JAKARTA - Bawang telah lama menjadi salah satu bahan pelengkap yang hampir selalu dijumpai dalam berbagai sajian kuliner. Mulai dari menu telur dadar, aneka tumisan, sup, hingga hidangan yang digoreng, keberadaan bawang terbukti mampu memberikan aroma serta cita rasa yang semakin lezat.
Kendati demikian, terdapat satu hal yang kerap kali menimbulkan ketidaknyamanan bagi banyak orang saat sedang menyiapkan bahan makanan ini, yakni munculnya sensasi mata berair serta hidung meler ketika bawang diiris.
Lantas, mengapa fenomena tersebut bisa terjadi? Mengapa aktivitas memotong bawang selalu identik dengan tangisan? Berdasarkan penjelasan dari laman Healthline, keluarnya air mata pada saat seseorang mengiris bawang sama sekali bukan disebabkan oleh faktor emosional. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk respons pertahanan alami dari tubuh terhadap paparan zat asing yang bersifat mengiritasi organ penglihatan.
Tanaman bawang tumbuh di dalam tanah dan dibekali dengan mekanisme pertahanan diri khusus guna melindungi diri dari berbagai jenis hewan yang berpotensi memakan umbi tersebut. Ketika bagian kulit serta jaringan sel bawang mengalami kerusakan akibat terkena irisan pisau, bawang secara otomatis akan melepaskan enzim beserta senyawa asam sulfenat ke udara.
Pertemuan antara kedua senyawa kimia ini kemudian menghasilkan suatu jenis gas yang dinamakan propanethial S-oxide. Perlu diketahui bahwa gas tersebut tergolong sebagai zat lachrymatory, yaitu senyawa pemicu keluarnya air mata.
Begitu gas tersebut melayang dan mencapai area mata, zat kimia itu langsung bereaksi dengan lapisan air pelindung yang menutupi permukaan bola mata sehingga memicu terjadinya iritasi ringan. Saraf-saraf di dalam mata kemudian mendeteksi kehadiran zat iritan tersebut dan secara refleks memerintahkan kelenjar air mata untuk memproduksi cairan guna membilas zat asing tersebut keluar.
Fenomena inilah yang menjadi alasan utama mengapa mata seseorang bisa terasa sangat perih dan berair tatkala sedang memotong bawang.
Meskipun demikian, tingkat reaksi yang ditimbulkan pada setiap individu tidak selalu sama. Sebagian orang mungkin hanya merasakan gejala mata berair dalam takaran yang ringan, sementara sebagian lainnya bisa mengalami reaksi iritasi yang jauh lebih kuat. Terlebih bagi individu yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi ataupun alergi terhadap bawang maupun kelompok tanaman bergenus allium, gejala tambahan seperti rasa gatal, sensasi kesemutan, hingga kemunculan biduran pada kulit juga berisiko untuk muncul.
Selain faktor kerentanan tubuh, jenis bawang yang digunakan ternyata juga memegang peranan penting dalam menentukan seberapa banyak air mata yang akan tumpah. Varietas bawang kuning, bawang merah, dan bawang putih pada umumnya memiliki kandungan senyawa sulfur yang lebih tinggi, sehingga mampu memicu reaksi kimia yang jauh lebih kuat dan membuat mata menjadi lebih cepat berair. Sebaliknya, jenis bawang yang mempunyai karakteristik rasa lebih manis—seperti halnya daun bawang—cenderung memiliki kadar sulfur yang lebih rendah, sehingga hanya menimbulkan efek iritasi yang relatif ringan.
Bahkan, seiring dengan perkembangan teknologi pertanian, saat ini telah dikembangkan varietas bawang khusus yang dirancang sedemikian rupa agar tidak menghasilkan banyak senyawa pemicu air mata. Salah satu contohnya dikenal dengan sebutan Sunions, meskipun jenis bawang ini masih belum tersedia secara luas di pasaran umum dan biasanya hanya dapat dijumpai pada tempat-tempat perbelanjaan tertentu saja.
Meskipun terasa begitu menyengat dan mengganggu pandangan, iritasi yang diakibatkan oleh paparan uap bawang pada dasarnya bersifat sementara dan tidak berbahaya bagi kesehatan mata. Apabila mata sudah kadung terasa perih, beberapa langkah penanganan berikut dapat dicoba untuk meredakan ketidaknyamanan tersebut:
Beri jarak dari bawang: Letakkan potongan bawang sejauh mungkin dari jangkauan wajah Anda. Anda juga bisa memanfaatkan benda penghalang, seperti wadah berbahan kaca, guna mencegah uap bawang meluncur langsung ke arah mata.
Bilas mata dengan air dingin: Jika mata mulai terasa pedih, segera bilas menggunakan air bersih yang bersuhu dingin. Cara ini dinilai efektif untuk membersihkan sisa zat iritan yang menempel di permukaan mata.
Gunakan kompres dingin: Menempelkan kompres dingin pada area sekitar mata juga mampu meringankan rasa tidak nyaman akibat iritasi.
Gunakan tetes mata pelumas: Penggunaan cairan tetes mata yang berfungsi sebagai pelumas dapat membantu membilas permukaan mata sekaligus meredakan rasa kering maupun perih.
Selain melakukan penanganan setelah mata terlanjur berair, ada pula sejumlah langkah pencegahan yang bisa diterapkan guna meminimalisasi paparan zat iritan sejak awal proses pemotongan:
Gunakan pisau yang tajam: Penggunaan pisau yang tajam membantu menghasilkan potongan bawang yang jauh lebih rapi, sekaligus meminimalisasi tingkat kerusakan pada jaringan sel bawang. Dengan cara ini, jumlah senyawa pengiritasi yang terlepas ke udara diharapkan bisa ditekan.
Hindari memotong bagian pangkal terlebih dahulu: Area yang berada di dekat bagian akar atau pangkal bawang menyimpan konsentrasi senyawa sulfur yang jauh lebih pekat. Oleh karena itu, usahakan agar bagian tersebut dipotong pada tahap paling akhir guna menekan paparan zat pemicu air mata.
Dinginkan bawang sebelum dipotong: Salah satu trik populer adalah merendam atau mendaratkan bawang di dalam wadah berisi air es selama kurang lebih 30 menit sebelum mulai diiris. Di sisi lain, sebagian orang juga memilih untuk memotong bawang langsung di dalam rendaman air dingin. Namun, metode ini harus dilakukan secara ekstra hati-hati sebab sisa air yang menempel pada bawang berpotensi menyebabkan minyak panas memercik saat dimasak.
Pastikan sirkulasi udara baik: Menyalakan kipas angin atau mengaktifkan alat pengisap asap (extractor hood) saat mengiris bawang dapat membantu mengalirkan uap zat kimia menjauh dari area wajah Anda.
Gunakan pelindung mata: Bagi individu yang memiliki mata sangat sensitif terhadap uap bawang, mengenakan kacamata pelindung khusus saat memotong bisa menjadi alternatif praktis guna memutus kontak langsung antara mata dan uap bawang.
Jangan terlalu lama menyimpan bawang: Tingkat kesegaran bawang turut memengaruhi seberapa besar potensi bahan tersebut dalam memproduksi zat pemicu air mata. Bawang yang masih segar biasanya memiliki kecenderungan lebih kecil untuk membuat mata berair jika dibandingkan dengan bawang yang sudah disimpan dalam rentang waktu yang lama.
Di samping tips-tips di atas, terdapat pula cara-cara tradisional yang kerap dipercaya sebagian masyarakat, seperti mengunyah atau menyelipkan sepotong roti putih di dalam mulut ketika memotong bawang dengan keyakinan bahwa roti tersebut mampu menyerap uap sulfur. Kendati demikian, hingga saat ini belum ada catatan atau bukti ilmiah valid yang menyatakan bahwa metode tradisional tersebut benar-benar efektif untuk digunakan.