JAKARTA - Menari tidak cuma sekadar kegiatan untuk menjaga kesegaran fisik. Sederet riset membuktikan bahwa aktivitas yang memadukan olah tubuh, irama musik, daya ingat, dan koordinasi ini berpotensi besar menjaga fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.
Melansir Harper's Bazaar, seni tari menuntut otak bekerja pada beberapa aktivitas sekaligus. Mulai dari mengingat urutan gerak, menyesuaikan irama, menjaga keseimbangan, hingga beradaptasi saat terjadi kekeliruan.
Kondisi tersebut menjadikan seni tari mulai diperhitungkan sebagai aktivitas yang mendukung kesehatan organ otak sekaligus meminimalkan risiko penurunan kemampuan kognitif.
Mengapa Menari Baik untuk Otak?
Penari sekaligus koreografer Angela Trimbur mengungkapkan bahwa mempelajari rangkaian koreografi memaksa otak untuk terus berhadapan dengan pola dan gerak baru.
“Ketika kami belajar koreografi, kami meminta otak untuk melakukan begitu banyak hal sekaligus: mengingat urutan gerakan, memproses musik, mengoordinasikan gerakan, beradaptasi ketika kami membuat kesalahan, dan tetap fokus pada orang lain di ruangan,” kata Trimbur.
Menurutnya, proses ini menjadi sarana latihan yang efektif bagi otak karena seseorang tidak sekadar melakukan gerakan monoton, melainkan terus menyerap hal baru.
Direktur Women's Brain Initiative dan Alzheimer's Prevention Program di Weill Cornell Medicine, Lisa Mosconi, menyebut perpaduan antara olah fisik dan proses belajar menjadi poin krusial dari manfaat tari.
“Gerakan baru bukan sekadar olahraga. Ini adalah olahraga ditambah pembelajaran. Dan kombinasi itu tampaknya sangat ampuh untuk menjaga kesehatan otak seiring bertambahnya usia,” ujar Mosconi.
Dengan demikian, faedah seni tari tidak cuma bersumber dari gerak fisiknya saja, melainkan juga dari tantangan mental yang hadir sewaktu seseorang harus menguasai gerakan baru.
Penelitian Menunjukkan Manfaat pada Fungsi Kognitif
Faedah tersebut diperkuat oleh hasil meta-analisis terhadap 10 penelitian yang melibatkan hampir 1.000 responden.
Hasil analisis mengindikasikan bahwa terapi tari berkaitan erat dengan peningkatan fungsi kognitif secara menyeluruh, termasuk fungsi eksekutif dan berbahasa, sekaligus meredakan gejala depresi.
Pendiri program Dance for PD, David Leventhal, menyampaikan bahwa seni tari turut mengaktifkan berbagai sistem tubuh serta indera secara bersamaan.
“Tari menantang memori, perhatian, fungsi eksekutif, koordinasi motorik, dan kognisi sosial secara bersamaan,” jelas Mosconi.
Ia pun menilai unsur kesenangan dalam menari amat penting lantaran kegiatan yang menyenangkan lebih mudah dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.
Bukan Sekadar Menghafal Gerakan
Tantangan dalam menari tidak berhenti pada kemampuan mengingat urutan gerakan. Menurut Trimbur, koreografi baru memaksa seseorang keluar dari kebiasaan gerak harian.
Tubuh diajak berpindah arah, mengikuti ritme yang berbeda, hingga mengeksplorasi ragam bentuk gerakan. Proses ini berkaitan erat dengan neuroplastisitas, yakni kemampuan otak dalam beradaptasi serta membentuk koneksi baru.
“Orang-orang yang tampak paling bersemangat seiring bertambahnya usia tidak hanya terus berolahraga. Mereka terus belajar. Mereka terus hidup dalam kejutan,” ujar Trimbur.
Di samping gerakan dan proses belajar, menari bersama kelompok memberikan dampak sosial yang positif. Interaksi sosial ini menjadi salah satu faktor pelindung dari penurunan daya ingat.
Menari Saja Tidak Cukup
Kendati kaya manfaat bagi organ otak, menari bukanlah satu-satunya kegiatan yang wajib dilakukan untuk memelihara fungsi kognitif.
Pelatih kesehatan otak di Pacific Neuroscience Institute, Ryan Glatt, menyarankan agar variasi aktivitas fisik tetap dilakukan, seperti latihan kekuatan, yoga, tenis meja, atau olahraga aerobik lainnya.
Dengan kata lain, menari dapat dijadikan bagian dari gaya hidup aktif, bukan sebagai satu-satunya cara tunggal untuk mencegah demensia.
Mosconi juga mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu memasuki usia senja sebelum mulai menjaga kesehatan otak. Ia menyebut masa transisi menopause sebagai momentum penting bagi perempuan untuk membangun kebiasaan sehat.
Seseorang tidak harus menjadi penari profesional untuk memetik manfaat ini. Rutin mengikuti kelas tari, mempelajari gerakan baru, atau sekadar mencoba jenis tarian baru sudah cukup untuk membuat tubuh dan otak tetap aktif.