Menyoroti Pergerakan BYAN Saat Rumor Akuisisi Haji Isam Berhembus

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:17:31 WIB
Investor mengamati layar pergerakan harga saham [FOTO: NET].

JAKARTA - Pergerakan saham perusahaan tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) menjadi pusat perhatian di pasar modal baru-baru ini. Saham emiten dengan kapitalisasi besar ini bergerak naik turun di tengah kuatnya isu rencana pengambilalihan sebagian besar saham oleh konsorsium yang dikomandoi pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. 

Berdasarkan catatan perdagangan IDX Mobile pada sesi pertama Jumat (28/8/2026), saham BYAN ditutup melemah tipis 0,17% ke level Rp14.975 per saham, usai sempat berada di kisaran Rp14.900 sampai Rp15.200 per saham. Selama sepekan ke belakang, saham BYAN terkoreksi kurang lebih 7,42% dan secara year to date mengalami penurunan 4,62%. Walau demikian, performa harga saham BYAN tercatat melonjak 24,02% dalam sebulan terakhir serta melesat pesat 50,88% dalam kurun waktu tiga bulan.

Naik turunnya harga saham BYAN mencerminkan tingginya antisipasi serta reaksi pelaku pasar terhadap spekulasi peralihan kendali di tubuh perusahaan batu bara tersebut. Rumor pengambilalihan ini mencuat setelah taipan Low Tuck Kwong yang memegang sekitar 40% saham bersama putrinya yang mengantongi lebih dari 22% saham BYAN dikabarkan sedang berunding untuk melepas 62,2% kepemilikan saham pengendali. 

Konsorsium pimpinan Haji Isam digadang-gadang sebagai salah satu kandidat pembeli yang kuat. Apabila transaksi ini benar-benar terwujud, aksi korporasi tersebut bakal tercatat sebagai salah satu kesepakatan bisnis sektor pertambangan terbesar di Tanah Air sekaligus menutup era kepemimpinan Low Tuck Kwong di Bayan Resources. 

Estimasi nilai transaksi untuk mencaplok 62,2% saham itu berada di kisaran US$6 miliar sampai US$8 miliar, terpaut jauh di bawah valuasi pasar BYAN saat ini yang menyentuh angka US$8 miliar, akibat terbatasnya porsi free float publik.

Di sisi lain, kejelasan transaksi ini masih diselimuti awan gelap. Pihak manajemen BYAN lewat keterbukaan informasi kepada BEI pada tanggal 18 Agustus menegaskan bahwa perseroan sama sekali tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan atau akuisisi saham oleh Haji Isam maupun pihak yang memiliki afiliasi dengannya. 

Kendati demikian, para pemegang saham pengendali mengisyaratkan tetap membuka pintu bagi setiap peluang yang mampu mengoptimalkan nilai investasi mereka.

Menanggapi dinamika harga saham serta kabar pengambilalihan BYAN, sejumlah pengamat pasar modal menyarankan para investor agar tetap rasional dan teliti. Harry Su selaku Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, menekankan pentingnya kepastian penetapan harga atau fair price apabila rencana akuisisi tersebut benar-benar terealisasi. 

Berdasarkan pandangannya, wacana nilai akuisisi senilai US$6–US$8 miliar untuk 62,2% saham berada jauh di bawah nilai pasar BYAN saat ini. Harry menilai potensi pembelian dengan harga di bawah pasaran atau diskon dapat menimbulkan kecemasan terkait aspek perlindungan nilai investasi bagi pemegang saham publik atau minoritas.

"Akan menjadi sentimen positif jika transaksi tersebut harganya fair dan disepakati kedua belah pihak. Harga yang fair ini penting, karena tentunya berdampak terhadap valuasi atas porsi yang dimiliki publik," ujarnya, Jumat (28/8/2026).

Sementara itu, Ruly Wisnubroto selaku Head of Research Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa fluktuasi harga saham BYAN akhir-akhir ini sekadar bentuk respons sesaat dari pasar terhadap isu peralihan kendali, namun sifatnya masih sebatas event driven yang sarat akan ketidakpastian.

"Terkait fluktuasi BYAN, kami melihat pasar memang sedang merespons isu potensi perubahan pengendalian. Namun, investor perlu membedakan antara spekulasi pasar, penjajakan, dan transaksi yang telah pasti," kata Ruly.

Ia turut memperingatkan para investor agar tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan mengenai instrumen transaksi yang akan dipakai maupun identitas pembeli yang valid sebelum ada pengumuman resmi.

"Sejauh ini sentimen terhadap saham BYAN dan pihak terafiliasi bervariasi, tapi cenderung positif secara event driven. Tapi belum solid karena ketidakpastian masih tinggi," terangnya.

Terkini