JAKARTA — Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terpantau sedang berada dalam tren apresiasi penguatan sepanjang kurun waktu beberapa hari belakangan ini. Kondisi tersebut berlangsung secara berbarengan dengan posisi indeks dolar AS yang tengah mengalami tekanan, menyusul munculnya sinyal bernada dovish yang disuarakan oleh pihak The Fed.
Pada saat penutupan sesi perdagangan hari Jumat (4/9/2026) lalu, rupiah tercatat sukses menguat sebesar 0,21% atau setara dengan pergerakan 37 poin menuju ke level Rp17.642 per dolar AS. Posisi nilai tukar rupiah ini sekaligus merefleksikan adanya tingkat apresiasi kenaikan sebesar 0,28% atau setara 50 poin dalam kurun waktu sepekan ke belakang.
Merujuk pada paparan data dari laman Trading Economics, indeks dolar AS saat ini sedang mendekam dalam teritori tekanan menyusul anjloknya ekspektasi para pelaku pasar keuangan terhadap potensi kenaikan tingkat suku bunga acuan The Fed.
“Pergerakan ini terjadi seiring melemahnya dolar AS setelah para pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini, menyusul pernyataan bernada dovish dari seorang pejabat bank sentral,” tulis laporan tersebut, Sabtu (5/9/2026).
Sementara itu, dari sektor domestik dalam negeri, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengemukakan pandangannya bahwa tingkat laju inflasi domestik masih terjaga dalam koridor terkendali, seraya menyerukan urgensi penguatan jalinan kerja sama yang lebih erat dan padu antara pihak pemerintah, lembaga bank sentral, kalangan pelaku usaha, hingga para ekonom guna bersama-sama menyokong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sisi lain, laporan tersebut turut menyebutkan bahwa ruang gerak laju penguatan rupiah masih tertahan oleh kekhawatiran pelaku pasar yang kian meningkat perihal ancaman dampak buruk dari fenomena anomali cuaca El Niño yang dikhawatirkan sanggup mengganggu stabilitas rantai pasokan komoditas pangan serta memicu lonjakan harga barang dalam beberapa bulan mendatang.
Selain faktor tersebut, sikap kehati-hatian (wait and see) yang diadopsi oleh para pelaku pasar juga tampak jelas menjelang agenda rilis sejumlah data perekonomian penting pada pekan depan, yang mencakup data posisi cadangan devisa periode bulan Agustus, indeks keyakinan konsumen, hingga rilis data kinerja penjualan ritel periode bulan Juli 2026.
Rangkaian rilis data makroekonomi tersebut nantinya diyakini bakal mampu memberikan petunjuk-petunjuk baru perihal tingkat kekuatan permintaan domestik serta ke mana arah kebijakan moneter lanjutan akan berlabuh.
“Meski demikian, rupiah berada di jalur yang tepat untuk mencatat penguatan selama lima minggu berturut-turut, dengan kenaikan sekitar 0,25% sejauh ini,” tulis Trading Economics.
Selengkapnya, pihak platform Pluang turut melaporkan bahwa dinamika ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed tersebut turut memicu lonjakan positif di bursa pasar saham Amerika Serikat.
Laporan riset itu menyatakan bahwa pergerakan harga saham yang bernaung di hampir seluruh jajaran indeks S&P 500 mengalami kenaikan setelah Anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller, melontarkan pernyataan bernada dovish yang secara simultan ikut menyeret turun tingkat imbal hasil (yield) instrumen obligasi pemerintah.
“Federal Reserve tampaknya menerapkan pendekatan good cop, bad cop untuk menjaga stabilitas suku bunga di tengah sinyal-sinyal hawkish yang sempat muncul,” ujar mereka.