Menuju Profit 2027, Begini Kondisi Kinerja Keuangan Garuda Indonesia

Senin, 17 Agustus 2026 | 01:29:01 WIB
Ilustrasi Pegawai melakukan perawatan pesawat milik grup Garuda Indonesia [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) kembali menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto menetapkan target agar maskapai nasional tersebut mulai meraup keuntungan pada awal tahun 2027, setelah sekian lama bergelut dengan tantangan keuangan. Harapan ini diungkapkan Presiden Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). 

Menurut Kepala Negara, prospek Garuda untuk berbalik mencetak laba semakin terbuka seiring pemulihan armada yang sebelumnya sempat mengalami grounded. Hingga Juni 2026, sebanyak 20 pesawat telah kembali diaktifkan sehingga total armada yang beroperasi mencapai sekitar 140 unit. Prabowo juga memproyeksikan jika tidak terjadi konflik di Timur Tengah, maskapai tersebut seharusnya sudah mampu membukukan laba pada Juli ini.

Emiten berkode saham GIAA ini memang belum merilis laporan kinerja keuangan untuk kuartal II/2026. Namun, optimisme pemerintah sejalan dengan perbaikan performa Garuda Indonesia Group pada awal 2026. Mengacu pada kinerja kuartal I/2026, rugi bersih konsolidasi GIAA menyusut 45,2% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$41,6 juta, dari US$75,9 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pada periode yang sama, pendapatan usaha tumbuh 5,4% yoy menjadi US$762,4 juta, di mana segmen penerbangan berjadwal menjadi kontributor utama dengan pendapatan US$648,1 juta, naik 7,4% yoy atau sekitar 80% dari total pendapatan grup. 

Dari sisi operasional, laba operasional (EBIT) melesat 47,2% yoy menjadi US$46,5 juta, sementara EBITDA naik 7% menjadi US$210,4 juta. Di saat yang sama, Garuda sukses menekan beban usaha sebesar 0,7% menjadi US$713,2 juta, termasuk penurunan beban bahan bakar sebesar 3,7% menjadi US$224,7 juta serta biaya pemeliharaan yang terpangkas 9,1% menjadi US$48,6 juta.

Pemulihan armada menjadi kunci utama perbaikan kinerja ini. Per akhir Maret 2026, Garuda Indonesia Group mengoperasikan 142 unit pesawat, yang terdiri dari 78 unit milik Garuda Indonesia dan 64 unit milik Citilink. 

Peningkatan kapasitas ini mendorong frekuensi penerbangan kuartal I/2026 naik 5,87% yoy menjadi 38.675 penerbangan, dengan jumlah penumpang tumbuh 6,76% menjadi 5,42 juta orang. Selain itu, passenger yield tercatat tumbuh 2,49% yoy menjadi 7,56 sen dengan tingkat keterisian kursi (seat load factor) terjaga di 78,07%, sementara on time performance (OTP) meningkat menjadi 91,01%.

Garuda terus melanjutkan pengembangan armada. Pada kuartal II/2026, perseroan menjadwalkan kedatangan empat unit Boeing 737-800, disusul dua unit Boeing 737-8 pada akhir 2026. Dengan kombinasi pemulihan armada, pertumbuhan penumpang, peningkatan pendapatan, serta efisiensi biaya, target pemerintah bagi Garuda untuk berbalik untung pada awal 2027 kini memiliki fondasi kinerja yang lebih solid. 

Meskipun demikian, faktor eksternal seperti harga avtur dan dinamika geopolitik tetap menjadi tantangan yang perlu diwaspadai karena berpotensi menekan margin maskapai.

Terkini