TRENENERGI.COM — Kegagalan Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2026 bukan sekadar soal kalah di babak final. Untuk edisi keempat beruntun—setelah 2022, 2023, dan 2025—Merah Putih bahkan sudah dipastikan tanpa wakil di partai puncak. Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah yang tampil sebagai kejutan hanya mampu bertahan hingga semifinal sebelum akhirnya tersingkir.
Catatan ini makin kelam jika dibandingkan dengan rentang puasa gelar sebelumnya. Era tanpa juara dunia terakhir terjadi antara 1983 (Icuk Sugiarto) dan 1993 (Joko Suprianto, Susy Susanti, Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky), yang berlangsung selama 10 tahun dengan empat edisi turnamen. Kini, dengan format Kejuaraan Dunia yang digelar tahunan, Indonesia sudah melewati lima edisi tanpa gelar—atau empat jika mengesampingkan absennya Pelatnas PBSI pada 2021.
Bukan Kalah di Final, tapi Minim Pasukan Andal
Yang lebih memprihatinkan, kegagalan Indonesia terjadi bukan karena kalah di laga penentuan. Sebelum turnamen dimulai, hanya dua wakil yang masuk unggulan empat besar: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri di ganda putra dan Jonatan Christie di tunggal putra. Di bawah mereka, ada Putri Kusuma Wardani serta Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi yang menempati unggulan 10 besar.
Ketika para unggulan tumbang satu per satu di fase awal, harapan Indonesia otomatis bergantung pada pemain non-unggulan. Andalan untuk merebut gelar pun praktis tidak ada, dan peluang juara hanya bisa digantungkan pada label kejutan.
Ketimpangan dengan China yang Tak Pernah Hampa Gelar
Kondisi ini kontras dengan China. Meski persaingan dunia dianggap makin merata—ditandai bangkitnya Jepang, India, hingga munculnya juara dari Spanyol (Carolina Marin) dan Taiwan (Tai Tzu Ying)—China seolah kebal terhadap dampak negatifnya. Mereka tetap konsisten memproduksi juara di Kejuaraan Dunia dan Olimpiade.
Di Kejuaraan Dunia 2026, China sempat tertekan setelah Feng Yanzhe/Huang Dongping dan Liu Shengshu/Tan Ning kalah di dua nomor awal. Namun Liang Weikeng/Wang Chang akhirnya menyelamatkan wajah China di ganda putra, memperpanjang tradisi juara mereka.
Persaingan Merata Jadi Alibi, Bukan Solusi
Narasi "kekuatan bulu tangkis dunia makin merata" memang faktual. Namun bagi Indonesia, kalimat itu justru sering menjadi pembenaran atas kegagalan yang berulang. Padahal, akar masalahnya bukan semata lawan yang semakin kuat, melainkan minimnya kedalaman skuad yang siap bersaing di level tertinggi.
Tanpa regenerasi yang masif dan merata di semua sektor, bukan tidak mungkin puasa gelar ini akan terus berlanjut. Indonesia butuh lebih dari sekadar satu atau dua bintang—butuh pasukan yang bisa diandalkan di setiap nomor, seperti yang pernah dimiliki era 1990-an hingga 2010-an.