serta memicu aliran masuk dana asing menjadi semakin selektif.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ketika dalam satu periode peninjauan (review) MSCI terdapat beberapa saham Indonesia sekaligus yang terdepak dari indeks, maka arah pertanyaan kritis harus ditujukan langsung pada evaluasi kualitas ekosistem pasar modal secara menyeluruh.

"Ini juga menjadi kritik terhadap pendekatan pengembangan pasar modal yang terlalu berorientasi pada supply side. Menambah emiten, menerbitkan produk baru dan memperbesar jumlah perusahaan tercatat memang penting, tetapi percuma jika tidak diikuti pertumbuhan demand dan likuiditas," jelasnya.

Terkini