Penyebab Bangun Tidur Terasa Pusing dan Lemas Karena Menunda Alarm

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:15:01 WIB
Ilustrasi Tidur.

JAKARTA - Kebiasaan kembali tertidur setelah mematikan alarm dapat memicu sensasi pusing, linglung, berat, serta tubuh yang kurang segar saat bangun.

Dokter sekaligus figur publik bidang kesehatan, dr. Cecep Hermawan, menjelaskan bahwa kebiasaan memasang alarm bertubi-tubi memiliki dampak buruk bagi tubuh.

Kondisi tersebut berdampak negatif jika seseorang terbangun pada suara alarm pertama, lalu tidur kembali dan terpaksa dibangunkan oleh alarm berikutnya dalam rentang waktu yang singkat.

“Pagi hari seharusnya jadi momen paling segar, tapi saya paham kamu sering merasa pusing dan berat setelah bangun. Banyak yang kira nambah tidur 5 sampai 10 menit bikin badan lebih segar. Padahal menunda alarm berkali-kali justru jadi biang keladinya,” kata dr. Cecep, dikutip Sabtu (22/8/2026).

Menurut penjelasannya, saat tubuh tidur kembali usai mematikan alarm, otak akan memulai siklus tidur yang baru. Bunyi alarm berikutnya memaksa otak terbangun di tengah-tengah siklus tersebut.

“Begini, saat kamu tidur lagi setelah matikan alarm, otakmu mulai siklus tidur baru. Nah, pas alarm berikutnya bunyi, kamu terbangun paksa di tengah siklus. Hasilnya: sleep inertia, pusing, linglung, dan tubuh terasa berat,” jelas dia.

Ia menambahkan bahwa apabila pola ini terus berulang dalam kurun waktu yang panjang, dampaknya bisa mengganggu stabilitas hormon serta metabolisme tubuh.

“Kalau kebiasaan ini berlangsung lama, risikonya bisa gangguan hormon dan metabolisme tubuh,” tutur dr. Cecep.

Guna mengatasi kebiasaan ini, dr. Cecep memberikan beberapa kiat praktis. Salah satunya adalah menjauhkan posisi letak ponsel dari jangkauan tempat tidur agar tubuh dipaksa beranjak untuk mematikannya.

“Solusi simpel: terapkan aturan jarak. Taruh HP atau alarm di tempat yang enggak bisa dijangkau sambil tiduran. Dengan begitu kamu dipaksa bangun dan bergerak,” beber dia.

Selain itu, memanfaatkan masuknya sinar matahari ke dalam kamar juga efektif memberikan sinyal alami bagi otak untuk segera terjaga secara bertahap.

“Cahaya adalah sinyal bangun paling kuat untuk otak. Atur gordenmu agar sedikit terbuka, atau gunakan lampu pintar (smart lamp) yang bisa di-setting untuk menyala dan meredup perlahan 15 menit sebelum alarm berbunyi,” tutur dr. Cecep.

Guna menciptakan transisi otak yang lebih lembut saat terbangun, ia menganjurkan penggunaan nada alarm berirama merdu ketimbang nada yang mengejutkan.

“Hindari suara alarm yang terlalu kasar dan mengejutkan. Penelitian menunjukkan bahwa alarm dengan suara yang melodis atau nadanya naik secara bertahap bisa membantu proses transisi otak dari tidur ke sadar menjadi lebih lembut,” tambah dia.

Meminum segelas air putih sesaat setelah bangun juga membantu menyegarkan tubuh yang mengalami dehidrasi selama terlelap sepanjang malam.

Sebagai langkah jangka panjang, ia menegaskan pentingnya menjaga konsistensi jam tidur dan jam bangun alami setiap hari, termasuk pada akhir pekan.

“Ini adalah solusi jangka panjang yang paling ampuh. Latih jam biologismu dengan bangun di jam yang sama SETIAP HARI, termasuk akhir pekan. Lama-kelamaan, tubuhmu akan belajar untuk bangun secara alami beberapa menit sebelum alarm berbunyi,” pungkas dia.

Terkini