JAKARTA - Bulan Ramadhan selalu menjadi momen spesial bagi keluarga Muslim.
Selain menyiapkan menu sahur dan berbuka, banyak orangtua bertanya-tanya kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan puasa pada anak. Tidak sedikit yang langsung mengajak anak ikut sahur dan berpuasa penuh, meski usianya masih balita.
Padahal, kesiapan anak untuk berpuasa tidak semata soal umur, tetapi juga berkaitan dengan kondisi kesehatan, tumbuh kembang, dan kebutuhan tidur mereka.
Menurut CEO & Founder Tentang Anak, dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH, kesiapan anak sangat dipengaruhi oleh faktor fisik dan perkembangan.
“Yang paling penting kapan anak mulai puasa, harus pastiin pertumbuhan anaknya sesuai dalam tahap ideal dan sehat,” ujar dr. Mesty .
Dengan memahami aspek-aspek ini, orangtua bisa mengenalkan puasa secara bijak dan aman bagi anak.
Memperhatikan Tumbuh Kembang Anak
Sebelum mengenalkan puasa, orangtua sebaiknya memperhatikan status tumbuh kembang anak. Hal ini mencakup berat badan, tinggi badan, serta status gizi yang sesuai dengan usianya. Penilaian ini bisa dilakukan melalui konsultasi dengan dokter atau melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
“Indikator pertumbuhan ideal adalah status gizi baik, berat dan tinggi yang sesuai usianya, serta kenaikan berat sesuai kurva,” jelas dr. Mesty.
Pemantauan kurva pertumbuhan sangat penting karena puasa tidak boleh sampai mengganggu kenaikan berat badan atau perkembangan fisik anak. Dengan memastikan pertumbuhan anak dalam tahap ideal, orangtua bisa memulai latihan puasa secara bertahap.
Usia dan Kebutuhan Tidur Anak
Selain faktor tumbuh kembang, usia anak juga menentukan cara mengenalkan puasa. Untuk anak usia tiga sampai tujuh tahun, dr. Mesty menyarankan agar sahur tidak dilakukan terlalu pagi, seperti pukul 03.00–04.00. Anak pada rentang usia ini masih memerlukan tidur malam yang cukup, sekitar 10 jam, agar tubuh dan otak berkembang optimal.
“Studi menunjukkan, anak usia tiga sampai tujuh tahun yang tidur tanpa terputus selama 10 jam, memiliki kemampuan pemecahan masalah, serta kognitif dan emosi yang lebih baik,” ungkap dr. Mesty.
Selain itu, hormon pertumbuhan yang diproduksi saat tidur lelap pukul 22.00–02.00 sangat penting untuk tinggi badan, perkembangan otak, dan imunitas anak.
Mengorbankan jam tidur untuk sahur terlalu dini dapat memengaruhi kesehatan dan perkembangan anak. Karena itu, orangtua perlu menyesuaikan jadwal sahur dengan kebutuhan tidur anak agar puasa tetap aman dan menyenangkan.
Menentukan Waktu Sahur
Bagi keluarga yang ingin anak berusia tiga sampai tujuh tahun mencoba puasa, dr. Mesty menyarankan agar sahur dilakukan mendekati waktu sarapan. Dengan cara ini, anak tetap mendapatkan tidur yang cukup dan hormon pertumbuhan bekerja optimal.
“Tapi kembali lagi ke nilai keluarga masing-masing. Di usia ini, aku terapkannya sahurnya pas sarapan. Dan puasa semampunya saja sampai lapar banget misalnya,” tambah dr. Mesty. Strategi ini membantu anak beradaptasi dengan puasa tanpa mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Durasi Puasa Bertahap
Setelah anak memasuki usia tujuh tahun, puasa dapat dikenalkan secara bertahap. Orangtua bisa mulai dengan sahur lebih awal dan membatasi durasi puasa sampai waktu tertentu, misalnya hingga shalat dzuhur atau ashar, kemudian secara bertahap menambah durasi puasa.
“Yang penting, dipantau juga kurva pertumbuhan dan berat badannya,” jelas dr. Mesty. Anak usia remaja bisa menjalani puasa seperti orang dewasa, tetapi tetap perlu memperhatikan tidur agar tidak terganggu. Dengan menyesuaikan durasi dan jadwal sahur, anak dapat belajar puasa tanpa risiko kesehatan.
Puasa sebagai Sarana Disiplin
Selain melatih fisik, Ramadhan juga dapat menjadi momen untuk mengajarkan disiplin pada anak. Salah satunya melalui pengaturan rutinitas tidur yang konsisten.
“Mulai jalankan rutinitas tidur, mulai dari baca buku bersama hingga pijat untuk membantu tidur yang nyenyak,” jelas dr. Mesty.
Dengan tidur cukup dan berkualitas, anak dapat bangun sahur dengan kondisi segar dan fokus menjalani aktivitas harian, termasuk sekolah.
Rutinitas sebelum tidur tidak hanya menjaga kualitas tidur, tetapi juga membangun kebiasaan disiplin yang bermanfaat dalam jangka panjang.
Mengenalkan Puasa Secara Halus
Pengenalan puasa sebaiknya dilakukan secara alami. Anak belajar melalui pengamatan dan rasa ingin tahu. Orangtua bisa menjadi contoh dengan berpuasa terlebih dahulu, sehingga anak terdorong mencoba sendiri.
“Caranya dengan kita puasa terlebih dahulu, beribadah. Anak pasti akan bertanya. Di situlah komunikasi dan pemahaman bisa masuk secara halus,” ujar dr. Mesty. Dengan pendekatan ini, anak tidak merasa dipaksa, melainkan penasaran untuk mencoba sendiri.
Pengalaman dr. Mesty menunjukkan bahwa anak cenderung minta mencoba puasa setelah melihat orangtuanya melakukannya. Pengenalan yang ringan dan tanpa tekanan membantu anak memahami makna puasa secara bertahap.
Menjaga Fokus pada Kesehatan
Prioritas utama dalam mengenalkan puasa tetap pada kesehatan dan pertumbuhan anak. Dengan memastikan status gizi baik, kurva pertumbuhan terpantau, dan kebutuhan tidur terpenuhi, orangtua dapat mengenalkan puasa secara aman sesuai tahap perkembangan.
Pendekatan ini tidak hanya melindungi fisik dan perkembangan kognitif anak, tetapi juga membangun kebiasaan disiplin, kesadaran diri, dan pemahaman religius secara bertahap. Ramadhan pun menjadi pengalaman yang positif bagi seluruh anggota keluarga.