BBM Non Subsidi Naik September 2026, Pertamina Dex Tembus Rp 25.200 per Liter

Jumat, 04 September 2026 | 11:49:00 WIB

TRENENERGI.COM — PT Pertamina Patra Niaga resmi memberlakukan harga baru untuk empat produk BBM non subsidi, Senin (1/9/2026). Penyesuaian ini merupakan mekanisme bulanan yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kenaikan kali ini cukup dalam, bukan sekadar penyesuaian kecil. Dalam satu bulan, seluruh produk nonsubsidi kompak naik dengan rentang Rp 1.300 hingga Rp 4.000 per liter.

Pertamax Turbo, Pertamax Green, Dexlite, dan Pertamina Dex Kompak Naik

Berikut rincian harga terbaru yang berlaku per 1 September 2026:

  • Pertamax Turbo: Rp 19.600 per liter (sebelumnya Rp 18.300, naik Rp 1.300)
  • Pertamax Green 95: Rp 19.150 per liter (sebelumnya Rp 16.600, naik Rp 2.550)
  • Dexlite: Rp 23.700 per liter (sebelumnya Rp 19.700, naik Rp 4.000)
  • Pertamina Dex: Rp 25.200 per liter (sebelumnya Rp 21.150, naik Rp 4.050)

Kenaikan paling tajam justru terjadi pada segmen diesel. Untuk pengguna kendaraan bermesin diesel modern yang memakai Dexlite, selisih Rp 4.000 per liter jelas terasa, terutama bagi mereka yang rutin melakukan perjalanan jauh.

Harga Pertalite, Solar Subsidi, dan Pertamax Tetap

Di tengah gelombang kenaikan ini, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak berubah. Pertalite tetap di angka Rp 10.000 per liter dan Solar subsidi Rp 6.800 per liter. Kuota subsidi juga tidak dipangkas.

Kabar baik lainnya, Pertamax yang menjadi favorit pengguna kendaraan injeksi tetap stabil di harga Rp 15.950 per liter. Jadi hanya pemilik kendaraan yang membutuhkan oktan tinggi atau bahan bakar diesel berkualitas yang terdampak penyesuaian ini.

Dua Pemicu Kenaikan: Minyak Dunia dan Rupiah Melemah

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga menyebut kenaikan harga BBM non subsidi dipengaruhi dua faktor utama. Pertama, harga minyak mentah dunia yang masih berada di atas USD 85 per barel. Pada September 2026, harga Brent tercatat mencapai USD 96,65 per barel—level yang jauh lebih tinggi dari asumsi awal.

Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan penyesuaian ini sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar. Berbeda dengan BBM subsidi yang dilindungi anggaran negara, harga produk nonsubsidi dihitung berdasarkan formula yang transparan.

Faktor kedua adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Karena sebagian besar kebutuhan minyak mentah dan BBM masih diimpor, rupiah yang melemah membuat ongkos pengadaan semakin mahal. Kedua variabel inilah yang menjadi penentu utama dalam formula harga BBM nonsubsidi bulanan.

Terkini