Sempat Melonjak pada Juli, Harga Cabai Merah Keriting di Batam Turun

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:37:32 WIB
Ilustrasi Cabai Merah.

JAKARTA - Lonjakan tinggi sempat mewarnai harga cabai merah keriting di Kota Batam sepanjang Juli 2026, sebelum trennya berbalik melandai sejak awal hingga pertengahan Agustus. Berdasarkan catatan data bahan pokok, komoditas ini melesat 15,3 persen dalam sebulan, melompat dari kisaran Rp43.650 menjadi Rp50.350 per kilogram pada titik tertingginya di penghujung Juli.

Minimnya pasokan yang tiba di Batam menjadi pemicu utama lonjakan tersebut. Mengingat daerah ini bukan wilayah penghasil cabai, kebutuhan masyarakat sepenuhnya mengandalkan kiriman dari luar pulau. Kendala pada jalur distribusi serta merosotnya hasil panen di daerah sentra produksi memangkas volume pasokan, yang seketika mendongkrak harga di pasar-pasar lokal.

Imbas lonjakan harga yang berlangsung sekitar 2–3 pekan tersebut, sejumlah konsumen memilih menunda belanja demi menunggu harga kembali stabil, sementara sebagian lainnya beralih menggunakan cabai kering.

"Harga ambil dari pemasok naik, jadi terpaksa ikut naik. Banyak pembeli bilang mau tunggu 3–5 hari dulu lihat harga turun atau tidak. Yang tetap beli, banyak yang minta cabai kering sebagai gantinya," ujar Sarmin, 46, pedagang di Pasar Tos 3000, Batam, Kamis (20/8).

Di sisi lain, para pembeli terpaksa mengalokasikan ulang anggaran belanja harian mereka.

"Kalau masih mahal, mungkin tunda beli sampai 1 minggu lebih. Cabai kering sekarang jadi pilihan, meski rasanya beda, tapi lebih awet dan harganya lebih stabil," Riwanti, 32, pembeli.

Kendati demikian, memasuki pekan pertama dan kedua Agustus 2026, nilai jual cabai merah keriting mulai menyusut. Hingga 19 Agustus 2026, harga di pasar modern Batam terpantau merosot antara 4 persen sampai 12 persen dari rekor tertinggi bulan sebelumnya. Pelandaian harga ini sejalan dengan pulihnya alur pengiriman komoditas ke Batam.

Lompatan harga cabai merah keriting tersebut sebelumnya memberi andil 0,20 persen terhadap laju inflasi daerah, menjadikannya penyumbang inflasi terbesar di kelompok pangan. Adapun inflasi tahunan Kota Batam hingga Juni 2026 berada pada posisi 4,75 persen.

Meski sempat melonjak dan membebani pengeluaran rumah tangga, gejolak harga tersebut dinilai tak sampai menggoyang perekonomian Batam secara luas karena dampaknya yang temporer. Hal ini dikarenakan tumpuan utama ekonomi Batam berada pada sektor industri, perdagangan, pariwisata, serta jasa — bukan dari sektor pertanian. Pergerakan harga cabai yang bersifat musiman dan bergantung pada kelancaran pasokan tidak sampai merusak fondasi ekonomi kota.

Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus bersinergi dalam menjaga stabilitas harga serta kelancaran alur barang pokok. Namun, ancaman kenaikan harga tetap terbuka apabila distribusi terganggu oleh cuaca buruk atau kendala logistik. Masyarakat diimbau agar cermat memantau harga, sedangkan instansi terkait berikhtiar mengawal pasokan untuk mencegah lonjakan harga yang tak terkendali.

Plh Kadisperindag Kota Batam Suhar belum memberikan konfirmasi saat dihubungi. Penunjukannya sekadar mengisi kekosongan jabatan pascamundurnya Gustian Riau.

Terkini