Deretan Mitos dan Fakta Seputar Autoimun Menurut Dokter Spesialis

Rabu, 19 Agustus 2026 | 03:40:02 WIB
Ilustrasi memendam stres [FOTO: NET].

JAKARTA - Kesadaran publik mengenai penyakit autoimun hingga kini masih tergolong minim. Karakteristik gejalanya yang amat beragam serta kerap menyerupai penyakit lain menuntut adanya edukasi berkelanjutan guna menanamkan pemahaman yang tepat mengenai kondisi ini.

Sebelum membedah deretan mitos dan fakta di seputar autoimun, penting untuk memahami batasan mendasar mengenai penyakit ini. Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Alergi Immunologi Klinik sekaligus Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (Peralmuni) menerangkan bahwa autoimun terjadi tatkala sistem pertahanan tubuh justru mengagresi jaringannya sendiri akibat kegagalan fungsi toleransi imun.

“Jadi imun sistem kami atau antibodi itu melawan benda asing yang masuk ke tubuh, tapi karena sistem imun kami error, antibodi itu atau sistem kekebalan, dia menyerang tubuh kami sendiri. Kan bahaya, jadi kayak musuh di dalam selimut,” tutur dr. Iris dalam acara talkshow bertemakan "Tetap Survive dan Happy Dengan Autoimun" yang dihelat di Prodia Health Care Jakarta, Kramat pada Sabtu (08/08/2026).

Mitos dan Fakta Seputar Autoimun

1. Mitos atau fakta, autoimun hanya menyerang satu organ tubuh? Penyakit autoimun bukanlah satu entitas tunggal dengan bentuk gejala yang seragam. Pada kesempatan tersebut, dr. Iris menguraikan bahwa terdapat lebih dari 100 varian penyakit autoimun yang telah teridentifikasi, dengan dampak kerusakan yang dapat mengenai bermacam organ, mulai dari otak, tiroid, kulit, otot, saraf, jantung, darah, hingga saluran pencernaan.

Secara garis besar, gangguan autoimun diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yakni organ spesifik dan sistemik. Pada kategori organ spesifik, serangan sistem imun berfokus pada satu organ tertentu saja, sementara jenis sistemik seperti lupus sanggup memengaruhi berbagai organ secara bersamaan.

"Misalnya, kalau yang diserang di bagian kulit namanya Psoriasis. Kalau di syaraf namanya Mystenia Grafis. Kalau yang sistemik ada Lupus, Sjogren Syndrom."

Di samping deretan nama tersebut, masih ada banyak tipe penyakit autoimun lainnya. Walau demikian, patut dipahami bahwasanya kondisi ini sama sekali bukan tergolong penyakit menular.

2. Mitos atau fakta, gejala autoimun pada setiap orang sama? Mengingat organ target yang diserang bervariasi, manifestasi gejala autoimun pun tidak pernah identik pada tiap-tiap individu. Dr. Iris merinci demam yang tak diketahui pemicunya, rasa nyeri atau gangguan sendi, keletihan, ruam kulit, masalah pencernaan, hingga kecemasan dan depresi sebagai rentetan keluhan yang acap kali timbul.

Pada kasus lupus misalnya, indikasi yang muncul dapat berupa nyeri sendi, rasa lelah luar biasa, demam tanpa sebab jelas, sampai munculnya ruam berbentuk menyerupai kupu-kupu pada area wajah.

“Lupus adalah penyakit autoimun sistemik yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang berbagai organ, sendi, ginjal, kulit, rambut rontok, dan kemudian nyeri sendi, vatigue,” sebut dr. Iris.

3. Mitos atau fakta, stres dan emosi yang dipendam menyebabkan autoimun? Anggapan inilah yang memerlukan pemahaman tepat. Menurut penilaian dr. Iris, hingga detik ini timbulnya penyakit autoimun tidak dapat dialamatkan pada satu faktor pemicu tunggal. Autoimun merupakan muara dari perpaduan faktor genetik, regulasi sistem imun, serta pemicu eksternal dari lingkungan.

Tekanan stres yang berlangsung dalam jangka panjang memang tergolong faktor pemicu gangguan regulasi imun, utamanya bagi individu yang telah mengantongi kerentanan medis tertentu.

Selain tekanan psikologis, dr. Iris menyebutkan anomali regulasi imun, pola diet yang buruk, kelelahan kronis, kurangnya aktivitas fisik, paparan polusi, pajan zat kimia, serta infeksi tertentu sebagai determinan lingkungan yang turut memegang peranan.

Selanjutnya, dr. Iris memaparkan bahwa unsur genetis menempatkan seseorang pada tingkat kerentanan yang lebih tinggi.

“Faktor genetik membuat seseorang lebih rentan 30%. Jadi, kalau ada genetik, ada keturunan, 30% anaknya atau cucunya akan lebih cepat terkena autoimun,” ungkap dr. Iris.

Dengan demikian, mengklaim seseorang mengidap autoimun murni akibat kerap dilanda stres atau kebiasaan memendam emosi tentu terlampau menyederhanakan akar masalah. Walau begitu, manajemen stres tetap memegang peranan krusial lantaran kondisi emosional yang buruk dapat bertindak sebagai pemantik terjadinya kekambuhan (flare).

4. Mitos atau fakta, autoimun bisa sembuh? Persoalan berikutnya yakni mengenai potensi penyakit autoimun untuk dapat pulih secara total. Dr. Iris memaparkan bahwa penanganan autoimun secara umum difokuskan agar gejalanya terkendali hingga mencapai fase remisi, alih-alih dikatakan pulih sepenuhnya.

“Apakah autoimun dapat sembuh? Pada umumnya penyakit autoimun dapat dikontrol, dikendalikan dengan baik,” jelas dr. Iris.

Para pasien disarankan tetap menjalani terapi pengobatan serta menjaga gaya hidup sehat, seperti istirahat yang cukup, mengonsumsi asupan bergizi seimbang, rutin berolahraga, dan mengenali berbagai pemicu yang wajib dihindari.

Dukungan moral dari lingkungan keluarga turut memegang peranan vital dalam mendampingi pasien berobat serta menjaga kestabilan emosi. Dr. Iris menegaskan para penyintas tidak perlu merasa berjuang sendirian.

"Penyintas autoimun harus menjaga pola hidup sehat, cukup istirahat, makan makanan sehat dan gizi seimbang, olahraga rutin, dan minum obat sesuai dengan anjuran dokter," pesan dr. Iris.

Terkini