Terima Mahasiswa ITB di Istana, Wapres Gibran Apresiasi Karya Inov

Kamis, 10 September 2026 | 23:04:31 WIB
Wapres Gibran Rakabuming.

JAKARTA - Wakil Presiden Gibran Rakabuming menerima kedatangan lima tim mahasiswa beserta dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di Istana Wapres, Rabu (9/9/2026). Dalam pertemuan tersebut, Wapres mendorong agar tercipta lebih banyak inovasi yang bermanfaat dan bisa digunakan secara luas oleh masyarakat.

Berdasarkan keterangan yang diterima pada Kamis (10/9/2026), Wapres menyampaikan apresiasi tinggi terhadap hasil karya inovasi mahasiswa yang dinilai berpotensi menjawab kebutuhan riil di berbagai sektor industri.

Dosen Teknik Fisika Fakultas Teknologi Industri ITB, Augie Widyotriatmo, menyebutkan bahwa Wapres merespons positif atas seluruh materi pemaparan inovasi dari para mahasiswa.

"Mahasiswa-mahasiswa di sini memberikan paparan terkait dengan inovasi yang telah dikembangkan di Institut Teknologi Bandung, dan Pak Wapres sangat mengapresiasi inovasi yang sudah dikembangkan," ujar Augie.

Augie menambahkan, Wapres meminta agar pengembangan karya tersebut tidak berhenti di taraf penelitian saja, melainkan terus ditingkatkan hingga mempunyai peluang komersialisasi dan pemanfaatan yang lebih besar.

"Arahan dari Pak Wapres untuk terus dikembangkan dan Pak Wapres tetap akan mendukung dengan memberikan akses kepada industri berkaitan," katanya.

Salah satu karya unggulan yang menyedot perhatian Wapres adalah teknologi Eaglesense. Alat ini berpotensi dijadikan instrumen pemantau lingkungan, termasuk untuk mendeteksi perubahan kualitas udara akibat asap yang menjadi penanda awal kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Perwakilan Tim Eaglesense, Jhon Chritabel Fausta Silalahi, menjelaskan bahwa inovasi mereka mengombinasikan drone dengan kitbox sensor yang dilengkapi berbagai perangkat alat pengukur kualitas udara.

Seluruh data yang terakumulasi akan diproses lalu dikirim secara otomatis menuju basis data untuk disajikan pada dasbor pemantauan secara real-time.

Penggunaan drone memudahkan pengumpulan data kondisi udara pada wilayah berarea luas maupun lokasi yang sulit dijangkau. Sementara itu, integrasi sensor dan dasbor mampu memberikan gambaran analisis udara secara presisi dan cepat.

Pengembangan tahap lanjut pada teknologi ini diharapkan sanggup memperkuat sistem pemantauan lingkungan sekaligus mendukung deteksi dini guna mencegah meluasnya karhutla.

Tidak hanya Eaglesense, ada empat tim lainnya yang turut memamerkan temuan mereka. Tim Intv-ML memanfaatkan machine learning untuk menentukan sumur minyak paling optimal dalam pelaksanaan well intervention.

Sementara itu, Concorde Systems menghadirkan sistem manajemen terkomputerisasi untuk mendukung pemeliharaan aset serta alat berat secara efisien.

Pada bidang robotika darat, SIGAP hadir sebagai kendaraan tanpa awak modular yang multifungsi. Alat ini sanggup memelihara green space menggunakan modul pemotong rumput, hingga modul sprayer pupuk dan sensor NPK.

Di samping itu, terdapat Noah AI yang dikembangkan secara khusus untuk membantu memprediksi serta memitigasi potensi bencana banjir.

Melalui pengembangan berkelanjutan dan penyambungan akses ke dunia industri, teknologi modern seperti Eaglesense diharapkan dapat disempurnakan sehingga memberikan sumbangsih nyata dalam upaya pemantauan kualitas udara dan pencegahan bencana.

Terkini