JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) Sesi I berada di zona hijau usai naik tipis 0,52% pada jeda perdagangan siang hari ini, Jumat (21/8/2026).
Mengacu pada data IDX Mobile, IHSG parkir di level 6.535,57. Indeks komposit melaju di kisaran 6.507,43 sampai 6.544,00 sepanjang sesi I perdagangan. Adapun nilai market cap alias kapitalisasi pasar menembus Rp11.473 triliun. Sebanyak 333 saham menguat, 287 saham melorot, dan 343 saham tidak bergerak alias stagnan.
Berapa saham menghiasi daftar Top Gainers, antara lain saham PT Cipta Selera Murni Tbk. (CSMI) menguat 23,39% ke level Rp153. PT Alakasa Industrindo Tbk. (ALKA) turut menguat 18,66% ke Rp4.770. Disusul saham PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) menguat 18,30% ke level Rp181.
Pada posisi selanjutnya, PT Data Sinergitama Jaya Tbk. (ELIT) menguat 16,76% ke posisi Rp216. Penguatan juga menyelimuti saham PT Lovina Beach Brewery Tbk. (STRK) yang terangkat 12,70% ke level Rp71.
Sementara itu, jajaran saham yang menghuni daftar Top Losers, yakni Saham Reksa Dana Indeks Batavia IDX30 ETF (XBID) yang melorot 10,94% ke level Rp570. Sementara PT Sona Topas Tourism Industry Tbk. (SONA) menyusut 9,68% menjadi Rp2.240.
Di urutan selanjutnya terdapat PT Saranacentral Bajatama Tbk. (BAJA) yang tergerus 9,52% ke level Rp266. Saham PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMPP) turut masuk jajaran top losers dengan melorot 8,33% ke level Rp33. Melengkapi jajaran 5 besar, saham PT Transcoal Pacific Tbk. (TCPI) tergerus 7,54% ke level Rp2.330.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menerangkan bursa Asia menguat mengekor penguatan bursa Wall Street seiring meredanya tekanan di pasar obligasi Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar mengesampingkan risalah The Fed yang memperlihatkan kian banyak pejabat bank sentral AS mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan sebelumnya.
“Investor justru merespons positif penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas, Kamis (20/8/2026).
Penyusutan imbal hasil tersebut terjadi usai Departemen Keuangan AS mengumumkan skema untuk memperbesar pembelian kembali surat utang secara signifikan. Kebijakan itu dinilai mampu meredam kekhawatiran terhadap lonjakan biaya pinjaman yang sebelumnya menekan pasar ekuitas global.
Pasar menilai penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, utamanya tenor jangka panjang, sanggup membantu memulihkan selera risiko investor. Di Asia, perhatian investor turut tertuju pada keputusan moneter Bank Sentral China yang kembali mempertahankan suku bunga acuan pinjaman pada posisi terendah sepanjang masa.