Kinerja Segmen Nonbatu Bara Dorong Laba Kotor TOBA Semester I 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 | 02:04:34 WIB
PT TBS Energi Utama Tbk.

JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) membukukan pertumbuhan laba kotor konsolidasi lebih dari dua kali lipat sepanjang semester I/2026. Capaian positif ini disokong oleh perolehan pendapatan dari lini bisnis nonbatu bara yang memberikan kontribusi paling dominan.

Direktur dan Chief Financial Officer TOBA Juli Oktarina memaparkan bahwa selama kurun Januari hingga Juni 2026, perseroan berhasil meraih laba kotor konsolidasi sebesar US$28,2 juta (sekitar Rp503,57 miliar dengan estimasi kurs Rp17.857,14 per dolar AS), menguat signifikan dari posisi US$13,9 juta (sekitar Rp248,21 miliar) pada semester I/2025.

Lompatan performa ini didorong oleh penurunan beban pokok pendapatan sebesar US$13,5 juta (sekitar Rp241,07 miliar), sehingga margin kotor perseroan terdongkrak dari 8,1 persen menjadi 16,3 persen.

Di sisi pendapatan atas (top line), penerimaan dari kontrak pelanggan tumbuh tipis dari US$172,21 juta (sekitar Rp3,08 triliun) menjadi US$173,02 juta (sekitar Rp3,09 triliun). Dari angka tersebut, lini pengelolaan limbah menyumbang 61,2 persen dari pendapatan konsolidasi dan 92 persen dari EBITDA konsolidasi. Total nominal pendapatan unit ini menyentuh US$105,9 juta (sekitar Rp1,89 triliun) atau melejit 77,8 persen secara tahunan (YoY).

"Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis ini lah yang menghasilkan kas. Ini lah transisi yang kami janjikan, dan kuartal kedua menunjukkan kami berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi bisnis infrastruktur berkelanjutan," kata Juli dalam siaran pers, Jumat (28/8/2026).

Mengenai aspek profitabilitas, laba kotor unit pengelolaan limbah melonjak 91,9 persen YoY menjadi US$17,6 juta (sekitar Rp314,29 miliar) dibanding capaian awal sebesar US$9,2 juta (sekitar Rp164,29 miliar), yang mendorong peningkatan margin segmen menjadi 16,6 persen dari 15,4 persen. Perolehan EBITDA pada lini ini juga melesat lebih dari dua kali lipat mencapai US$23,6 juta (sekitar Rp421,43 miliar).

Sementara itu, unit kendaraan listrik mencatatkan lonjakan pendapatan 184 persen YoY menjadi US$9,1 juta (sekitar Rp162,50 miliar). Laba kotor lini ini sukses berbalik positif ke posisi US$0,4 juta (sekitar Rp7,14 miliar) dari kondisi rugi US$0,5 juta (sekitar Rp8,93 miliar) pada periode sebelumnya. EBITDA unit ini juga membaik dari zona merah menjadi laba US$0,5 juta (sekitar Rp8,93 miliar).

Menilik portofolio konvensional yang secara bertahap dikurangi, pemasukan dari lini batu bara terkoreksi 4,1 persen YoY menjadi US$34,9 juta (sekitar Rp623,21 miliar). Kendati begitu, laba kotor segmen ini naik menjadi US$9,3 juta (sekitar Rp166,07 miliar) dari US$1,3 juta (sekitar Rp23,21 miliar) seiring membaiknya margin dari 3,5 persen ke 26,6 persen berkat efisiensi biaya produksi. EBITDA sektor batu bara turut pulih ke angka US$1,3 juta (sekitar Rp23,21 miliar) dari semula rugi US$11,1 juta (sekitar Rp198,21 miliar).

Memasuki hasil akhir (bottom line), TOBA secara konsolidasi masih menanggung rugi bersih sebesar US$19,65 juta (sekitar Rp350,89 miliar). Meski demikian, besaran nilai negatif tersebut menyusut drastis apabila dibandingkan dengan rugi bersih semester I/2025 yang mencapai US$115,61 juta (sekitar Rp2,06 triliun).

"Rugi perseroan menyusut signifikan seiring tidak berulangnya kerugian divestasi 2025. Meski masih mencatat rugi, kerugian tersebut berasal dari langkah-langkah yang diperlukan untuk transisi bisnis," tandasnya.

Detail faktor penyebab beban tersebut mencakup rugi nonkas dari depresiasi serta amortisasi pasca-akuisisi Cora Environment. Selain itu, terdapat rugi berbasis kas dari biaya pendanaan skema merger dan akuisisi dalam rangka percepatan transisi menuju infrastruktur berkelanjutan serta penetrasi pasar kendaraan listrik

Terkini