Strategi Pendanaan BTN Tahan Subdebt dan Bidik Sekuritisasi Aset

Kamis, 10 September 2026 | 02:08:02 WIB
Bank BTN.

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) tetap membuka peluang untuk merilis instrumen pendanaan baru guna memperkuat struktur likuiditas serta permodalan perseroan.

Perseroan memilih untuk menahan penerbitan obligasi subordinasi (subdebt) tambahan sembari memantau kebutuhan modal, tetapi bersiap melakukan sekuritisasi aset pada akhir tahun ini.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengungkapkan bahwa arah strategi pendanaan perseroan berbeda dari bank lain karena karakteristik bisnis BTN yang berfokus pada kredit perumahan.

Kondisi tersebut menjadikan porsi kepemilikan surat berharga yang dipegang BTN relatif lebih rendah dibandingkan industri.

“Rasio obligasi kami termasuk SRBI dibanding bank lain memang tidak terlalu besar. Karena BTN heavy di kredit. LDR kami cukup tinggi karena memang bank yang mengabdi untuk menyalurkan kredit perumahan,” ujar Nixon dalam pubex, Kamis (10/9/2026).

Nixon mengimbuhkan, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sangat membantu BTN mengelola likuiditas, mengingat alokasi dana perseroan difokuskan untuk ekspansi kredit perumahan ketimbang investasi surat berharga.

Terkait skema obligasi, Direktur Treasury and International Banking BTN Venda memaparkan bahwa BTN masih menyimpan ruang penerbitan obligasi subordinasi senilai Rp3 triliun dari total plafon Rp5 triliun.

Sebagai catatan, BTN sebelumnya telah merilis obligasi subordinasi dengan nilai Rp2 triliun pada penutupan tahun lalu.

“Dari platform yang kami punya untuk subordinasi sebesar Rp5 triliun, masih ada sisa Rp3 triliun. Tapi memang melihat kebutuhan permodalan BTN, nanti akan kami sesuaikan,” ujarnya.

Venda menilai posisi permodalan BTN saat ini tergolong aman dengan rasio kecukupan modal (CAR) terjaga di kisaran 17 persen hingga 18 persen, sesuai target internal.

Lantaran kondisi permodalan masih solid, BTN memilih tidak tergesa-gesa mengeksekusi penerbitan sisa obligasi subordinasi tersebut.

“Kalau memang kami membutuhkan, kami masih bisa eksekusi untuk subordinasinya. Saat ini masih wait and see,” katanya.

Di sisi lain, BTN tengah mematangkan rencana aksi sekuritisasi setelah sempat vakum dari transaksi tersebut selama dua hingga tiga tahun terakhir.

Langkah ini disiapkan khusus demi menopang pengelolaan likuiditas perseroan secara berkelanjutan.

“Rencananya akhir tahun ini kami akan ada sekuritisasi lagi. Yang sedang berjalan sekarang adalah senior debt untuk managing liquidity,” pungkas Venda.

Terkini