Kemenekraf Dorong Keraton dan Adat Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:57:33 WIB
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memberikan dorongan kepada pihak keraton dan masyarakat adat agar tidak sekadar berfungsi sebagai garda dalam upaya pelestarian warisan budaya, melainkan turut bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi kreatif yang berbasiskan kebudayaan.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan bahwa ragam kekayaan budaya yang tersimpan di dalam keraton serta masyarakat adat menyimpan potensi nilai ekonomi yang sangat besar jika diintegrasikan dan dikembangkan melalui ekosistem ekonomi kreatif yang matang.

“Kementerian Ekraf melihat keraton dan masyarakat adat sebagai bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan melalui ekosistem ekonomi kreatif. Pelestarian budaya perlu berjalan berdampingan dengan inovasi agar nilai-nilai tradisi tetap hidup, sekaligus dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Teuku Riefky dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Menurut pandangannya, proses pengembangan potensi tersebut dapat diwujudkan melalui kerja sama yang sinergis lintas subsektor, yang mencakup bidang seni pertunjukan, seni rupa, kriya, fesyen, arsitektur, desain, hingga kuliner.

Salah satu peluang strategis yang turut dibahas adalah inisiatif pengembangan Festival Keraton dan Masyarakat Adat ASEAN (FKMA). Ajang festival ini dipandang mampu menjadi wadah yang ideal untuk memperkenalkan khazanah kekayaan budaya keraton dan masyarakat adat nusantara, sekaligus memperluas jejaring kerja sama ekonomi kreatif di tingkat regional ASEAN.

Sementara itu, Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) sekaligus Raja Turikale VIII Maros, AA Mapparessa, mengungkapkan bahwa berbagai potensi yang dimiliki keraton sangat mungkin untuk dikembangkan menjadi sebuah model pariwisata serta ekonomi kreatif yang mampu mendatangkan nilai tambah nyata bagi masyarakat luas.

Sebagai contoh, ia menuturkan program wisata Hindu Heritage di wilayah Jakarta Selatan yang sempat diinisiasi oleh FSKN. Program tersebut diharapkan bisa menjadi acuan awal dalam pengembangan model pariwisata berbasis keraton yang nantinya dapat direplikasi di berbagai daerah lainnya.

“Kami ingin mengangkat nilai-nilai budaya dan potensi keraton, baik dari sisi pariwisata maupun ekonomi kreatif,” kata AA Mapparessa.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa momentum peringatan lima abad Kota Jakarta juga dapat dimanfaatkan secara optimal guna mengangkat potensi budaya serta keberadaan keraton sebagai elemen penting dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di pusat kegiatan nasional.

Ke depannya, Kemenekraf akan mengkaji berbagai peluang kolaborasi dan sinergi antara penyelenggaraan FKMA dengan program-program pengembangan subsektor kreatif yang dinilai relevan. Kemitraan strategis ini diharapkan tidak hanya berhenti pada tataran pelestarian tradisi semata, melainkan mampu melahirkan ragam produk unggulan, pengalaman wisata yang menarik, serta aktivitas kreatif yang bernilai ekonomis tinggi.

Dengan langkah-langkah tersebut, keraton dan masyarakat adat diharapkan mampu mengambil peran ganda sebagai sumber inspirasi sekaligus bagian integral dari rantai nilai ekonomi kreatif, sehingga kelestarian kekayaan budaya Nusantara dapat terus terjaga dan memberikan dampak kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat.

Terkini