Laba BRI Kuartal II 2026 Tembus Rp 31,2 Triliun, Kredit Tumbuh 16,2 Persen

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:58:00 WIB

TRENENERGI.COM — Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan pertumbuhan ini bukan sekadar angka, melainkan hasil dari fundamental yang sehat. Menurut dia, ekspansi kredit yang berjalan beriringan dengan penguatan manajemen risiko menjadi kunci utama.

"Laba Rp 31,2 triliun ini adalah pertumbuhan yang sangat kuat, yaitu lebih dari 17 persen. Kami membangun dari fundamental yang sehat dan tetap mendukung ekonomi rakyat," ujar Hery dalam konferensi pers virtual, Senin (31/8/2026).

Kredit Tumbuh 16,2 Persen, Dana Murah Jadi Andalan

Penyaluran kredit BRI mencapai Rp 1.646 triliun pada kuartal II 2026, tumbuh 16,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini tidak dibiayai dengan modal mahal — BRI berhasil menekan cost of fund dari 3 persen menjadi 2,4 persen berkat optimalisasi dana murah (CASA).

Pendapatan perseroan tercatat Rp 80,5 triliun, naik 9,9 persen dari Rp 73,3 triliun pada kuartal II 2025. Pre-provision operating profit (PPOP) bahkan tumbuh lebih cepat, yakni 12,8 persen menjadi Rp 65,7 triliun, seiring membaiknya rasio efisiensi dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.

Dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp 1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen secara tahunan. Direktur Network dan Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan transformasi digital menjadi mesin utama penghimpunan dana murah.

"Digitalisasi bukan hanya mengenai jumlah user atau jumlah transaksi, tetapi perpaduan transaksi dan relationship menjadi CASA," kata Aquarius.

Salah satu buktinya, BRImo mencatat 22,4 juta pengguna aktif dengan 3,3 miliar transaksi finansial dan volume transaksi Rp 4.166 triliun pada kuartal I 2026. Sementara itu, CASA yang dihimpun lewat agen BRILink melonjak 28,6 persen menjadi Rp 30,7 triliun.

Kualitas Aset Membaik, KUR Tetap Jadi Prioritas

Perbaikan kualitas kredit menjadi sorotan utama dalam kinerja kali ini. Loan at risk (LAR) BRI turun dari 9,6 persen pada Desember 2025 menjadi 9,1 persen di akhir kuartal II 2026. Rasio kredit bermasalah (NPL) juga menyusut dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menjelaskan, penurunan LAR mencerminkan membaiknya kualitas booking pada kredit baru. Dampaknya, cost of credit ikut turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen — sinyal bahwa ekspansi tidak mengorbankan kesehatan portofolio.

Di segmen UMKM, BRI menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp 103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur sepanjang Januari–Juni 2026, dengan NPL KUR terjaga di kisaran 2 persen. Holding ultramikro yang menaungi BRI, Pegadaian, dan PNM kini melayani sekitar 33,8 juta nasabah pinjaman dan mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan.

Emas Jadi Bisnis Baru, UMKM Naik Kelas

BRI tidak hanya mengandalkan kredit konvensional. Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari mengungkapkan, sekitar 2,3 juta nasabah telah naik kelas dari segmen ultramikro menjadi mikro melalui ekosistem holding. Pertumbuhan ini didorong sinergi layanan antara BRI, Pegadaian, dan PNM.

"Nasabah tidak berhenti pada satu produk atau satu segmen, tetapi memiliki journey untuk tumbuh bersama BRI Group," kata Viviana.

Lewat Pegadaian, BRI juga menggarap bisnis emas — dari tabungan emas, cicil emas, hingga layanan bullion. Menurut Viviana, langkah ini memperluas ekosistem layanan keuangan sekaligus membuka sumber pendapatan baru di luar bunga kredit. Fokus lain diarahkan ke payroll, consumer, value chain, dan transaction banking.

Hery Gunardi menegaskan transformasi BRI akan terus berlanjut. "Transformasi bukan tujuan akhir. Transformasi harus tercermin dalam kinerja, kualitas pertumbuhan, dan kemampuan untuk diimplementasikan dalam bidang digital," pungkasnya.

Terkini