Platform EV Perodua Berpeluang Dipakai Daihatsu, Konsumen Indonesia Bisa Kebagian Mobil Listrik Murah

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:36:00 WIB

TRENENERGI.COM — Wacana ini mencuat setelah Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia Johari Abdul Ghani bertemu Wakil Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Takuo Komori. Dikutip Paultan, kedua pihak membahas potensi kerja sama pengembangan kendaraan listrik antara Daihatsu dan Perodua di Malaysia.

Belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan, tetapi isyarat dari pertemuan tingkat menteri ini cukup kuat. Industri otomotif kini menunggu langkah konkret kedua pabrikan yang sama-sama bernaung di bawah kelompok Toyota ini.

Modal Utama di Tangan Perodua

Perodua tidak datang dengan tangan kosong dalam negosiasi ini. Pabrikan Malaysia itu punya senjata utama bernama QV-E, mobil listrik yang dikembangkan secara mandiri tanpa basis dari Daihatsu.

Langkah ini tergolong berani karena Daihatsu sendiri hingga kini belum memiliki model EV yang bisa dijadikan fondasi pengembangan di Malaysia. Alhasil, Perodua justru memegang kunci teknologi yang dibutuhkan mitranya tersebut.

Keberhasilan menghadirkan QV-E menempatkan Perodua di posisi strategis dalam pengembangan kendaraan listrik regional. Bukan tidak mungkin, platform QV-E kelak dipakai Daihatsu untuk membuat produk dengan merek sendiri. Untuk industri ASEAN, ini sinyal bahwa pabrikan regional mampu berdiri di kaki sendiri dalam teknologi elektrifikasi.

Indonesia Berpeluang Jadi Pasar Utama

Jika kolaborasi ini benar-benar terwujud, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling diuntungkan. Daihatsu memiliki basis konsumen kuat di pasar nasional, ditopang jaringan dealer luas dan beragam model penumpang maupun komersial ringan yang sudah mapan.

Yang menarik, pasar EV nasional kini dipadati merek asal China dengan harga agresif. Kehadiran mobil listrik berbasis Perodua berlogo Daihatsu bisa menjadi tawaran berbeda: EV murah dengan layanan purna jual yang sudah dikenal masyarakat.

Momentum ini krusial. Persaingan harga di segmen entry-level semakin ketat, dan nama besar seperti Daihatsu bisa mengubah pilihan konsumen yang selama ini condong ke pemain baru.

Dua Skenario Kolaborasi yang Terbuka

Meski banyak spekulasi mengarah pada penggunaan langsung platform QV-E oleh Daihatsu, opsi itu bukan satu-satunya. Presiden dan CEO Perodua Zainal Abidin Ahmad sebelumnya mengungkapkan, Daihatsu tertarik untuk terlibat dalam pengembangan EV Perodua.

Artinya, kolaborasi bisa berupa pengembangan bersama model listrik anyar, menggabungkan pengalaman dan teknologi kedua pihak. Menariknya, Toyota pun sempat menawarkan peluang kolaborasi serupa kepada Perodua.

Kabarnya, Perodua kini menyiapkan EV baru yang ukurannya lebih kecil dari QV-E. Model ini akan memakai platform listrik sama sehingga biaya produksi bisa ditekan — sekaligus jadi kandidat kuat untuk dikembangkan bersama Daihatsu maupun Toyota.

Skala Produksi Jadi Penentu Harga

Kunci keuntungan terbesar dari skenario ini adalah peningkatan skala produksi. Jika platform Perodua dipakai beberapa merek sekaligus, biaya pengembangan EV bisa ditekan signifikan dan harga jual pun lebih kompetitif.

Bagi Daihatsu, kolaborasi ini membuka akses ke teknologi listrik tanpa harus membangun fondasi dari nol. Bagi Perodua, kerja sama memperluas jangkauan produknya ke pasar yang lebih besar, termasuk Indonesia.

Hingga kini belum ada kepastian apakah QV-E akan hadir dengan logo Daihatsu atau menjadi dasar model baru bagi beberapa produsen. Satu hal yang mulai jelas: hubungan kedua perusahaan berubah. Jika dulu Daihatsu selalu menjadi sumber teknologi, era elektrifikasi justru membalikkan peran tersebut. Tinggal menunggu langkah resmi selanjutnya.

Terkini