Panduan Asupan Nutrisi Tepat untuk Anak Setelah Keracunan

Rabu, 09 September 2026 | 03:59:32 WIB
ilustrasi gangguan pencernaan [FOTO: NET].

JAKARTA - Insiden dugaan keracunan masal pascamenyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menyita perhatian publik secara luas. 

Mengutip pemberitaan Kompas.com pada kurun sepekan belakangan, ratusan anak di Sidoarjo, Nganjuk, Rembang, hingga Tana Toraja, mendadak mengalami gangguan pencernaan. 

Bahkan, lebih dari 500 penerima manfaat di sebuah pondok pesantren Sidoarjo terpaksa dilarikan untuk mendapat tindakan medis akibat menyantap hidangan tersebut.

Ketika keluhan berupa muntah dan diare telah mereda, orang tua kerap kali dibingungkan oleh pemilihan asupan yang aman supaya lambung sang buah hati tidak kaget. merangkum panduan pemulihan nutrisi dari sederet pakar yang dihubungi pada Jumat (4/9/2026), Sabtu (5/9/2026), dan Senin (7/9/2026).

Edukasi medis ini bertujuan menyajikan panduan umum perihal pemenuhan gizi pascasakit pencernaan. Informasi yang disampaikan para ahli tidak diarahkan guna menilai menu spesifik tertentu maupun menanggapi penanganan kasus MBG yang sedang ditangani oleh otoritas.

Panduan Memberikan Makanan Setelah Anak Keracunan

Tidak Harus Selalu Diberi Bubur Sebagian besar orang tua beranggapan bahwa lambung yang baru terkuras habis wajib diistirahatkan dengan sekadar memberikan makanan cair atau bubur. Namun, menurut kacamata medis, membatasi kelengkapan gizi anak malahan bakal memperlambat proses regenerasi sel-sel tubuh yang rusak terinfeksi kuman.

Spesialis penyakit dalam, dr. Wirawan Hambali, SpPD, FINASIM, membantah mitos mengenai kewajiban menahan hidangan padat dalam jangka panjang berdalih pemulihan usus.

"Tidak ada keharusan makanan dibuat bubur hanya karena pencernaan sedang dalam masa pemulihan," tegas dr. Wirawan, Jumat.

Usai melewati fase kritis, anak idealnya dibimbing kembali pada kebiasaan konsumsi utamanya sehari-hari.

Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., M.Kes., CHt., FISQua, menekankan pentingnya mengembalikan keanekaragaman nutrisi secara utuh tanpa perlu ada pengurangan.

"Kembalikan anak ke pola makan normal sesuai dengan usianya, setelah gejalanya membaik dalam 24 jam ini. Jangan dipantang-pantang," papar dr. Arifin, Senin.

Berikan Porsi Kecil Tapi Sering Walau menu harian biasa sudah diizinkan, daya tampung organ lambung dan usus anak umumnya belum pulih total. Sang buah hati bakal mudah merasa begah atau mual kembali jika dipaksa menuntaskan porsi makanan dalam takaran yang sama sewaktu sehat.

Oleh sebab itu, taktik penyajiannya mesti disesuaikan. Anak tidak boleh dipaksa melahap makanan berukuran besar dalam satu waktu, melainkan takaran porsi tersebut dipecah ke dalam durasi waktu penyajian yang lebih sering.

"Diberikan anak makanan porsi kecil tapi sering, dan kalau bisa dalam kondisi hangat. Hindari makanan-makanan yang dihangatkan ulang," saran dr. Arifin.

Pilih Lauk yang Mudah Dicerna dan Berkuah Sajian lauk pauk yang berkuah sangat dianjurkan bagi anak yang baru saja kehilangan banyak cairan akibat rentetan diare. Pasokan cairan dari olahan masakan akan saling melengkapi peran larutan oralit dalam mengembalikan tingkat hidrasi organ pencernaan.

"Makanan yang mudah dicerna dan mengandung banyak air seperti nasi, kentang, sup ayam, telur rebus yang matang," ucap spesialis anak dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Rizqi Agung Wicaksana, Sp.A, Sabtu.

Adapun bagi anak usia bayi yang masih sangat bergantung pada asupan ASI, frekuensi pemberian ASI justru wajib ditingkatkan. Langkah ini teramat vital guna mempercepat pergantian sel pertahanan tubuh yang hilang sewaktu memerangi patogen.

Pantangan Makanan Selama Masa Pemulihan Meskipun para dokter sangat menganjurkan pengembalian pola konsumsi normal, tetap terdapat beberapa kelompok bahan pangan yang harus dikesampingkan untuk sementara waktu.

Hidangan yang berpotensi memicu keradangan pada dinding usus dilarang diberikan hingga anak benar-benar pulih sepenuhnya.

"Hindari sementara makanan sangat berlemak, terlalu pedas, dan minuman sangat manis bila memperberat gejala," urai dr. Wirawan.

Asupan gula yang berlebih serta sajian yang melewati pemrosesan pabrikan terbukti sanggup mengganggu kembali keseimbangan mikroflora baik di dalam usus.

Selaras dengan hal itu, dr. Arifin mengingatkan para orang tua agar menjauhkan anak dari sumber karbohidrat sederhana maupun minuman berkarbonasi.

Tekstur dan kandungan lapisan tepung pada lauk gorengan juga menuntut daya kerja usus yang jauh lebih keras untuk mengurainya. Oleh sebab itu, dr. Rizqi mengingatkan agar orang tua sedapat mungkin menghindari sajian berbahan tepung terigu, contohnya fried chicken, selama fase penyembuhan masih berjalan.

Terkini