Kenaikan Harga Daging Ayam dan Beras Meluas di Ratusan Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 | 02:44:01 WIB
Ilustrasi Menjual Beras Dipasar.

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya lonjakan harga pada sejumlah komoditas pangan pada pekan kedua Agustus 2026. Tren kenaikan harga ini melanda komoditas beras, daging ayam ras, cabai merah, hingga cabai rawit di berbagai kabupaten/kota.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengutarakan bahwa daging ayam ras menjadi komoditas dengan sebaran kenaikan harga yang paling meluas.

Hingga pekan kedua Agustus, lonjakan harga ayam telah merebak di 205 kabupaten/kota, membengkak dari 188 kabupaten/kota pada pekan sebelumnya.

"Berdasarkan komoditasnya dan juga jumlah kabupaten/kota yang mengalami peningkat IPH-nya, ini terutama pada daging ayam ras, ada 205 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan harganya dibanding dengan yang minggu sebelumnya 188 (kabupaten/kota). Selain itu juga masih ada cabai merah yang terjadi pada 168 kabupaten/kota, dan juga cabai rawit yang pada 155 kabupaten/kota," ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Selasa (18/8/2026).

Jumlah kabupaten/kota yang melaporkan kenaikan harga beras juga mengalami pembengkakan dari 106 menjadi 120 wilayah. Sementara itu, daerah yang mencatat lonjakan harga cabai rawit meluas dari 133 menjadi 155 kabupaten/kota.

Untuk komoditas bawang putih, kenaikan harga terpantau terjadi di 48 kabupaten/kota, terbilang stagnan jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang menyentuh 50 kabupaten/kota.

Di sisi lain, kenaikan harga beras secara nasional masih tergolong tipis. Rata-rata harga beras medium sampai pekan kedua Agustus berada di angka Rp14.515 per kilogram (kg), merangkak 0,23 persen jika dibandingkan bulan Juli sebesar Rp14.481 per kg.

Adapun rata-rata harga beras premium berada di level Rp16.363 per kg, terangkat 0,20 persen dari posisi Rp16.330 per kg pada Juli.

Ateng membeberkan bahwa kenaikan harga beras terjadi dengan dinamika bervariasi di tiap wilayah. Gorontalo mencatatkan pergerakan indeks perkembangan harga (IPH) beras tertinggi di tingkat provinsi sebesar 8,06 persen, disusul Bengkulu sebesar 1,59 persen, sementara provinsi lainnya berada di bawah 1 persen.

Sebaliknya, beberapa provinsi justru membukukan penurunan harga beras, antara lain Sumatra Barat, Papua Barat Daya, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, serta Kalimantan Timur.

"Walaupun demikian, kalau kami cermati berdasarkan kabupaten/kotanya masih cukup, beberapa kabupaten/kota yang perubahan IPH untuk berasnya itu masih tergolong tinggi," ujar Ateng.

Pada skala kabupaten/kota, lonjakan IPH beras paling tajam melanda Bone Bolango hingga 13,01 persen, mengekor Pohuwato 9,67 persen dan Gorontalo Utara 6,47 persen. Adapun lonjakan di Bengkulu Selatan berada pada angka 5,45 persen serta Nduga 4,88 persen.

Menilik rata-rata harga beras semua kualitas di tingkat provinsi, Gorontalo berada di posisi Rp15.432 per kg dengan lonjakan IPH 8,06 persen. Bengkulu menyusul dengan harga Rp14.798 per kg disertai lonjakan IPH 1,59 persen.

Lonjakan yang lebih tajam menerpa komoditas daging ayam ras. Rata-rata harga nasional hingga pekan kedua Agustus menembus Rp40.041 per kg, melambung 4,92 persen dibandingkan rata-rata Juli sebesar Rp38.164 per kg.

Realisasi harga tersebut telah melewati batas harga acuan penjualan (HAP) konsumen yang ditetapkan senilai Rp40 ribu per kg.

Kenaikan harga ayam ras ini terdeteksi di 205 kabupaten/kota atau mencakup sekitar 56,94 persen wilayah kabupaten/kota di Indonesia, dengan sejumlah daerah mencatat harga jauh di atas HAP.

Berdasarkan data BPS, lonjakan harga ayam ras tertinggi ditemukan di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, yang menembus Rp100 ribu per kg. Selanjutnya disusul Kabupaten Yahukimo sebesar Rp85 ribu dan Kabupaten Pegunungan Bintang Rp80 ribu per kg.

Dari total 205 daerah yang mengalami kenaikan IPH daging ayam ras, Kabupaten Bangka Selatan membukukan lonjakan tertinggi yakni 34,58 persen, dengan rata-rata harga menyentuh Rp38.800 per kg hingga pekan kedua Agustus.

Selanjutnya, Bangka Tengah mencatatkan kenaikan IPH 32,97 persen pada harga Rp44.800 per kg, diikuti Bengkulu Tengah sebesar 31,02 persen dengan harga Rp41.400 per kg.

Ateng mengingatkan agar tren lonjakan ini diwaspadai lantaran harga ayam ras sudah merangkak naik di lebih dari separuh wilayah kabupaten/kota pemantauan.

Harga cabai merah di skala nasional turut merangkak naik meski masih berada dalam koridor HAP konsumen. Hingga pekan kedua Agustus, rata-rata harganya menyentuh Rp47.945 per kg, terangkat 0,55 persen dari periode sebelumnya, dengan batas atas HAP cabai merah berada di level Rp55 ribu per kg.

Eskalasi harga cabai merah dilaporkan terjadi di 168 kabupaten/kota atau sekitar 46,67 persen wilayah pantauan.

"Cabai merah kalau kami cermati antara batas atas HAP dengan batas bawah HAP konsumen, ini untuk cabai merah berada pada range keduanya," ujar Ateng.

Kendati demikian, sejumlah wilayah terpantau membukukan harga jauh di atas HAP. Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, menjadi daerah dengan lonjakan tertinggi yaitu Rp105 ribu per kg atau 90,91 persen melampaui HAP.

Harga cabai merah juga terpantau melambung tinggi di Natuna sebesar 48,18 persen di atas HAP, Sambas 33,64 persen, serta Gunung Mas 60 persen melampaui HAP.

Untuk komoditas cabai rawit, rata-rata harga nasional dipatok Rp56.211 per kg, merangkak 0,84 persen dari Rp55.742 per kg pada pekan sebelumnya. Angka ini masih bergerak di sekitar HAP yang dipasang sebesar Rp57 ribu per kg.

Peningkatan harga cabai rawit melanda 155 kabupaten/kota atau mencakup 43 persen wilayah pemantauan.

Ateng menyebut beberapa daerah membukukan kenaikan IPH cabai rawit yang lumayan tinggi dari HAP, seperti Kabupaten Belu sebesar 25 persen di atas HAP, Malaka 40 persen, Natuna 36 persen, Melawi 72 persen, serta Sambas 36 persen.

Meski begitu, tidak semua komoditas merangkak naik. Harga telur ayam ras hingga pekan kedua Agustus malah terkoreksi 0,09 persen dengan rata-rata harga Rp29.273 per kg, berada di bawah HAP Rp30 ribu per kg.

Walau merosot secara nasional, kenaikan harga telur masih membayangi 128 kabupaten/kota atau 38,89 persen wilayah pemantauan. Dua wilayah yang disorot akibat lonjakan IPH telur adalah Biak Numfor dan Nduga.

Komoditas bawang merah juga melorot cukup dalam, yakni 10,64 persen menjadi Rp37.714 per kg dari posisi pekan sebelumnya di kisaran Rp42 ribu. Angka ini masih terbilang aman di antara batas bawah dan batas atas HAP.

Kenaikan harga bawang merah masih tersisa di 18 persen wilayah. Beberpa kawasan timur menjadi perhatian khusus karena harganya bertahan di atas HAP, seperti Waropen, Manokwari Selatan, Mappi, Halmahera Selatan, Kaimana, dan Deiyai.

Sementara itu, harga minyak goreng semua kualitas melandai tipis 0,06 persen, meski terdapat 87 kabupaten/kota yang masih mengalami kenaikan. Untuk Minyakita, rata-rata harga nasional per pekan kedua Agustus 2026 berada di posisi Rp16.348 per liter, melorot 0,16 persen dari Rp16.375 per liter pada Juli 2026.

Harga ini masih bertengger di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Pada beberapa wilayah, harga Minyakita justru terkerek naik, dengan kenaikan tertinggi dipimpin Kabupaten Puncak Jaya sebesar 8,11 persen, disusul Kota Tual 6,31 persen dan Kota Palembang 3,33 persen.

Terkini